Inovasi Farmasi dan Semangat Generasi Muda Menuju SDGs 2045

- Reporter

Minggu, 9 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hildegardis Gracelina Owon (Mahasiswa Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya).

“Di tangan generasi muda, kesehatan bukan sekadar wacana,

tetapi tindakan nyata yang menyalakan harapan untuk masa depan bangsa.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia sedang melangkah menuju Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita besar yang tidak hanya menargetkan kemajuan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks ini, Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi arah dan kompas global yang menuntun setiap langkah pembangunan bangsa. Salah satu aspek penting dalam pencapaian SDGs adalah bidang kesehatan, di mana peran inovasi farmasi dan generasi muda menjadi ujung tombak dalam menciptakan sistem kesehatan yang inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan.

Generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa dari kreativitas, semangat, hingga kemampuan beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Dalam dunia farmasi, potensi ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk inovasi, seperti pengembangan obat berbasis bahan alam Indonesia, teknologi farmasi digital, hingga riset yang berfokus pada efisiensi distribusi dan keamanan obat.

Lebih dari sekadar penerus bangsa, generasi muda adalah penggerak perubahan. Mereka mampu menjembatani ilmu dan aksi nyata dengan cara berpikir kritis dan kolaboratif. Melalui komunitas, penelitian, dan program pengabdian masyarakat, mahasiswa farmasi dan tenaga kesehatan muda telah menunjukkan kontribusi aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan obat yang rasional serta gaya hidup sehat yang mendukung SDGs poin ke-3, yaitu Good Health and Well-being.

Perkembangan inovasi di bidang farmasi tidak hanya terbatas pada penciptaan obat baru, tetapi juga pada sistem pelayanan dan distribusi obat yang efektif. Digitalisasi di bidang farmasi seperti penggunaan artificial intelligence dalam formulasi obat, telepharmacy, hingga sistem logistik cerdas menjadi kunci dalam mempercepat pelayanan kesehatan di era modern.

Selain itu, penggunaan bahan alam lokal sebagai sumber bahan baku obat tradisional juga menjadi inovasi penting. Indonesia, sebagai negara megabiodiversitas, menyimpan ribuan tanaman berkhasiat yang dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka. Pengembangan ini tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendukung perekonomian nasional dan pelestarian alam, sejalan dengan SDGs poin ke-9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) dan poin ke-15 (Life on Land).

Generasi muda tidak boleh berhenti pada ide, tetapi harus berani melangkah menuju aksi. Contohnya, mahasiswa farmasi yang mengembangkan smart apps untuk edukasi obat, inovasi biodegradable packaging untuk mengurangi limbah farmasi, hingga penelitian herbal yang terstandar ilmiah.

Selain di dunia akademik, aksi nyata juga bisa diwujudkan melalui kegiatan sosial, seperti kampanye kesehatan di desa, pelatihan penggunaan obat yang benar, serta kolaborasi lintas bidang untuk menciptakan solusi kesehatan berkelanjutan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya berperan sebagai peneliti atau mahasiswa, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang menanamkan kesadaran pentingnya kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pencapaian SDGs bukanlah tugas individu, melainkan hasil dari sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor industri. Generasi muda perlu memanfaatkan kolaborasi lintas sektor ini sebagai wadah untuk melahirkan inovasi yang lebih berdampak. Misalnya, kolaborasi antara universitas dengan industri farmasi dapat membuka ruang bagi riset terapan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi juga perlu dilakukan di tingkat internasional, agar generasi muda Indonesia dapat belajar dari praktik baik global dan menerapkannya sesuai konteks lokal. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi, target SDGs 2045 bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.

Kesehatan adalah fondasi dari kemajuan bangsa. Tanpa masyarakat yang sehat, pembangunan tidak akan berjalan berkelanjutan. Karena itu, inovasi farmasi menjadi salah satu kunci penting untuk mewujudkan SDGs 2045. Dan di balik inovasi itu, berdiri tegak generasi muda  dengan semangat, kreativitas, dan tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada bangsa.

Generasi muda bukan hanya penonton dalam perjalanan menuju Indonesia Emas, melainkan aktor utama yang menciptakan solusi, membangun kesadaran, dan menanamkan nilai keberlanjutan di setiap langkah. Melalui ilmu, inovasi, dan aksi nyata di bidang farmasi, generasi muda Indonesia siap menjadi garda terdepan menuju kesehatan berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045.

Daftar Pustaka

Kementerian PPN/Bappenas. (2020). Roadmap SDGs Indonesia 2020–2030. Jakarta: Bappenas.

World Health Organization (WHO). (2023). Health and Sustainable Development Goals (SDGs).

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Rencana Aksi Nasional SDGs Bidang Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.

United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2024). Laporan Inovasi Farmasi dan Fitofarmaka Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Air Kelapa di Bandara Frans Seda dan Mimpi Besar yang Tak Boleh Transit
Trenggono Antar Rp 22 Miliar untuk Sikka
Nyai Ontosoroh di Bawah Lampu Disko: Sebuah Gugatan dari Sikka
Pena yang Patah: Suara Sunyi dari NTT
​Digitalisasi NTT Mart: Mengubah Slogan “Beli NTT” dan “Beta NTT” Menjadi Kedaulatan Ekonomi
Moke (Warisan) Sikka: Merajut Ekonomi Lokal Dengan Kepastian Hukum, Oleh; Gregorius Cristison Bertholomeus, SH., MH
Aktivisme Tanpa Etika: Erosi Intelektualitas dan Kekacauan Demokrasi Kampus
Nasib Petani Moke Ditengah Ketatnya Regulasi, Oleh: Marcelus Moses Parera,SH.,MH
Berita ini 147 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 03:25 WITA

Air Kelapa di Bandara Frans Seda dan Mimpi Besar yang Tak Boleh Transit

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:33 WITA

Trenggono Antar Rp 22 Miliar untuk Sikka

Senin, 23 Februari 2026 - 04:22 WITA

Nyai Ontosoroh di Bawah Lampu Disko: Sebuah Gugatan dari Sikka

Kamis, 5 Februari 2026 - 09:01 WITA

Pena yang Patah: Suara Sunyi dari NTT

Jumat, 30 Januari 2026 - 02:16 WITA

​Digitalisasi NTT Mart: Mengubah Slogan “Beli NTT” dan “Beta NTT” Menjadi Kedaulatan Ekonomi

Berita Terbaru