Jalan Rusak hingga Ban Pecah, Cerita Relawan PMI Sikka Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Pengungsi dan Warga Terdampak Gempa

- Reporter

Friday, 11 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE-Mobil tangki Palang Merah Indonesia (PMI) tidak selalu melaju mulus ketika membawa air bersih ke desa-desa terdampak gempa Flores di Kabupaten Sikka.

Kalistus Oktavianus Teresus, relawan PMI Sikka bidang Water, Sanitation and Hygiene (WASH), masih mengingat perjalanan menuju sejumlah desa dengan kondisi jalan yang rusak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bersama dua relawan lainnya, ia bertugas membawa air bersih dari satu lokasi ke lokasi lain. Mereka harus melewati jalan berlubang, medan terjal hingga ruas jalan yang retak dan terbelah akibat gempa.

Dalam perjalanan menuju Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, misalnya, ban mobil tangki putih berlogo PMI yang mereka gunakan sempat pecah.

“Karena kondisi jalannya berlubang dan rusak, batu-batu lepas begitu, sehingga ban kendaraan kita pecah,” kata Etus, demikian ia akrab disapa saat ditemui di Markas PMI, Selasa (8/9/2026) siang.

Ia menuturkan, ban pecah membuat distribusi air harus dihentikan sementara. Lokasi perbaikan ban yang cukup jauh membuat mereka terpaksa kembali ke kota.

“Jarak untuk kita tambal bannya juga jauh. Sehingga kita harus turun lagi ke kota untuk tambal ban,” ujarnya.

Meski menghadapi kendala di perjalanan, mobil tangki PMI tetap kembali bergerak. Kebutuhan air bersih warga di sejumlah wilayah masih tinggi.

Koordinator Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi 7,7 M Flores PMI Sikka, Octavianus Aryo Adhityo H, mengatakan hingga 8 September 2026, PMI Sikka telah menyalurkan 195.000 liter air bersih.

Sebanyak 125.000 liter air disalurkan kepada pengungsi di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere. Sementara 70.000 liter lainnya didistribusikan ke enam desa terdampak gempa.

Bantuan tersebut tercatat menjangkau 813 kepala keluarga atau 2.770 jiwa.

Warga Antre dengan Jeriken

Adithyo menuturkan, distribusi air bersih dimulai PMI Sikka sejak 15 Agustus 2026, atau setelah gempa mengguncang Flores. Pada 15-26 Agustus, sebanyak 25 tangki atau sekitar 125.000 liter air bersih dikirim ke Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere.
Setelah kebutuhan di posko pengungsian mulai tertangani, distribusi diperluas ke desa-desa yang membutuhkan.

Air kemudian dikirim ke Desa Kringa atas permintaan Sekretaris Kecamatan Talibura. Distribusi dilanjutkan ke Desa Baopaat, Mekengdetung, Blatatatin dan Desa Teka Iku.

Untuk periode 1-8 September 2026, total air yang disalurkan ke enam desa tersebut mencapai 70.000 liter.
Pada 7 September, PMI Sikka menyalurkan 10.000 liter air bersih ke Dusun Hubin Kloang, Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae.

“Bantuan itu menjangkau delapan KK atau 21 jiwa. Sehari kemudian, sebanyak 5.000 liter air dikirim ke Dusun Hubing, Desa Iligai, Kecamatan Lela, yang menjangkau 76 KK atau sekitar 300 jiwa,” ungkapnya.

Etus menambahkan, distribusi ke Desa Iligai masih berlanjut untuk memenuhi kebutuhan warga.

“Rencananya untuk Desa Iligai sampai sore hari ini akan diantar satu tangki air bersih ke Dusun Hubin,” ujarnya.

Ia menuturkan, tantangan relawan tidak hanya datang dari kondisi jalan. Cara warga mengambil air juga memengaruhi lamanya proses distribusi. Di sejumlah lokasi, warga datang membawa jeriken dan mengambil air langsung dari mobil tangki. Kondisi itu membuat satu titik distribusi membutuhkan waktu lebih lama.

Kalistus Oktavianus Teresus, relawan PMI Sikka bidang Water, Sanitation and Hygiene (WASH) PMI Sikka saat menyalurkan bantuan air bersih.

“Sebagian masyarakat datang pengambilannya menggunakan jeriken. Dan itu membuat waktu untuk kita lambat, lambat banget,” kata Kalistus.
Menurut dia, distribusi akan jauh lebih cepat jika air dialirkan langsung ke bak penampungan komunal.

“Kalau kita salurkan langsung ke bak komunal, waktu distribusinya kita cepat, sehingga jumlah airnya pun semakin banyak untuk kita salurkan ke masyarakat,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, mobil tangki dapat segera meninggalkan satu titik dan bergerak menuju lokasi lain yang juga membutuhkan air.

Dalam setiap perjalanan distribusi, PMI Sikka mengerahkan tiga relawan.
Ketiganya memiliki tugas berbeda. Satu orang mengemudikan mobil tangki, satu melakukan pendataan penerima dan satu lainnya menangani dokumentasi.

“Tiga personel untuk melakukan distribusi air. Satu pengambilan data, sama satu dokumentasi,” ungkap Kalistus.

Mereka mengikuti seluruh proses distribusi, mulai dari perjalanan menuju lokasi hingga air diterima warga.
Etus mengatakan sejumlah ruas jalan menjadi tantangan tersendiri, terutama di Mekengdetung dan Blatatatin.

“Untuk kondisi jalan, medannya itu hampir di beberapa desa seperti di Mekengdetung, Blatatatin, itu kondisi jalannya ada yang rusak dan parah,” katanya.

Di Mekengdetung, terdapat beberapa titik jalan yang rusak berat akibat gempa.

“Di Mekengdetung ada beberapa titik jalan yang jalannya pecah, ada yang terbelah, sampai dengan ada yang runtuh. Sehingga memperlambat juga kita untuk distribusi air,” ujar Kalistus.

Warga Bersyukur, PMI Siapkan Perluasan Distribusi

Di tengah perjalanan yang melelahkan, respons warga menjadi salah satu alasan relawan tetap menjalankan distribusi.

Etus mengatakan warga umumnya menyambut bantuan dengan rasa syukur karena air bersih merupakan kebutuhan mendesak.

“Tanggapan dari masyarakat saat kita menyalurkan air bersih tuh mereka bersyukur, terus berterima kasih pada kita karena sudah membantu mereka untuk air bersih,” katanya.

“Karena mereka sangat membutuhkan sekali air bersih di beberapa desa yang sudah kita distribusi,” lanjutnya.

Namun, kebutuhan air bersih diperkirakan tidak berhenti pada enam desa yang selama ini menjadi sasaran distribusi PMI.

Koordinator Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi 7,7 M Flores PMI Sikka, Octavianus Aryo Adhityo H, mengatakan PMI telah menerima permintaan dari sejumlah wilayah lain.

“Kalau dihitung dari lima itu, kita sudah capai 10 desa yang memang permintaannya bukan hanya soal kekeringan,” kata Adithyo.

PMI Sikka, kata dia, bahkan tengah merencanakan distribusi ke wilayah kepulauan, khususnya Kepulauan Dambila di Kecamatan Alok Timur.

“Yang terakhir ini kita akan coba distribusi itu ke wilayah pulau, khususnya di wilayah Alok Timur, di Kepulauan Dambila. Karena di situ juga mereka mengalami kesulitan air bersih,” ujarnya.

Untuk menjangkau wilayah tersebut, PMI sedang menyiapkan skema pengiriman melalui jalur laut dari Nangahale.

Adithyo menuturkan, kebutuhan air bersih juga diperkirakan meningkat seiring potensi kekeringan. Ia mengatakan hasil komunikasi dan koordinasi PMI dengan BMKG menunjukkan wilayah bagian timur Sikka berpotensi menjadi daerah yang membutuhkan perhatian lebih.

“Kemungkinan besar yang akan terdampak itu wilayah bagian timur, khususnya wilayah Talibura dan Waigete,” katanya.

Adithyo mengatakan, Talibura menjadi perhatian khusus karena persoalan air bersih juga diperparah kondisi Gunung Lewotobi. Menurut Adithyo, Desa Kringa dan Boganatar menjadi salah satu wilayah yang selama ini mendapat perhatian PMI.

“Lebih spesial Talibura karena nanti diperparah dengan kondisi erupsi Lewotobi saat ini, khususnya untuk Desa Kringa dan Boganatar,” ujarnya.

Ia mengatakan sumber air tanah di wilayah tersebut juga telah mengalami kontaminasi sehingga kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak.

Sementara untuk wilayah terdampak gempa lainnya, PMI telah melakukan distribusi di Iligai dan sejumlah wilayah di Kecamatan Lela, serta Blatatatin dan Mekengdetung di Kecamatan Kangae.

Selain itu, permintaan bantuan air bersih juga datang dari Desa Umagera di Kecamatan Hewapante dan Desa Wolokoli, Kecamatan Bola.

“Untuk saat ini ada permintaan lagi tambahan di Kecamatan Bola, Desa Wolokoli. Suratnya sudah masuk, cuma kami belum melakukan pelayanan ke sana karena keterbatasan tenaga dan sebagainya,” kata Adithyo.

SDM Siap, Mobil Tangki Terbatas
Menurut Adithyo, secara organisasi PMI Sikka masih memiliki kapasitas sumber daya manusia untuk memperluas pelayanan. Kendala utama justru berada pada sarana dan prasarana.

“Secara organisasi, sumber daya manusianya siap. Cuma sarana prasarana,” katanya.

Mobil tangki yang saat ini digunakan PMI Sikka, kata dia, merupakan kendaraan pinjaman dari PMI Pusat yang diberikan selama masa tanggap darurat bencana.

“Jujur saja mobil tangki yang saat ini juga itu pinjaman dari PMI Pusat dengan batas waktu selama proses tanggap darurat bencana ini,” ujarnya.

PMI Sikka telah mengajukan perpanjangan penggunaan mobil tersebut karena kebutuhan air bersih diperkirakan masih berlanjut, terutama jika persoalan kekeringan meningkat.

Selain itu, PMI Pusat juga telah membahas kemungkinan dukungan untuk pembangunan sumur bor.

“Sudah dibicarakan di pusat, bahkan ada rencana untuk membantu sumur bor. Cuma kan ini perlu ada kajian lagi yang lebih mendalam,” kata Adithyo.

Karena itu, PMI Sikka berharap pemerintah daerah ikut memperkuat dukungan terhadap pelayanan air bersih agar distribusi tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir.

“Nah, yang kita harapkan itu dukungan juga dari pemerintah daerah untuk pelayanan air ini,” ujarnya.

Bagi Etus dan dua relawan lainnya, setiap perjalanan membawa satu tangki air bukan sekadar mengantar bantuan. Ada jalan rusak yang harus dilewati, kendaraan yang harus dijaga, waktu yang harus dikejar, dan warga yang menunggu air untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah semua kendala itu, satu hal yang mereka bawa pulang dari setiap lokasi adalah respons warga yang merasa terbantu ketika air bersih akhirnya tiba.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dokter Hewan Asal Sikka Jadi Korban Tewas Penembakan di Papua, Bupati Juventus Berduka dan Minta Negara Jangan Diam
PMI Salurkan Bantuan Air Bersih dan Paket Family Kit untuk Kelompok Rentan di Pulau Dambila, Sikka
Dana Bantuan Presiden Rp 20 Miliar untuk Bencana Gempa di Sikka Baru Terpakai Rp 300 Juta, Ini Penjelasan Pemkab
HUT ke-25 Partai Demokrat, DPC Demokrat Sikka: Politik Harus Hadir dengan Kerja dan Solusi
Nakes Menumpuk di Kota, Puskesmas Pulau Kekurangan, DPRD Sikka Minta Pemkab Evaluasi Penempatan
Seleksi Sekda Sikka, Femmy Bapa, Putu Botha dan Paul Prasetya Raih Nilai Tertinggi
Di Tengah Puskesmas Kepulauan Kekurangan Nakes, 6 Puskesmas Dekat Kota Maumere Justru Kelebihan, Nakes Muda Menumpuk di Kota
Fasilitas dan Nakes Puskesmas Kojagete Masih Kurang, Kadinkes Sikka: Harus Bersabar, Ini Bertahap
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 11 September 2026 - 02:52 WITA

Jalan Rusak hingga Ban Pecah, Cerita Relawan PMI Sikka Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Pengungsi dan Warga Terdampak Gempa

Thursday, 10 September 2026 - 11:24 WITA

Dokter Hewan Asal Sikka Jadi Korban Tewas Penembakan di Papua, Bupati Juventus Berduka dan Minta Negara Jangan Diam

Thursday, 10 September 2026 - 09:19 WITA

PMI Salurkan Bantuan Air Bersih dan Paket Family Kit untuk Kelompok Rentan di Pulau Dambila, Sikka

Thursday, 10 September 2026 - 00:40 WITA

Dana Bantuan Presiden Rp 20 Miliar untuk Bencana Gempa di Sikka Baru Terpakai Rp 300 Juta, Ini Penjelasan Pemkab

Monday, 7 September 2026 - 23:49 WITA

Nakes Menumpuk di Kota, Puskesmas Pulau Kekurangan, DPRD Sikka Minta Pemkab Evaluasi Penempatan

Berita Terbaru