JAKARTA-Lebih dari sepekan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, tantangan bagi anak-anak terdampak masih jauh dari selesai. Di tengah kondisi pengungsian dan gempa susulan yang masih terjadi, anak-anak menghadapi berbagai risiko, mulai dari gangguan kesehatan, tekanan psikologis, hingga perlindungan.
Berdasarkan pembaruan situasi hingga Minggu (23/8), BNPB mencatat 161.084 orang masih mengungsi dan 91 orang meninggal dunia akibat gempa. Data KemenPPPA juga menunjukkan bahwa 48 dari korban meninggal yang tercatat sebelumnya merupakan anak dan perempuan dewasa, menunjukkan besarnya dampak bencana terhadap kelompok rentan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keterbatasan selimut, air bersih, sanitasi, dan fasilitas dasar lainnya membuat keluarga, termasuk anak-anak, harus bertahan dalam kondisi pengungsian yang penuh keterbatasan. KPAI melaporkan dua anak yang meninggal dunia setelah mengalami sakit yang diperparah oleh kondisi di pengungsian. Di sisi lain, kepadatan dan terbatasnya fasilitas juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan infeksi kulit.

Selain kondisi fisik, dampak psikologis juga menjadi perhatian. Kehilangan rumah, terganggunya rutinitas, serta berada jauh dari lingkungan yang familiar dapat memengaruhi rasa aman anak. Hingga Minggu (23/8), tercatat 5.688 gempa susulan, yang dapat membuat anak kembali merasa takut dan cemas serta semakin sulit memulihkan rutinitas mereka.
“Kematian anak di lokasi pengungsian adalah alarm keras bagi penanganan darurat bencana ini. Bagi anak – anak, ancaman tidak selesai saat guncangan gempa berakhir. Ketika mereka terpaksa bertahan di tempat pengungsian yang dingin, berimpitan, dan minim air bersih, hak-hak mereka terancam. Penyaluran bantuan dasar yang cepat dan menyeluruh, mulai dari selimut, terpal sebagai alas, pembatas dan penahan angin dingin malam, hingga air bersih harus diprioritaskan,” tegas Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia
Dini menambahkan bahwa krisis sarana dasar di kamp pengungsian juga memperbesar kerentanan fisik dan psikis anak-anak serta perempuan. Kurangnya penerangan di area tenda dan akses toilet yang tidak aman meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender serta ganguan keamanan terhadap anak perempuan. Karena itu, lokasi pengungsian perlu memastikan keamanan, privasi, perlindungan, serta akses yang inklusif bagi anak dan kelompok rentan.
Sejak hari pertama setelah gempa, Plan Indonesia telah mengerahkan 16 anggota Emergency Response Team ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo. Tim melakukan kaji cepat kebutuhan dengan fokus pada air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH), pendidikan dalam situasi darurat, serta perlindungan anak.
Plan Indonesia telah menyalurkan ribuan paket bantuan awal seperti terpal, tikar/matras, selimut, paket kebersihan keluarga, paket kebersihan mentruasi, air siap minum, distribusi air bersih di titik-titik pengungsian juga kegiatan layanan dukungan psikososial bagi anak anak.
“Dalam kondisi darurat, kita perlu memastikan bantuan benar-benar menjawab kebutuhan anak dan keluarga, termasuk kebutuhan yang sering tidak terlihat, seperti rasa aman anak, kebersihan menstruasi bagi remaja perempuan, akses toilet yang aman, dan dukungan psikososial,” ujar Dini.
Plan Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, klaster kemanusiaan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan respons menjangkau kelompok yang paling membutuhkan serta menempatkan kebutuhan, keselamatan, dan hak anak sebagai bagian penting dari setiap tahapan respons dan pemulihan bencana.









