Maumere 18 September 2025– Kabupaten Sikka terus meneguhkan langkah menuju arah pembangunan berkelanjutan. Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, baru-baru ini berdiskusi dengan akademisi sekaligus pastor Katolik terkemuka, R.P. Dr. Johanes Haryatmoko, SJ (Romo Moko). Pertemuan keduanya menggarisbawahi dua fokus utama: pengembangan energi hijau dan grand desain pariwisata berkelanjutan dengan target implementasi pada tahun 2026.
Energi Surya untuk Daerah Terpencil
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam diskusi, pemanfaatan energi surya menjadi sorotan penting. Romo Moko menawarkan konsep penerangan berbasis teknologi sensor, di mana lampu hanya menyala saat ada kendaraan atau orang yang melintas. Sistem ini dinilai efisien karena tidak sekadar pemasangan, tetapi juga mencakup skema sewa dengan pemeliharaan hingga 10 tahun.
Sikka sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan energi surya. Berdasarkan data Global Solar Atlas, Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk wilayah dengan radiasi matahari rata-rata 5,1 kWh/m² per hari, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dengan lebih dari 230 hari cerah dalam setahun, Sikka berpeluang menjadi daerah percontohan pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah kepulauan dan pedesaan terpencil yang selama ini menghadapi keterbatasan akses listrik.
Grand Desain Pariwisata Sikka
Selain energi hijau, sektor pariwisata juga menjadi prioritas. Pemerintah Kabupaten Sikka tengah merumuskan grand desain pariwisata dengan model Kerjasama Operasi (KSO). Langkah ini dimaksudkan untuk membangun spot wisata unggulan yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.
Kabupaten Sikka, dengan pusat kota Maumere, dikenal memiliki kekayaan bahari kelas dunia. Data Dinas Pariwisata NTT mencatat, sepanjang 2024 Sikka menerima lebih dari 45 ribu wisatawan domestik dan 3.200 wisatawan mancanegara. Potensi terbesar terletak pada Taman Laut Maumere, yang memiliki lebih dari 350 jenis karang dan 600 spesies ikan, serta desa-desa adat seperti Watublapi dan Sikka Natar yang kaya akan seni tenun ikat dan tradisi lokal.
Wabup Simon Subandi menegaskan pentingnya desain pariwisata yang tak hanya menarik investor, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal. “Pembangunan energi hijau dan pariwisata berkelanjutan adalah jalan menuju masa depan Sikka. Dengan pengalaman dan pemikiran Romo Moko, kami yakin kolaborasi ini akan membuka peluang besar bagi kemajuan daerah,” ujarnya.
Rekam Jejak Romo Moko di Level Nasional
Romo Moko bukan sosok asing di dunia akademik Indonesia. Beliau adalah dosen tetap Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, serta kerap menjadi pengajar tamu di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, hingga program doktor di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.
Selain mengajar, ia juga dikenal sebagai pakar etika dan komunikasi publik. Romo Moko kerap memberikan pelatihan etika di berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintahan, hingga perusahaan nasional. Keterlibatannya dalam diskusi dengan Pemkab Sikka dinilai membawa perspektif baru, yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh dimensi etika pembangunan.
Sikka Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Pertemuan antara Wabup Simon dan Romo Moko dipandang sebagai langkah awal membangun sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat. Dengan potensi energi surya yang melimpah, serta kekayaan budaya dan alam yang menawan, Sikka memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat energi hijau dan destinasi pariwisata unggulan di kawasan timur Indonesia.
Sinyal kuat ini menegaskan komitmen bahwa Sikka siap bergerak menuju pembangunan yang ramah lingkungan, modern, dan berbasis potensi lokal dalam kerangka visi Sikka 2026.
Penulis : Wiliam
Editor : Wiliam
Sumber Berita : Advitorial










