MAUMERE-Saat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, para buruh atau porter di Pelabuhan L. Say Maumere menjadi salah satu kelompok yang berada tepat di titik guncangan paling kuat.
Foto dan video yang merekam momen mereka berusaha menyelamatkan diri di tengah guncangan hebat sempat viral di berbagai media sosial, menarik perhatian banyak orang. Namun di balik perhatian netizen itu, kenyataan yang mereka hadapi pascabencana jauh dari kata baik.
Hingga hari ketujuh pascabencana, Sabtu, 22 Agustus 2026, nasib para porter Pelabuhan L. Say Maumere belum mendapat perhatian serius dari pihak manapun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga orang di antara mereka mengalami luka-luka saat kejadian dan harus berobat dengan biaya sendiri tanpa ada penggantian maupun bantuan pengobatan.
Keadaan mereka masih diliputi rasa trauma mendalam, sementara sebagian lainnya juga menderita cedera ringan hingga berat akibat jatuh dan tertimpa benda-benda saat gempa berlangsung.
“Kami belum menerima bantuan apapun.” demikian diungkapkan Ketua Buruh Pelabuhan L. Say Maumere, Mikael Richardus Sengi, saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (22/8/2026).
Kondisi ekonomi para porter dengan penghasilan pas-pasan kadang juga tidak pasti mereka harus berjuang demi hidup walaupun pascagempa mereka masih trauma dan banyak yang cedera.
“Kami punya penghasilan tidak seberapa kadang juga tidak pasti, harapan kami pemerintah juga perhatikan kami,” Harapnya dengan penuh sedih.
Lebih memprihatinkan, para porter ini juga termasuk warga yang menjadi pengungsi mandiri.Namun hingga kini belum ada satu pun dari mereka yang tercatat dalam data resmi pemerintah sebagai korban terdampak bencana. Tanpa data resmi, pintu bantuan seakan tertutup bagi mereka.
Para buruh pelabuhan ini adalah orang-orang sederhana yang setiap hari mengandalkan tenaga untuk menyambung hidup.









