MAUMERE-Bantuan perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau Smart TV di SDN Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, belum dapat dimanfaatkan akibat ketiadaan akses listrik.
Maria Ayuningsih Larasati, siswi kelas IV SDN Hepang, mengatakan dirinya bersama teman-teman belum menggunakan papan digital tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di kelas karena sekolah mereka belum memiliki pasokan listrik yang memadai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, para siswa masih mengikuti pembelajaran dengan cara konvensional, menggunakan papan tulis seperti yang selama ini dilakukan.
Kondisi tersebut membuat siswa belum bisa merasakan manfaat teknologi pembelajaran digital yang telah tersedia di sekolah mereka.
Kepala SDN Hepang, Paulus Arabaha, membenarkan bahwa perangkat tersebut belum digunakan secara optimal. Menurut dia, sekolah sesekali mengoperasikannya menggunakan generator set (genset), tetapi penggunaannya sangat terbatas karena biaya bahan bakar yang cukup mahal.

“Sepanjang saat ini kami menggunakan genset, tapi sekali-sekali mungkin dalam satu bulan satu kali, untuk istilahnya pemanasan saja,” kata Paulus, Rabu (15/12026) pagi.
Interactive Flat Panel merupakan layar interaktif digital yang mendukung pembelajaran melalui tampilan materi visual, tulisan, gambar, dan konten elektronik. Perangkat ini diharapkan membantu guru menyampaikan materi secara lebih interaktif.
Namun, karena pasokan listrik belum memadai, kegiatan belajar mengajar di SDN Hepang masih mengandalkan papan tulis putih atau whiteboard.
“KBM-nya masih manual, pakai whiteboard. Kalau mau pakai elektrik, kendalanya di listrik saja,” ujar Paulus.
Ia menjelaskan, penggunaan genset selama beberapa jam, mulai pagi hingga siang, dapat menghabiskan biaya bahan bakar hingga ratusan ribu rupiah. Di Dusun Hepang, bahan bakar yang dijual dalam kemasan botol air mineral mencapai Rp 20.000 per botol.

Biaya tersebut membuat sekolah tidak bisa mengoperasikan perangkat digital setiap hari. Akibatnya, fasilitas yang disediakan pemerintah belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menunjang pembelajaran.
Keterbatasan listrik di sekolah tidak terlepas dari kondisi Dusun Hepang yang sebagian besar wilayahnya belum terjangkau jaringan listrik. Dari tiga dusun di Desa Nenbura, hanya Hepang yang sebagian besar warganya belum menikmati layanan listrik secara memadai.
Berdasarkan data pemerintah desa, Dusun Hepang dihuni 159 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa yang menempati 102 rumah. Dari jumlah tersebut, baru 12 rumah yang telah teraliri listrik. Sebagian warga lainnya masih mengandalkan lampu pelita atau perangkat penerangan tenaga surya yang sebagian telah rusak.
Kondisi ini tidak hanya menghambat pemanfaatan teknologi di sekolah, tetapi juga menyulitkan siswa belajar pada malam hari karena keterbatasan penerangan di rumah.
Paulus berharap persoalan listrik di Dusun Hepang mendapat perhatian agar sekolah dapat memanfaatkan perangkat pembelajaran digital secara rutin.
Pengadaan teknologi pendidikan, menurut dia, perlu didukung infrastruktur dasar listrik yang memadai agar manfaatnya benar-benar dirasakan guru dan siswa.
“Harapan saya sebagai kepala sekolah supaya akses pembelajaran lebih maksimal itu paling tidak harus ada listrik. Alangkah baiknya secepatnya, mudah-mudahan pada Natal ini sebagai kado buat masyarakat Dusun Hepang bisa menikmati listrik,” ungkapnya.










