
Sikka-Pagi itu, Marselus Solo bangun lebih awal dari biasanya. Lansia berusia 72 tahun itu bangun tidur tepat pukul 04.00 WITA. Ia segera menyiapkan gerobak dan menaruhnya standby di depan rumah.
Beberapa kresek yang berukuran besarpun diletakan dengan rapih di dalam gerobak. Sementara di dapur, istrinya, Susana berusia 74 tahun tengah menyiapkan sarapan pagi.
Setelah makan dan menyeruput teh beberapa kali, keduanya bergegas meninggalkan rumah dan menuju lapangan Kota Baru-Maumere, berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski penglihatan keduanya mulai kabur ditambah suasana pagi itu belum begitu terang, langkah kakinya dipercepat.
“Kami berdua kawatir kalau sampai di lapangan Kota Baru orang sudah duluan pilih sampah,” kata Marselus saat ditemui di lapangan Kota Baru, Minggu, 20 September 2025.
Pasutri lansia yang tinggal di belakang Hotel Gardena, Kelurahan Beru, kecamatan Alok Timur itu
adalah pemungut sampah. Pagi itu keduanya memungut sampah dari gelaran Festival Jelajah Maumere untuk dijadikan sumber penghasilan.
Sampah yang dicari berupa botol-botol bekas air minum mineral, gelas plastik, kardus dan jenis sampah lainnya yang bisa dijual.
“Ini memang sampah, tetapi bagi kami ini adalah rezeki,” kata Susana sembari memungut beberapa botol plastik dan diletakan di dalam kresek berwarna merah.
Susana mengungkapkan, selama empat hari kegiatan FJM, ia dan suaminya mendapatkan hasil yang menurutnya cukup.

“Banyak sekali sebaran sampah di dalam lapangan maupun di jalan raya sekitar lapangan ini. Biasanya untuk bisa dapat satu sampai dua karung itu butuh dua tiga jam. Tetapi kali ini tidak sampai satu jam sudah lumayan. Hanya tenaga kami saja yang tidak mampu,” ujar Marselus.
Kata dia, mereka harus beradu cepat dengan pemungut sampah lainnya yang notabene adalah anak-anak dan ibu-ibu yang gesit.
“Kalau lambat tidak dapat,” katanya.
Ia mengaku, sampah plastik yang dipungutnya itu akan dipilah sesuai jenisnya lalu di isi di karung dan di jual. Satu kilogram gelas plastik maupun botol air mineral dijual dengan harga Rp4000 sedangkan satu kilogram kardus harganya Rp1400.
“Selama festival ini kami dapat kurang lebih satu juta rupiah. Ini cukup untuk beli beras, isi pulsa listrik, beli sabun mandi dan kebutuhan lainnya.”
Marselus berkata, ia dan istrinya jarang mendapatkan uang sebesar itu. Keduanya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengumpulkan sampah dan rongsokan.
“Kadang satu hari kami hanya dapat setengah karung saja. Itu untuk makan saja tidak cukup. Tetapi kali ini kami bersyukur karena hasilnya bisa untuk penuhi kebutuhan kami beberapa hari kedepan.
Marselus mengungkapkan, ia dan istrinya sering mengumpulkan sisa sampah plastik di gedung Sikka Convention Center (SCC) setelah acara nikah atau hajatan lainnya yang digelar di sana.
“Tetapi kalau di sepanjang jalan, ya kadang pilih kadang tidak, karena fisik tidak mampu.”
Penulis: Mia Margaretha Holo.
Editor:Redaksi.










