JAKARTA, tajukntt-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar aksi Salib Merah dalam unjuk rasa memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Dalam aksi tersebut, pengurus dan kader PMKRI secara bergantian memikul sebuah kayu salib berukuran besar berwarna merah. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat kecil dan kelompok rentan yang menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi.
Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2026–2028, Yohanes Tola, mengatakan aksi Salib Merah lahir dari ketulusan dan kepedulian sosial kader PMKRI terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Yohanes, salib tersebut menjadi simbol perjuangan non-kekerasan dalam menyikapi persoalan ekonomi, hukum, korupsi, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup.
“Kayu salib ini berat, namun beratnya kayu salib tidak seberapa dibanding beban hidup rakyat kecil hari ini. Ketika hukum bertukar rupa menjadi komoditas dan etika bernegara dilucuti, PMKRI memilih jalan perlawanan non-kekerasan, sebagaimana keteladanan Kristus yang berani memikul penderitaan demi meruntuhkan tembok ketidakadilan,” ujarnya.
Ia menegaskan, aksi tersebut bukan sekadar pertunjukan simbolis di ruang publik, melainkan bentuk perwujudan iman dan tanggung jawab moral kader PMKRI dalam merespons persoalan bangsa.
Yohanes juga mengaitkan gerakan tersebut dengan ajaran sosial Gereja Katolik dalam dokumen Gaudium et Spes, yang menempatkan penderitaan masyarakat miskin sebagai bagian dari keprihatinan umat Kristiani.
Melalui aksi itu, PMKRI menyatakan penolakan terhadap berbagai bentuk perlakuan yang merendahkan martabat manusia, termasuk kebijakan pembangunan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat kecil.
Sementara itu, Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat PMKRI, Natanael Bremana, mengajak seluruh cabang PMKRI di Indonesia untuk menerjemahkan gerakan Salib Merah melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
Menurut Natanael, gerakan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap sesama, khususnya masyarakat yang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan.
“Salib Merah ini murni lahir dari ketulusan dan kepedulian sosial. Ini bukanlah gerakan politik partisan, ini adalah bahasa nurani kami sebagai kader PMKRI untuk berjuang dan terlibat pada yang tertindas oleh kebijakan negara,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PMKRI dapat mengambil bagian dalam gerakan tersebut dengan hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial dan aksi kemanusiaan.
PMKRI menempatkan nilai persaudaraan, pengorbanan, cinta kasih, dan kepedulian terhadap sesama sebagai pesan utama dalam gerakan Salib Merah. (release/PP PMKRI)
Penulis : release
Editor : redaksi










