MAUMERE, TAJUKNTT– Maraknya kasus bunuh diri di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Sikka, menuai keprihatinan serius dari kalangan medis. Fenomena yang terjadi berulang ini dinilai sebagai alarm serius yang menunjukkan urgensi penguatan literasi kesehatan mental di tengah masyarakat.
Dokter spesialis kejiwaan di RSUD TC Hillers Maumere, dr. Petrus Agustinus Seda Sega, MM, Sp.KJ, menegaskan bahwa tingginya angka kejadian ini menuntut adanya langkah konkret berupa edukasi kesehatan jiwa sejak dini.
“Saya sangat prihatin, sedih. Ini semakin menegaskan bahwa pendidikan kesehatan jiwa itu sangat-sangat penting dan harus dimulai sejak usia dini. Orang harus mengenal apa itu kesehatan jiwa, karena bunuh diri adalah salah satu gejala gangguan jiwa yang berat,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (13/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam dunia kedokteran, dr. Petrus menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian yang sangat serius. Bahkan, tingkat fatalitasnya disebut sebagai penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit keganasan atau kanker.
Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr. Petrus memaparkan bahwa mayoritas kasus bunuh diri tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berakar pada kondisi klinis kejiwaan.
“Sekitar 70 persen kasus bunuh diri disebabkan oleh episode depresi. Selain itu, ada juga skizofrenia paranoid, reaksi stres akut, gangguan kepribadian dan emosional, gangguan organik, hingga retardasi mental. Jadi semua kasus bunuh diri itu pasti berkaitan dengan gangguan jiwa,” jelasnya.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023 turut memperkuat kondisi darurat ini. Tercatat sekitar 700 hingga 800 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya di Indonesia, atau rata-rata 2 hingga 3 orang per hari.
Bahaya Copycat Suicide di Era Digital
Meski angkanya mengkhawatirkan, dr. Petrus menekankan bahwa tindakan bunuh diri sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat memiliki literasi yang cukup untuk mengenali tanda-tandanya.
“Orang yang ingin melakukan bunuh diri biasanya memperlihatkan tanda-tanda. Kalau kita memahami kesehatan jiwa, kita bisa mendeteksi lebih awal dan mencegahnya,” katanya.
Ia juga menguraikan beberapa faktor risiko yang memperbesar peluang seseorang melakukan tindakan fatal tersebut, di antaranya, kehilangan kasih sayang atau hidup dalam kesendirian, pola asuh masa kecil yang buruk, tekanan ekonomi atau kehilangan pekerjaan serta riwayat penyakit kronis yang tak kunjung sembuh.
Dr. Petrus juga menaruh perhatian khusus pada pengaruh teknologi dan pemberitaan. Ia memperingatkan tentang fenomena copycat suicide atau bunuh diri yang terinspirasi dari kasus yang pernah dibaca atau dilihat sebelumnya.
“Ketika seseorang melihat atau membaca kasus bunuh diri, ada kemungkinan dia merasa senasib dan terdorong melakukan hal yang sama. Ini yang disebut copycat suicide. Karena itu edukasi kesehatan mental sangat penting, kalau tidak akan terus muncul kasus berikutnya,” tegasnya.
Secara khusus di Kabupaten Sikka, dr. Petrus membeberkan fakta bahwa kasus percobaan bunuh diri telah menjadi kejadian rutin yang ditanganinya secara medis.
“Di Sikka tercatat setiap bulan ada satu kasus percobaan bunuh diri yang saya tangani di rumah sakit. Sayangnya, beberapa di antaranya sudah datang dalam kondisi meninggal dunia,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Menutup keterangannya, dr. Petrus mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah untuk bersinergi meningkatkan literasi kesehatan mental sebagai garda terdepan pencegahan kasus bunuh diri di masa depan.
Reporter: Faidin
Editor: Redaksi.










