MAUMERE-Dinas Sosial Kabupaten Sikka menghadapi tantangan dalam melakukan pendataan jumlah pengungsi di posko pengungsian terpusat di Gelora Samador Maumere. Pasalnya, sebagian warga yang mengungsi tidak menetap sepanjang waktu di lokasi pengungsian.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Kristian Amstrong mengatakan, sejak awal warga yang merasa tidak nyaman berada di rumah dipersilakan mengungsi ke Gelora Samador berdasarkan imbauan Bupati Sikka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Imbauan tersebut tidak hanya ditujukan kepada warga di wilayah perkotaan, tetapi juga masyarakat di wilayah lain yang merasa membutuhkan tempat pengungsian.
“Di awal itu hanya 820 jiwa. Dari 820 jiwa ini, hari kedua berkembang 1.200,” ujar Plt. Kadis Sosial Sikka, Jumat (21/8/2026) malam.
Namun, jumlah tersebut tidak bersifat tetap. Setelah dilakukan pendataan pada pagi hari, petugas kembali melakukan pengecekan pada malam hari dan menemukan sebagian warga sudah tidak berada di lokasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendataan pengungsi menjadi tantangan tersendiri karena warga yang tercatat sebagai pengungsi bisa datang, kembali ke rumah, kemudian kembali lagi ke lokasi pengungsian.
“Setelah kita data pagi, setelah itu malam kita cek kembali, mereka tidak ada lagi,” katanya.
Untuk mengantisipasi perubahan jumlah tersebut, Dinas Sosial menempatkan petugas di setiap posko dan tenda pengungsian. Petugas tersebut bertugas mencatat kehadiran warga sehingga data pengungsi dapat terus diperbarui.
“Di setiap posko, di setiap tenda camp, kami punya orang juga untuk mendata terkait dengan kehadiran dari para pengungsi ini,” jelasnya.
Berdasarkan data yang masih tercatat hingga saat ini, jumlah pengungsi yang menetap atau terdata di Gelora Samador berada di kisaran 1.203 orang.
Namun, jumlah warga yang harus dilayani konsumsi setiap hari lebih besar karena adanya pengungsi yang keluar-masuk lokasi, ditambah petugas dan unsur keamanan yang juga berada di lokasi.
Ia menyebut, untuk kebutuhan konsumsi, Dinas Sosial memperkirakan sekitar 1.500 orang yang perlu disiapkan makanan, bahkan jika ditambah petugas dan unsur keamanan jumlahnya bisa mencapai sekitar 1.700 hingga 1.800 porsi per hari.
“Dengan mereka-mereka yang sering pergi datang, tidak menetap, kalau hitungan kita sekitar 1.500-an untuk kita siapkan makan tiap hari,” ujarnya.
Terkait kebutuhan konsumsi, Plt. Kadis Sosial Sikka memastikan seluruh warga yang berada di tenda pengungsian mendapatkan makanan.
Makanan disediakan tiga kali sehari, yakni sarapan pada pukul 07.00 Wita, makan siang pukul 13.00 Wita, dan makan malam pukul 19.00 Wita.
“Kami pastikan semua yang ada di dalam tenda pengungsi tidak ada yang satu terlewatkan untuk tidak makan. Semua pasti makan,” tegasnya.
Ia juga menanggapi adanya informasi mengenai pengungsi yang membeli makanan di luar lokasi pengungsian.
Menurutnya, hal tersebut tidak berarti makanan yang disediakan pemerintah tidak mencukupi. Pengungsi yang membeli makanan di luar bisa saja memiliki selera berbeda atau tidak berada di lokasi ketika jadwal makan berlangsung.
“Bukan berarti makanan yang disediakan ini kurang lalu mereka tidak makan dan beli makan di luar,” katanya.
Petugas, lanjutnya, juga secara rutin menggunakan pengeras suara untuk memanggil para pengungsi ketika waktu makan tiba.
Jika ada warga yang datang setelah jadwal makan selesai, pihaknya memastikan makanan tetap tersedia dan warga tersebut dapat meminta untuk dilayani.
“Kalau ada yang datang dan menyampaikan, makan itu selalu tersedia,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan, pemerintah berupaya memastikan seluruh pengungsi yang berada di Gelora Samador tetap mendapatkan pelayanan, termasuk kebutuhan konsumsi, meskipun jumlah mereka terus berubah akibat mobilitas warga yang datang, pulang, dan kembali lagi ke lokasi pengungsian.










