MAUMERE-Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka telah menyalurkan sebanyak 205 ribu liter air bersih kepada masyarakat di empat desa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Sikka.
Sekretaris PMI Kabupaten Sikka, Gabriel Ola, mengatakan kondisi kekeringan saat ini cukup dirasakan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisi kekeringan di Kabupaten Sikka sangat dirasakan oleh masyarakat teristimewa ketersediaan air minum bersih. Mereka sangat membutuhkan air minum bersih karena memang saat ini banyak sumber-sumber air mengalami kekeringan,” kata Gabriel Ola, Jumat (14/8/2026) sore.
Menurutnya, PMI Sikka telah melakukan intervensi di sejumlah desa yang mengalami kesulitan air bersih. Namun, kondisi tersebut belum sampai pada kategori darurat karena kekurangan air belum terjadi secara masif di seluruh wilayah Kabupaten Sikka.
“Situasi saat ini memang belum dinyatakan sebagai kategori darurat karena belum begitu masif kekurangan air bersih dan baru beberapa kecamatan di mana PMI Kabupaten Sikka melayani air bersih ini, seperti Kecamatan Magepanda, Kangae, Kewapante,” ujarnya.

Gabriel mengatakan, PMI Sikka akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat direspons.
“Untuk ke depan, PMI akan tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk memastikan kalau ada kebutuhan masyarakat terhadap air bersih maka PMI akan melakukan langkah-langkah untuk melayani air bersih,” katanya.
Saat ini, kata dia, PMI Sikka telah melayani kebutuhan air bersih di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Desa Meken Detung dan Desa Umagera. Ia berharap kerja sama antara pemerintah kabupaten, BPBD Sikka, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan PMI dapat memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
“Dukungan yang diharapkan dari pemerintah untuk PMI adalah pertama koordinasi di antara pemerintah kabupaten, pemerintah kecamatan dan desa. Selain itu, juga dukungan sarana dan prasrana seperti tangki bisa mendukung pelayanan air bersih dimaksud,” ungkapnya.
Selain keterbatasan sarana, Gabriel mengatakan PMI Sikka juga menghadapi kendala pendanaan, khususnya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan dalam mendistribusikan air bersih.
Kata Gabi Ola, selain sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mendukung kegiatan pendistribusian air, hal yang sangat penting adalah PMI Sikka mengalami keterbatasan dana dalam hal ini untuk bahan bakar kendaraan untuk melakukan distribusi.
Karena itu, dana yang diharapkan adalah bantuan dari pemerintah untuk bisa melakukan kegiatan pelayanan air bersih ke depan.
“Memang perlu koordinasi terus menerus dari PMI dan pihak Pemkab Sikka, kecamatan dan pemerintah desa,” ungkapnya.
Pengurus PMI Kabupaten Sikka Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Octavianus Aryo Adhityo, mengatakan operasi distribusi air bersih tersebut merupakan bagian dari Operasi Kekeringan PMI Kabupaten Sikka yang telah berlangsung sejak 28 Juli 2026 dan dijadwalkan berjalan selama 30 hari hingga 28 Agustus 2026.
Menurut Aryo, operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan PMI kepada pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih.
“PMI ingin mendukung pemerintah daerah dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar air bersih masyarakat. Selain itu, dengan adanya air ini juga bisa membantu masyarakat dalam hal kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit turunan dari persoalan air,” kata Aryo, Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan data PMI Kabupaten Sikka per 13 Agustus 2026, sebanyak 205.000 liter air bersih telah didistribusikan melalui 41 rit kendaraan tangki.
Distribusi tersebut menjangkau empat desa di tiga kecamatan, yakni Desa Reroroja di Kecamatan Magepanda, Desa Umagera di Kecamatan Kewapante, serta Desa Watuliwung dan Meken Detung di Kecamatan Kangae.
Dari total distribusi tersebut, PMI mencatat sebanyak 1.355 kepala keluarga atau 4.808 jiwa telah menerima manfaat.
Desa Watuliwung menjadi salah satu wilayah dengan distribusi terbesar, yakni 85.000 liter untuk 334 KK atau 1.092 jiwa. Desa Reroroja menerima 25.000 liter untuk 608 KK atau 2.106 jiwa, Desa Umagera sebanyak 55.000 liter untuk 328 KK atau 1.383 jiwa, dan Desa Meken Detung sebanyak 40.000 liter untuk 85 KK atau 227 jiwa.
Aryo menjelaskan, PMI tidak menetapkan target volume air yang harus disalurkan selama operasi berlangsung. Fokus PMI adalah memastikan pelayanan berjalan selama periode operasi dan bantuan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Tidak ada target sebenarnya. Yang penting kita bisa distribusikan dalam tempo 30 hari. Saat ini jumlah air yang sudah didistribusikan sampai tanggal 13 kemarin sudah 205.000 liter atau 41 rit,” ujarnya.
Kebutuhan air bersih di tengah kondisi kekeringan masih cukup tinggi. PMI Sikka bahkan telah menerima permintaan bantuan dari wilayah lain, termasuk Kecamatan Waigete dan Talibura.

Menurut Aryo, kedua wilayah tersebut juga menjadi perhatian karena terdampak situasi pascaletusan Gunung Lewotobi. PMI masih melakukan pendataan untuk memastikan distribusi bantuan dilakukan secara tepat sasaran.
“Kalau memang ada yang membutuhkan air, itu bisa mengirimkan surat langsung ke PMI Kabupaten Sikka sebelum 28 Agustus,” katanya.
Aryo mengatakan PMI Sikka saat ini bergerak berdasarkan permintaan yang disampaikan masyarakat maupun pemerintah desa.
Dalam pelaksanaan distribusi air bersih, PMI juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi topografi wilayah yang menyulitkan mobilisasi kendaraan tangki.
Selain itu, PMI Sikka saat ini hanya memiliki satu unit mobil tangki yang mendapat dukungan dari PMI Pusat untuk menjalankan operasi tersebut.
Keterbatasan bak komunal di desa-desa juga membuat distribusi air tidak selalu dapat dilakukan secara terpusat.
“Sedikit sekali desa yang memiliki bak komunal, bak yang digunakan oleh masyarakat secara bersama-sama. Sehingga untuk desa-desa yang tidak memiliki bak komunal, mau tidak mau kami melayani dari rumah ke rumah,” jelas Aryo.
Petugas PMI kemudian menyalurkan air ke tandon atau tempat penampungan air yang tersedia di rumah-rumah warga.
Meski menghadapi berbagai kendala, PMI Sikka memastikan operasi distribusi air bersih tetap berjalan hingga 28 Agustus 2026. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus membantu memenuhi kebutuhan air sehari-hari selama musim kekeringan.










