MAUMERE -TAJUKNTT-Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menunjukkan progres infrastruktur yang masif. Hingga akhir Februari 2026, tercatat sebanyak 16 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah aktif beroperasi penuh, disusul dengan kesiapan operasional sejumlah unit di wilayah pelosok.
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Sikka, Egenius Djara, menjelaskan bahwa selain 16 unit yang sudah berjalan, saat ini terdapat 5 SPPG Terpencil yang telah selesai tahap appraisal dan akan siap beroperasi untuk menjangkau wilayah dengan akses sulit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Fokus kami adalah memastikan pemerataan akses gizi. Saat ini 16 SPPG sudah melayani masyarakat, dan dalam waktu dekat 5 SPPG di wilayah terpencil akan segera beroperasi. Mayoritas unit ini dikelola secara kolaboratif oleh mitra masyarakat dan yayasan setempat,” ujar Egenius dalam wawancara kepada media ini, Kamis (26/2/2026) siang.
Egenius menambahkan bahwa pada bulan Maret mendatang, kapasitas layanan akan kembali meningkat dengan adanya satu tambahan SPPG yang siap beroperasi secara penuh. Unit baru ini diproyeksikan akan melayani tambahan 3.019 penerima manfaat.

Selain itu, progres pembangunan infrastruktur lainnya terus digenjot, di antaranya, 8 SPPG Aglomerasi: Saat ini dalam proses pembangunan fisik, dan SPPG Terpencil lainnya, masih dalam tahap konstruksi untuk memastikan seluruh titik di Kabupaten Sikka terjangkau layanan MBG.
Keberadaan 16 SPPG yang sudah aktif saat ini telah berhasil melayani total 46.449 penerima manfaat.
“Operasional belasan SPPG ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal. Hingga saat ini, program MBG di Sikka telah menyerap 815 tenaga kerja.
Ia mengatakan, para pekerja tersebut menempati posisi strategis mulai dari Kepala SPPG, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, Koordinator Lapangan, juru masak, hingga petugas keamanan dan distribusi. Selain itu, terdapat 287 kader yang diperbantukan secara khusus untuk distribusi di titik-titik Posyandu,” ungkapnya.
Dari sisi kemitraan ekonomi, program ini telah merangkul 129 suplier lokal.
“Kami melibatkan pelaku UMKM, petani, kelompok tani, koperasi, BUMDES, hingga pedagang pasar perorangan sebagai penyedia bahan baku. Dengan beroperasinya SPPG hingga ke wilayah terpencil, ekonomi di desa-desa juga akan ikut bergerak,” pungkas Egenius.








