
Sikka-Dampak dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2025 lalu masih dirasakan warga Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Debu dari erupsi ini mengancam mata pencaharian para petani tembakau di desa tersebut.
Abu vulkanik yang terbawa angin menutupi areal pertanian dan menyebabkan kerusakan signifikan pada tanaman tembakau yang sedang dalam masa pertumbuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alosius Genimus, salah satu petani tembakau, Desa Takaplager, mengungkapkan bahwa sejak abu erupsi turun dahsyat pada 17 Juni 2025, kondisi tanaman tembakau miliknya berubah drastis.

“Daun-daun tembakau jadi rusak, menguning, dan cepat kering. Kami sudah semprot dengan air beberapa kali, tapi tidak bisa bersih. Kami khawatir gagal panen total. Kami harap hujan, tapi sampai hari ini tidak ada hujan turun,” ujar Alosius saat ditemui di lahannya di Kampung Napun Kabor, Rabu (03/07/2025).
Menurut Alosius, musim tanam tembakau tahun ini adalah harapan besar bagi petani setelah musim kemarau sebelumnya tidak menentu. Namun, ancaman erupsi gunung berapi membuat mereka kembali pada ketidakpastian ekonomi.
Apalagi tanaman tembaku yang rusak terkena debu erupsi gunung tidak dapat dijadikan sebagai bibit untuk musim tanam tahun berikutnya. Kondisi ini makin mempersulit pihaknya sebagai petani tembakau dalam memperoleh bibit.
Dikatakan Alosius, tembakau yang setelah dipanen biasanya dirajang lalu dijual dalam bentuk bantalan (kle) dengan harga satu bantalan Rp 100.000 dijual di Pasar Nita.
Penyuluh pertanian Desa Takaplager, Petrus Oktavianus Nura mengatakan, setelah erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, dirinya langsung ke desa dan bertemu dengan petani tembakau di Kelompok Tani “Tani Nabi”.

“Saya bertemu dengan petani Pak Winto, kami memantau langsung dampak dari debu erupsi gunung, dampak langsung ke produktivitas tanaman. Tanaman berubah warna dari hijau ke bercak-bercak kuning kecoklatan,” ungkapnya.
Lanjutnya, Kondisi tanaman tembakau berada di lahan kurang lebih di lahan 8 hektar yang diusahakan oleh Kelompok Tani “Tani Nabi” dan Kelompok Tani Kabor Jaya.
Ia juga mengatakan, debu juga mempengaruhi rasa tembakau yang dijual sehingga mempengaruhi pendapatan petani.
Sementara itu, Pj Kepala Desa Takaplager, Hendrikus Raga, membenarkan bahwa hampir semua lahan tembakau milik warga terdampak abu vulkanik.
Menurutnya, lahan tembakau yang berada di wilayah perbukitan dan dataran tinggi Desa Takaplager terdampak langsung karena berada di jalur sebaran abu vulkanik.
“Kami sementara data kerusakan di Kampung Napun Kabor, dan sedang menyusun laporan resmi untuk disampaikan ke pemerintah kecamatan dan kabupaten. Dampaknya nyata membuat tembakau gagal panen tahun ini,” ujar Hendrikus Raga.










