MAUMERE-Posko pengungsian terpusat di Gelora Samador Maumere mulai menggunakan Kartu Kontrol bagi keluarga pengungsi sebagai upaya menyinkronkan data jumlah pengungsi sekaligus memastikan pembagian makanan di dapur umum tepat sasaran.
Penerapan Kartu Kontrol ini dilakukan setelah sebelumnya Dinas Sosial Kabupaten Sikka menghadapi kendala dalam mendata jumlah pengungsi di Gelora Samador. Jumlah warga di lokasi pengungsian berubah antara pagi dan malam karena sebagian pengungsi datang, pulang ke rumah, kemudian kembali lagi ke posko.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Informasi mengenai penggunaan Kartu Kontrol disampaikan Media Center BPBD Kabupaten Sikka pada Sabtu (22/8/2026) pagi.
Dalam informasi tersebut disebutkan, setiap kepala keluarga (KK) yang telah terdata di posko akan mendapatkan Kartu Kontrol berdasarkan rekapitulasi data dari masing-masing tenda.
Kartu tersebut kemudian digunakan setiap kali anggota keluarga mengambil makanan di Dapur Umum (DU).
“Posko Gelora akan mulai menggunakan Kartu Kontrol setiap kali pengambilan makanan,” demikian informasi Media Center BPBD Kabupaten Sikka.
Penerapan kartu ini bertujuan sebagai alat triangulasi data agar jumlah pengungsi yang berada di Gelora Samador dapat diketahui secara lebih jelas.
Selain itu, sistem tersebut diharapkan membantu Dapur Umum menyesuaikan jumlah makanan yang harus disiapkan sehingga tidak mengalami kekurangan maupun kelebihan dalam penyediaan konsumsi.
Data Pengungsi Berubah antara Pagi dan Malam
Sebelumnya, Plt. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Kristian Amstrong, mengakui adanya tantangan dalam pendataan pengungsi di Gelora Samador.
Menurut Kristian, pada awal pengungsian jumlah warga yang tercatat sekitar 820 orang. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 1.200 orang pada hari berikutnya.
“Di awal itu hanya 820 jiwa. Dari 820 jiwa ini, hari kedua berkembang 1.200,” ujar Kristian, Jumat (21/8/2026) malam.
Namun, jumlah tersebut tidak bersifat tetap. Petugas menemukan adanya perbedaan jumlah ketika pendataan dilakukan pada pagi dan malam hari.
“Setelah kita data pagi, setelah itu malam kita cek kembali, mereka tidak ada lagi,” katanya.
Kondisi tersebut terjadi karena sebagian warga tidak menetap sepanjang waktu di lokasi pengungsian. Warga bisa datang ke Gelora Samador, kembali ke rumah, lalu kembali lagi ke posko.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, Dinas Sosial menempatkan petugas di setiap posko dan tenda pengungsian untuk mencatat kehadiran warga.
Berdasarkan data yang sebelumnya disampaikan Dinas Sosial, jumlah pengungsi yang tercatat di Gelora Samador sekitar 1.203 orang.
Namun, kebutuhan konsumsi diperkirakan lebih besar karena adanya pengungsi yang keluar-masuk lokasi. Dinas Sosial memperkirakan sekitar 1.500 orang perlu disiapkan makanan setiap hari.
Jika ditambah petugas dan unsur keamanan yang berada di lokasi, kebutuhan makanan dapat mencapai sekitar 1.700 hingga 1.800 porsi per hari.
Dengan penerapan Kartu Kontrol, setiap KK yang telah terdata memiliki kartu yang menjadi bagian dari mekanisme pencatatan saat pengambilan makanan.
Petugas BPBD akan bersiaga saat pembagian makanan untuk melakukan pencatatan sekaligus menyinkronkan data.
“Tujuannya sebagai alat triangulasi data agar kita mulai mendapatkan angka yang jelas soal jumlah pengungsi dan memastikan Dapur Umum (DU) tidak kekurangan atau kelebihan menyiapkan makan,” demikian keterangan Media Center BPBD Sikka.
Sebelumnya, Dinas Sosial memastikan makanan bagi pengungsi disediakan tiga kali sehari, yakni sarapan pukul 07.00 Wita, makan siang pukul 13.00 Wita, dan makan malam pukul 19.00 Wita.
Dinas Sosial juga memastikan warga yang datang setelah jadwal makan tetap dapat memperoleh makanan karena makanan disiapkan dan tersedia bagi pengungsi.










