MAUMERE, TAJUKNTT-Puskesmas Rawat Inap Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka menjadi salah satu tumpuan utama warga Kecamatan Palue untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Bukan hanya melayani pasien dari wilayah 4 Desa di Kecamatan Palue, puskesmas tersebut juga menjadi pusat koordinasi penanganan dan rujukan pasien dari Puskesmas Tuanggeo sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut di Maumere.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Puskesmas Rawat Inap Palue, Maria Mardiana Ngole, mengatakan selama masa tanggap darurat gempa, sedikitnya 15 pasien yang berkaitan langsung dengan bencana mendapatkan penanganan di Puskesmas Palue.
Dari jumlah tersebut, tujuh pasien harus dirujuk ke Maumere karena mengalami luka yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kalau pasien yang terkait dengan gempa itu, rawat inap itu 15 orang. Dari 15 orang itu, 7 orang dirujuk. Rujukannya 5 orang pakai helikopter, 2 orang pakai rujukan biasa,” kata Maria, Rabu (16/9/2026) pagi di Puskesmas Palue.
Menurut dia, pasien yang dirujuk antara lain mengalami patah tulang, luka pada bagian kepala, serta cedera akibat benturan saat gempa.
“Itu karena ada yang patah tulang, ada yang kepalanya bocor, ada yang karena benturan-benturan itu yang harus segera dirujuk ke Maumere untuk penanganan lebih lanjutnya,” ujarnya.
Lima pasien harus dievakuasi menggunakan helikopter, sedangkan dua lainnya dirujuk melalui jalur biasa.
Selain korban luka akibat gempa, Puskesmas Palue juga menangani pasien dengan penyakit penyerta. Maria menyebut terdapat dua pasien dengan penyakit penyerta yang berasal dari wilayah Rokirole dan Ladolaka.
Pusat Rujukan Kecamatan Palue

Peran Puskesmas Palue menjadi semakin penting karena puskesmas tersebut merupakan pusat rujukan terakhir di Kecamatan Palue sebelum pasien dibawa ke Maumere.
Pasien dari Puskesmas Tuanggeo, terutama yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, terlebih dahulu dikoordinasikan melalui Puskesmas Palue.
“Semua pasien dari Puskesmas Tuanggeo kalau untuk rawat inap dan rujukan terakhirnya ada di sini, baru kami lanjutkan ke Maumere,” jelas Maria.
Bahkan, seluruh pasien yang dirujuk ke Maumere selama penanganan korban gempa berasal dari wilayah kerja Puskesmas Tuanggeo yang terdampak cukup parah.
“Pasien yang dirujuk semua ke Maumere itu semuanya dari Tuanggeo. Semua dari Puskesmas Tuanggeo karena mereka paling terdampak,” katanya.
Untuk kebutuhan obat-obatan, Maria memastikan tidak menjadi persoalan selama masa tanggap darurat. Pasokan obat didukung Dinas Kesehatan dan dibagikan untuk kebutuhan Puskesmas Palue maupun Tuanggeo.
“Kalau obat tidak ada masalah. Karena setiap kali ada kirim relawan dari Dinas, selalu sertakan dengan obat-obatan. Kemudian dari IDI juga selama ini back up kami,” ujarnya.
Tidak Ada Dokter Tetap

Di balik peran penting tersebut, Puskesmas Rawat Inap Palue justru menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan tenaga kesehatan.
Saat ini terdapat 42 tenaga yang aktif di Puskesmas Palue, terdiri dari tenaga PNS, PPPK dan PPPK paruh waktu. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal sebuah puskesmas rawat inap.
Maria menyebut kebutuhan ideal tenaga di Puskesmas Palue berada di kisaran 60 hingga 65 orang.
“Kalau idealnya itu harus sekitar 60-an,” katanya.
Kekurangan paling terasa berada pada tenaga perawat, bidan dan dokter.
Yang paling krusial, Puskesmas Rawat Inap Palue saat ini tidak memiliki dokter tetap.
“Jumlah nakes ada 42, sama sekali tidak ada dokter. Jadi kalau dokter dari Kemenkes ini tanggal 20 September pulang, artinya kami di Puskesmas Palue tidak ada dokter,” ungkap Maria.
Kondisi tersebut membuat konsultasi medis untuk pasien dilakukan dengan dokter di Puskesmas Tuanggeo melalui telepon.
“Kalau ada pasien kami konsulnya ke Tuanggeo,” ujarnya.
Menurut Maria, kondisi kekurangan tenaga membuat perawat dan bidan harus menjalankan pekerjaan rangkap. Mereka tetap harus melayani pasien rawat jalan, tetapi pada saat bersamaan wajib siap menangani pasien rawat inap.
“Jadi double pekerjaannya karena kami kekurangan tenaga,” katanya.
Padahal, sebagai puskesmas rawat inap, pelayanan harus tersedia selama 24 jam, terlepas dari banyak atau sedikitnya pasien.
“Kadang dilihat bahwa kunjungan jumlah kunjungan kurang, tapi statusnya itu yang mewajibkan kami harus siap sedia 24 jam. Pasien ada tidak ada kami harus standby,” jelasnya.
Kekosongan tenaga dokter untuk sementara terbantu dengan kehadiran relawan Kementerian Kesehatan.
Pada gelombang ketiga, sebanyak 16 relawan diterjunkan ke wilayah Palue. Mereka terdiri dari dokter, perawat, bidan dan apoteker.
Namun, karena wilayah Tuanggeo mengalami dampak gempa yang lebih berat, sebagian besar relawan ditempatkan di wilayah tersebut. Puskesmas Palue mendapatkan satu dokter, satu perawat dan satu fisioterapis.
Relawan yang bertugas di Puskesmas Palue untuk sementara menggunakan ruang UGD sebagai tempat menginap. Sementara pelayanan UGD dipindahkan ke tenda.
Penugasan relawan gelombang terakhir tersebut dijadwalkan berakhir pada 20 September 2026.
Artinya, jika tidak ada penambahan tenaga setelah masa penugasan berakhir, Puskesmas Rawat Inap Palue kembali menghadapi kondisi tanpa dokter.
Maria mengatakan kebutuhan tenaga dokter dan tenaga kesehatan di Puskesmas Palue sebenarnya telah diajukan melalui rencana kebutuhan tenaga (renbut).
Menurut dia, Dinas Kesehatan juga telah melakukan pemetaan kebutuhan tenaga untuk kemudian disalurkan ke fasilitas kesehatan yang kekurangan.
“Kemarin juga saya sudah sempat tanya dengan Pak Kabid SDK, katanya sudah dipetakan untuk disalurkan tenaganya,” katanya.
Namun, hingga kini Puskesmas Palue masih menunggu realisasi penambahan tenaga tersebut.
Di tengah keterbatasan itu, pelayanan kesehatan kepada warga tetap berjalan. Maria mengatakan tenaga Puskesmas Palue bahkan turun dari dusun ke dusun untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak gempa. Ia mencontohkan seperti di Kampung Natakuni, Desa Kesokoja dan Natahani di Desa Lidi.
“Kalau mau bilang pelayanan, kami itu dari dusun ke dusun sudah kami layani. Mulai dari Natakuni sampai Ona, sampai Wolondopo-Desa Kesokoja juga sudah kami layani semua,” katanya.
Bagi Maria, keberadaan tenaga Puskesmas Palue dalam penanganan bencana tidak bisa dilepaskan dari pelayanan yang berlangsung sejak hari pertama gempa.
Selain menangani pasien, tenaga puskesmas juga menjadi bagian penting dalam memastikan pasien dari fasilitas kesehatan lain di Palue dapat memperoleh rujukan hingga ke Maumere.
“Kami puskesmas rawat inap, puskesmas yang terakhir koordinasikan semua sebelum rujukan, sebelum diantar ke Maumere kan di sini. Di Puskesmas Palue,” tegasnya.










