Uwa Palu’e — Ribuan umat Katolik memadati halaman Gereja Ave Maria Bintang Laut Uwa pada perayaan Jumat Agung, yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan suasana reflektif, Jumat (3 April 2026)
Sebelumnya sejak pagi, ribuan umat dari lingkungan juga mengikuti upacara jalan salib tematik mulai dari dermaga Palu’e menuju halaman gereja Ave Maria Bintang Laut yang kurang lebih berjarak 2 kilometer.
Pantauan media ini area gereja hingga ke halaman luar. Dalam suasana hening, ribuan umat memadati halaman gereja dan mengikuti rangkaian liturgi mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perayaan dipimpin oleh RD Wenceslaus Dhiki yang dalam homilinya menekankan makna mendalam dari penderitaan Kristus sebagai pertemuan antara keadilan dan kasih Allah.
“Keadilan menuntut konsekuensi atas dosa manusia, tetapi kasih Allah menghadirkan pemulihan melalui pengorbanan Kristus,” ungkapnya di hadapan umat.
Ia mengajak umat untuk melihat peristiwa di Golgota sebagai cermin kehidupan manusia. Menurutnya, salib tidak hanya mengungkapkan betapa manusia berdosa, tetapi juga menunjukkan betapa berharganya manusia di mata Tuhan.
“Kita berdosa sehingga Kristus harus mati bagi kita. Namun kita juga berharga sehingga Ia rela menderita dan wafat demi kita,” tegasnya.
Dalam refleksinya yang merujuk pada Injil Yohanes, RD Wenceslaus menekankan bahwa penderitaan Kristus bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kesetiaan total kepada kehendak Allah.
Ia menyoroti bagaimana Yesus dengan sadar menjalani jalan penderitaan, mulai dari penangkapan hingga wafat, sebagai bentuk ketaatan yang sempurna demi keselamatan umat manusia.
“Yesus menyerahkan diri bukan karena lemah, tetapi karena kasih-Nya jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematian,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa salib yang bagi sebagian orang dipandang sebagai simbol kehinaan, justru merupakan tanda kemuliaan dalam iman Kristiani.
“Salib adalah takhta kemuliaan, tempat Yesus ditinggikan untuk menarik semua orang datang kepada-Nya,” tambahnya.
Dalam suasana yang penuh permenungan, umat diajak untuk melihat luka-luka Kristus sebagai refleksi dari luka kehidupan mereka sendiri—kegagalan, penderitaan, hingga pengkhianatan yang dialami dalam keseharian.
Melalui perayaan ini, umat diharapkan mampu menghidupi iman secara nyata: menerima setiap persoalan hidup dengan tanggung jawab, serta menjadi pembawa kasih bagi sesama.


Perayaan Jumat Agung di Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa tahun ini tidak hanya menjadi momentum liturgis, tetapi juga ruang refleksi bersama bagi umat untuk memperdalam iman di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah.
Penulis : TajukNTT.id
Editor : TajukNTT.id
Sumber Berita : Liputan








