
Sikka-Di balik tubuh yang terbakar matahari dan rutinitas sebagai buruh Pelabuhan L.Say Maumere, Mariono Marson (49) menyimpan tekad besar. Warga RT 02 RW 04 Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka ini memanfaatkan waktu luangnya untuk menanam harapan di atas lahan kosong milik Pemkab Sikka di kawasan El Tari, Maumere.
Lahan gersang yang semula terbengkalai itu kini berubah menjadi kebun produktif dengan sekitar 600 pohon pepaya California dan jenis lainnya yang ditanam berjarak satu meter. Uniknya, Marson merintis kebun ini secara otodidak meski tidak tamat sekolah dasar dan tanpa latar belakang pertanian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya belajar dari pengalaman. Memang saya SD tidak tamat, tapi kalau kita tekun, pasti ada hasil,” ujar Marson saat ditemui di kebunnya, Kamis, 31 Juli 2025.
Dari Pandemi ke Panen Harapan
Kisah ini bermula saat pandemi COVID-19 tahun 2021. Aktivitas di Pelabuhan Lorens Say Maumere menurun drastis. Sebagai buruh bongkar muat di bawah naungan TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat), Marson kerap menganggur dan pendapatannya tak menentu.
Ia pun mencoba mengisi waktu dengan menanam 20 pohon pepaya dan tomat. Ternyata hasilnya menjanjikan.
“Banyak yang cari pepaya. Saya mulai tambah tanam 100, lalu 200 pohon. Akhirnya saya fokus tanam pepaya saja,” kenangnya.
Sekarang, pohon-pohon pepaya itu bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga modal menyekolahkan anak-anaknya.
Tanpa Pupuk Kimia, Panen Rutin Setiap Pekan

Menariknya, Marson merawat seluruh kebunnya tanpa pupuk kimia. Ia mengandalkan pupuk kompos dan perawatan manual. Hasilnya pun tak mengecewakan, buah pepaya manis dengan daging kemerahan yang rutin ia pasarkan ke Pasar Alok dan Pasar Wuring.
Dalam seminggu, Marson bisa memanen 50 hingga 500 buah pepaya, dengan harga jual bervariasi antara Rp7.000 hingga Rp10.000 per buah tergantung ukuran.
“Seminggu saya bisa jual sampai tiga kali. Kadang 30 buah, kadang 50 buah sekali jual,” tuturnya.
Tak hanya menanam, Marson juga menyiapkan bibit sendiri, sebagian besar berasal dari buah pepaya pasar yang dia semai ulang. Ia jarang menggunakan bibit dari toko, karena menurutnya cenderung menghasilkan pohon betina yang tidak berbuah.
“Kalau ada pohon rusak atau dimakan ulat, saya ganti dengan bibit baru. Saya rawat sendiri semuanya,” jelas ayah tiga anak ini.
Untuk Masa Depan Anak-anak
Marson menyadari, kerja kerasnya bukan sekadar untuk hari ini. Ia ingin anak-anaknya memiliki masa depan lebih baik. Dari hasil berkebun pepaya, Marson telah mengantar anak sulungnya untuk kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang.
Dua anak lainnya kini duduk di bangku SMPK Bina Wirawan dan SMP Negeri Alok.
“Saya tidak tamat SD, tapi anak-anak saya harus sekolah tinggi. Itu impian saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Marson dikenal sebagai bagian dari Kelompok 3 TKBM Pelabuhan Lorens Say Maumere. Ketua TKBM Pelabuhan L.Say Maumere, Paul Nining Pau, memberikan apresiasi atas inisiatifnya.
“Ini contoh baik untuk semua buruh pelabuhan. Di luar jam kerja bisa tetap produktif dan mandiri. Kita juga bangga, dia bisa manfaatkan lahan kosong untuk fokus tanam pepaya saja,” kata Paul.

Paul berharap ke depan, perlu ada perhatian dari pemerintah berupa pendampingan dan bantuan lainnya agar petani pepaya seperti Marson bisa lebih berkembang maju.
“Perlu ada dukungan dari Pemkab kepada buruh pelabuhan, aktivitas di Pelabuhan Lorens Say dalam seminggu bisa dihitung hanya 5-6 kapal. Jadi mereka buruh punya banyak waktu untuk mendedikasikan kemampuan mereka ke bidang lain, bisa berdagang, bisa menanam dan lainnya,” ungkap Paul.








