MAUMERE-tajukntt, Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Sikka menilai, asusmsi dasar kebijakan ekonomi makro yang diproyeksikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka tidak mencerminkan konektifitas dengan rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Proritas Plafon Anggaran (KUA-PPAS) Tahun 2027.
Ketua Fraksi Golkar, Antonius Hendrikus Rebu (Hengky Rebu) dalam rapat paripurna dengan agenda jawaban pemerintah atas pendapat fraksi terhadap Rancangan KUA-PPAS 2027 di Gedung DPRD Kabupaten Sikka, Senin, 03/08/2026 mengatakan, dari gambaran asumsi dasar ekonomi makro yang digambarkan pemerintah menandakan bahwa Kabupaten Sikka dalam keadaan applicable.
Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut menggambarkan bahwa model, kebijakan atau aturan keuangan bersifat dapat diterapkan, relevan, dan bisa diwujudkan secara nyata dalam situasi operasional yang sedang berjalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemkab Sikka kata Hengky Rebu, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi makro tahun 2027 sebesar 5,06 % meningkat dibanding tahun 2026 sebesar 4,6 %. Sedangkan inflasi tahun 2027 diproyeksikan di angka 1,2 sampai 1,3 %.
Dengan asumsi proyeksi pertumbuhan ekonomi makro yang meningkat dan inflasi yang rata-rata sama dengan tahun 2026 kata Hengky Rebu, mestinya target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2027 juga harus naik. Namun sebaliknya, Pemkab Sikka malah menurunkan target PAD, bahkan dibawah target PAD tahun 2026.
Sebagai gambaran kata Hengky Rebu, dalam APBD induk tahun 2026, Pemkab Sikka merencanakan PAD sebesar Rp.124 miliar lebih dengan laju inflasi 3 %. Selanjutnya dalam Rancangan Perubahan KUA-PPAS tahun 2026 (APBD Perubahan), target PAD dinaikan menjadi Rp.128 miliar lebih dengan inflasi 1,2-1,3 persen. Tetapi dalam Rancangan KUA-PPAS tahun 2027 (APBD induk), target PAD direncanakan hanya Rp.123 miliar, menurun disbanding tahun 2026.
Hengky Rebu menegaskan, sesuai dengan 3 model pendekatan yang digunakan oleh Pemkab Sikka, salah satunya yakni model pendekatan Trend dan 7 langkah optimalisasi PAD, pertumbuhan ekonomi makro Kabupaten Sikka menunjukan trend positif.
“Dengan trend positif, Itu artinya target PAD kita juga harus naik, bukan malah turun. Ini ibarat toko yang sedang laris, tetapi karena kasirnya salah catat, maka cash-flownya berkurang,” ujarnya.
Pemkab Sikka kata Hengky Rebu, mestinya tidak perlu kuatir bahwa realisasi PAD tidak sesuai target. Atau jangan pula berasumsi bahwa bila target PAD naik, maka belanja juga akan naik. Sebab asumsi ekonomi makro ini menjadi acuan untuk menetapkan belanja daerah.
“Artinya, sejauh belanja direncanakan tidak melampaui batas maksimal cadangan (Acress) 2,5 %, itu wajar wajar saja,” jelasnya berharap agar Pemkab Sikka juga bisa mengoptimalkan potensi ekonomi daerah untuk mengoptimalkan PAD.
Sesuai Kondisi Perekonomian Kabupaten Sikka
Sementara itu, Pemkab Sikka dalam jawabannya yang dibacakan oleh Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago menjelaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 % ditetapkan berdasarkan proyeksi kondisi perekonomian daerah, capaian kinerja ekonomi tahun 2021-2025.
Dikatakan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka statistik, tetapi juga harus mampu menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pemerataan hasil pembangunan dan kemampuan keuangan daerah sesuai dengan prinsip realistis dan terukur.
Meskipun indikator ekonomi makro menunjukan trend postif, namun tidak serta merta diikuti dengan peningkatan kapasitas fiskal, mengingkat struktur pendapatan Kabupaten Sikka masih didominasi oleh dana transfer pemerintah pusat serta keterbatasan potensi PAD.
Penulis : Vianey
Editor : redaksi
Sumber Berita : ekbis










