MAUMERE-TAJUKNTT- Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatatkan progres yang luar biasa hingga penghujung Februari 2026. Program yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia ini tidak hanya berhasil menjangkau puluhan ribu jiwa, tetapi juga mulai menggerakkan roda ekonomi lokal secara masif melalui pengoperasian belasan satuan pelayanan.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Sikka, Egenius Djara, mengungkapkan bahwa hingga akhir Februari 2026, tercatat sebanyak 46.449 orang telah menjadi penerima manfaat aktif dari program ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perkembangan di Kabupaten Sikka menunjukkan tren yang sangat signifikan. Kami tidak hanya bicara soal pemberian makan, tapi soal bagaimana ekosistem gizi ini terbentuk dari hulu ke hilir di seluruh wilayah Sikka,” ujar Egenius saat diwawancarai media ini di Maumere, Kamis (26/2/2026) siang.

Dikatakan Egen, demikian ia disapa, data menunjukkan bahwa penerima manfaat didominasi oleh sektor pendidikan, mulai dari pendidikan umum hingga keagamaan. Namun, program ini juga menyentuh kelompok krusial dalam pencegahan stunting, yakni balita dan ibu hamil.
Ia merincikan, berdasarkan data resmi SPPG Kabupaten Sikka, penerima manfaat adalah sebagai berikut:
- Pendidikan Dasar & Menengah: SD (13.922), SMP (8.040), dan SMA/SMK (12.388).
- Pendidikan Anak Usia Dini: PAUD/TK (3.282) dan RA (169).
- Pendidikan Keagamaan: MIS (630), MI (280), MTS (104), dan Seminari (251).
- Pendidikan Khusus: SLB (488).
- Tenaga Pendidik: Guru dan Tenaga Kependidikan sebanyak 3.917 orang.
- Kelompok Rentan: Balita (2.003), Ibu Hamil/Bumil (360), dan Ibu Menyusui/Busui (615).
“Kami memastikan setiap elemen, termasuk para guru yang membimbing anak-anak kita, juga mendapatkan perhatian gizi yang sama,” tambah Egenius.
Multiplier Effect: Lapangan Kerja dan Kemitraan Lokal
Dijelaskan Egenius Djara, keberhasilan jangkauan ini didukung oleh kesiapan infrastruktur layanan yang terus bertumbuh. Hingga Februari 2026, terdapat 16 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah aktif beroperasi di berbagai titik. Menurutnya, mayoritas pengelolaan SPPG ini melibatkan kemitraan aktif dengan masyarakat lokal dan yayasan.
Egenius memaparkan rencana ekspansi besar-besaran yang akan dilakukan pada bulan mendatang. “Bulan Maret nanti, satu lagi SPPG siap beroperasi untuk melayani tambahan 3.019 penerima manfaat. Selain itu, kami sedang mengawal pembangunan 8 SPPG Aglomerasi,” jelasnya.

Tidak berhenti di situ, perhatian khusus diberikan pada wilayah geografis yang sulit. Saat ini, terdapat 5 SPPG Terpencil yang sudah selesai melalui proses appraisal dan segera beroperasi. Beberapa titik SPPG Terpencil lainnya pun kini sedang dalam tahap konstruksi fisik.
Egenius Djara menuturkan, salah satu dampak paling nyata dari Program MBG di Sikka adalah penyerapan tenaga kerja lokal yang mencapai 815 orang. Para pekerja ini mengisi berbagai posisi strategis, mulai dari Kepala SPPG, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, Koordinator Lapangan, hingga tenaga operasional seperti juru masak, petugas distribusi, kebersihan, dan keamanan.
Selain tenaga kerja formal, program ini juga memberdayakan 287 kader di lapangan untuk membantu proses distribusi makanan di posyandu-posyandu.
“Dari sisi ekonomi kerakyatan, tercatat sebanyak 129 suplier lokal telah menjadi mitra penyedia bahan baku. Rantai pasok ini melibatkan pelaku UMKM, petani perorangan, kelompok tani, koperasi, BUMDES, hingga pedagang pasar tradisional,” ungkapnya.
“Ini adalah bukti bahwa MBG bukan sekadar program sosial, tapi juga program ekonomi. Uang berputar di Sikka, diserap oleh petani kita, dikelola oleh tenaga kerja kita, dan dinikmati oleh anak-anak kita. Kami optimis Kabupaten Sikka bisa menjadi role model nasional dalam implementasi MBG,” tutup Egenius Djara.








