MAUMERE-Anggota DPR RI Komisi VII, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol., meminta sistem mitigasi bencana di Pelabuhan L. Say Maumere, Kabupaten Sikka, diperkuat menyusul kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores.
Bambang mengatakan, mitigasi bencana di kawasan pelabuhan tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Sistem keselamatan harus disiapkan sejak awal dan diketahui oleh seluruh pengguna jasa pelabuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu disampaikan Bambang saat mengunjungi Pelabuhan L. Say Maumere, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, langkah pertama yang harus diperkuat adalah early warning system atau sistem peringatan dini.
“Mitigasi bencana mulai dari yang pertama adalah early warning system. Jadi bunyi sirine bila terjadi satu ini,” kata Bambang.
Setelah sistem peringatan dini, menurut Bambang, pelabuhan harus memiliki evacuation plan yang jelas. Masyarakat harus mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri, jalur yang digunakan, serta ke mana harus menuju ketika terjadi bencana.

“Yang kedua adalah evacuation plan. Bagaimana cara mengevakuasi mereka, ke mana, bagaimana,” ujarnya.
Tahapan berikutnya adalah menyediakan titik berkumpul atau lokasi aman yang dapat digunakan masyarakat setelah melakukan evakuasi.
Bambang menilai hal tersebut penting karena bencana yang berpotensi terjadi di kawasan pelabuhan cukup beragam, mulai dari gempa bumi, kebakaran hingga tsunami.
“Bencana ada macam-macam, ada gempa, ada kebakaran, ada tsunami karena ini pelabuhannya di pinggir laut,” katanya.
Karena itu, ia meminta Pelindo bersama KSOP memberikan edukasi secara rutin kepada masyarakat dan pengguna jasa pelabuhan mengenai prosedur keselamatan dan evakuasi.
Bambang menilai edukasi tersebut harus dibuat secara sistematis, sebagaimana prosedur keselamatan yang telah diterapkan di kapal.
Selain sistem peringatan dini dan jalur evakuasi, Bambang juga meminta kesiapsiagaan petugas penyelamatan diperkuat. Basarnas, KPLP dan unsur terkait lainnya harus berada dalam kondisi siap ketika terdapat aktivitas kapal di pelabuhan.
“Pada saat ada kapal, tentu Basarnas harus siap. Semua, termasuk KPLP dan sebagainya harus siap,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan berenang bagi petugas pelabuhan. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan dasar yang penting karena petugas bekerja di kawasan yang berhubungan langsung dengan laut.
Bambang berharap evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan Pelabuhan L. Say tidak hanya dilakukan setelah terjadi bencana, tetapi menjadi bagian dari standar operasional yang diterapkan secara berkelanjutan.
Menurut dia, pelabuhan harus mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat, baik dalam kondisi normal maupun ketika terjadi keadaan darurat.
Bambang Haryo juga menyoroti posisi dan konstruksi bangunan terminal penumpang Pelabuhan L. Say Maumere, Kabupaten Sikka, yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Bambang meminta hasil kajian konstruksi terhadap bangunan tersebut dilakukan secara teliti dan segera diselesaikan.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, kajian terhadap kondisi konstruksi Pelabuhan L. Say telah dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kajian tersebut diharapkan dapat menentukan apakah bangunan masih dapat diperbaiki atau harus dibongkar dan dibangun kembali.
“Kalau tidak terus ya langsung dibongkar,” kata Bambang.
Selain kekuatan konstruksi, Bambang menyoroti jarak antara terminal dengan kawasan dermaga. Menurut dia, pembangunan terminal ke depan tidak seharusnya terlalu dekat dengan laut dan struktur dermaga.
Ia mengusulkan agar terdapat ruang yang cukup antara dermaga dan terminal sehingga akses kendaraan tetap tersedia dan bangunan terminal tidak langsung terdampak apabila terjadi kerusakan pada struktur dermaga atau talud.
“Jangan dekat-dekat sama laut. Paling tidak ada jarak sehingga mobil juga bisa lewat di depannya,” ujarnya.
Bambang bahkan mengusulkan jarak antara dermaga dan terminal dapat mencapai sekitar dua hingga tiga kali lebar dermaga, sehingga terdapat ruang yang cukup sebagai buffer keselamatan.
Ia menilai posisi bangunan yang terlalu dekat dengan struktur penahan ombak memiliki risiko tersendiri, terutama ketika terjadi gelombang kuat maupun kerusakan pada talud.
“Kalau ini terjadi longsor, taludnya ini atau penyangganya ini longsor, ambruk, enggak usah ada gempa juga ambruk sendiri,” katanya.
Karena itu, ia meminta hasil kajian teknis tidak hanya melihat dampak gempa terhadap bangunan, tetapi juga memperhitungkan faktor gelombang laut, beban bangunan, kondisi talud, serta aspek keselamatan pengguna pelabuhan.
Bambang mengatakan dirinya akan mendorong agar kajian ITS dilakukan secara teliti dan dapat memberikan rekomendasi yang tepat untuk pembangunan kembali Pelabuhan L. Say.
“Saya akan desak ITS untuk lebih mempercepat dan lebih teliti di dalam melakukan satu kajian,” katanya.
Menurut Bambang, pembangunan kembali fasilitas pelabuhan harus diarahkan pada konstruksi yang lebih aman dan mampu menghadapi berbagai potensi risiko bencana di kawasan pesisir.
Ia juga meminta selama proses evaluasi dan pembangunan berlangsung, Pelindo menyiapkan terminal sementara agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.









