SIKKA–Haru bercampur bahagia dirasakan Maria Yuventa, warga Desa Nele Wutung, Kabupaten Sikka. Pendampingan dari dokter dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Nele serta pihak Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) terhadap puterinya Kristina Yance selama ini tak sia sia.
Puterinya akhirnya sembuh dari sakit gangguan mental yang diderita selama 20 tahun. Semangat Yuventa serasa hidup kembali melihat putrinya sudah bisa beraktifitas layaknya orang normal.
Kebahagiaan Yuventa semakin lengkap setelah keinginan puterinya Yance untuk kembali menenun sarung terpenuhi oleh Yayasan PAPHA. Kamis, 20/06/2025, Yance menerima bantuan bahan dan peralatan ikat tenun dari Yayasan PAPHA.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum mengidap gangguan mental, Yance yang kini telah berusia 44 tahun adalah seorang penenun yang belajar menenun sejak berusia 12 tahun.
Yuventa mengaku, kehadiran Yayasan PAPHA memberikan harapan baru bagi keluarganya terutama Yance. Pendampingan oleh Yayasan PAPHA, tenaga kesehatan, kader keswa dan dukungan pemerintah desa membuatnya “merasa hidup kembali” setelah 20 tahun lamanya merasakan penderitaan sebagai seorang ibu yang merawat anaknya yang mengalami gangguan mental.
“Melihat Yance tenang dan beraktivitas seperti sediakala membuat saya sangat bersyukur. Saya tidak pernah membayangkan anak saya sembuh. Saya juga bahagia karena dia sendiri meminta untuk kembali menenun,” ucap Yuventa.
Yuventa mengaku sejak ayah dan saudara laki lakinya meninggal, Yance mengalami depresi. Setiap hari Yuventa menghadapi situasi sulit kala melihat putrinya Yance melukai dirinya sendiri.
“Selama 20 tahun Yance sakit, kami benar-benar tak punya harapan. Saya sempat berpikir penderitaan ini akan kami bawa sampai mati,” kenang Yuventa.
Entah sudah berapa banyak biaya yang ia keluarkan demi kesembuhan Yance, termasuk berobat ke orang pintar (dukun). Namun tak satuppun yang membuahkan hasil.
“Kami bingung mau bawa Yance kemana karena tidak ada informasi sama sekali mengenai pengobatan dari rumah sakit sehingga satu-satunya jalan ya kami panggil dukun. Kami jual semua sarung yang kami tenun untuk biayai pengobatan tetapi tidak pernah berhasil. Jadi akhirnya kami pasrah,” ucapnya.
Ditengah keresahannya itu, seorang dokter datang ke rumahnya dan mulai melakukan pendampingan kepada Yance.
“Tahun 2018 Yance mulai didampingi oleh dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas Nelle secara rutin. Tepat bulan Juni tahun 2024 Yance juga didampingi secara khusus oleh Yayasan PAPHA. Dari situ saya bisa lihat ada perubahan besar terhadap anak saya,” ujarnya.
Kini Yance sudah mau bersosialisasi dengan masyarakat. Tak hanya itu, Yance juga sudah mulai menenun kembali dan sudah menghasilkan dua lembar sarung.
Program Star Up Kit
Perwakilan Yayasan PAPHA, Marcelina menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bagian dari program Start Up Kit untuk mendorong pendekatan kesehatan jiwa berbasis masyarakat bagi Orang Dengan Disabilitas Psikososial atau (ODDP) yang sudah pulih.
Program Start Up Kit merupakan bagian dari proyek Bersahaja (Bersama untuk Flores yang Sehat Jiwa) dengan bantuan berupa peralatan kerja dan bahan-bahan kerja serta hewan ternak sesuai dengan kebutuhan dan minat mantan ODDP.
Marcelina mengatakan, mereka mulai mendampingi Yance sejak Juni 2024 setelah melakukan pendataan di Desa Nelle Wutung. Marcelina mengatakan, terdapat 12 ODDP dan lima diantaranya sudah mulai pulih sejak Yayasan PAPHA mendampingi secara rutin dua kali dalam sebulan.
“Kami bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Dinas Sosial, Pemerintah Desa Nelle Wutung dan juga puskesmas setempat. Lima orang ODDP termasuk Yance sudah pulih,” kata Marcelina.
Sebelumnya, mantan ODDP biasanya tidak bersosialisasi dengan warga setempat. Tetapi sejak dilakukan kunjungan rumah oleh kader dan staf PAPHA, perubahan aktivitas sosialnya membaik.
“Mereka sudah pergi ke gereja, kerja bakti, ke pasar, ikut pemilu bahkan saat kedukaan mereka berbaur bersama masyarakat. Itu yang menjadi tujuan utama Yayasan PAPHA yakni mengembalikan aktivitas mereka seperti sedia kala,” ujar Marcelina.
Dalam pendampingan terhadap ODDP, kata dia, Yayasan PAPHA menerapkan tiga pendekatan, diantaranya, pendekatan medis, pendekatan sosial dan pendekatan produktif.
Pendekatan medis dilakukan oleh puskesmas dan kader kesehatan jiwa (keswa) dalam memantau jadwal rutin minum obat pasien ODDP.
“ODDP tidak boleh terlambat minum obat. Oleh karena itu baik kader keswa maupun tenaga kesehatan dari puskesmas harus rutin memantau ketersediaan obat bagi mereka,” kata dia.
Sementara itu pendekatan sosial dilakukan dengan melibatkan ODDP dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.
“Sehingga mereka tidak merasa sendirian, tidak merasa diasingkan oleh masyarakat. Kehadiran mereka di sana secara tidak langsung membentuk pola pikir mereka bahwa mereka diterima baik di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Sedangkan pendekatan produktif, kata Marcelina, ODDP diberikan bantuan sesuai dengan minat dan kebutuhannya agar mereka bisa bekerja dan memproduksi karya-karya mereka.
“Start Up Kit adalah bagian dari pendekatan produktif. Hari ini kami memberikan peralatan tenun dan bahan-bahan tenun ikat kepada ibu Yance karena dari dulu ia senang menenun. Dengan kegiatan menenun, ibu Yance ada aktivitas di rumah sehingga tidak merasa bosan,” ungkapnya.
Perhatian Pemerintah Desa
Pejabat Desa Nele Wutung, Paskalia Lisdiani mengatakan Pemerintah Desa Nelle Wutung terus berupaya mendukung pemulihan kesehatan mental bagi 12 warganya.
Ia mengapresiasi pendampingan rutin yang dilakukan oleh Yayasan PAPHA terhadap ODPP. Hal ini kata dia, setidaknya bisa mengubah cara pandang masyarakat mengenai ODDP yang kebanyakan dianggap tidak akan sembuh dari sakitnya.
“Orang–orang menghindari ODDP karena tidak mengurus diri bahkan ada yang menganggap mereka suanggi. Ternyata bila ditangani dan didampingi secara rutin, mereka bisa pulih. Ini yang kita harapkan selama ini. Mereka berhak bahagia dan menjalankan aktivitas seperti sedia kala,” kata Lisdiani.
Ia mengungkapkan selama ini selain bekerjasama memonitoring secara langsung ODDP, pihaknya juga memberikan bantuan berupa sembako kepada 12 ODDP di Desa Nele Wutung.
Meski masih ada 7 ODDP yang belum pulih, Liasdiani mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya agar pendampingan dan ketaatan jadwal minum obat terlaksana dengan baik.
“Kami juga sangat mendukung program Start Up Kit dari Yayasan PAPHA agar mereka yang pernah mengalami gangguan disabilitas punya aktivitas yang positif. Dengan begitu mereka tidak lagi memikirkan hal-hal yang dapat memicu kesehatan mental mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Inocensia Dua Ota, tenaga kesehatan dari Puskesmas Nelle yang mendampingi beberapa ODDP di wilayah Nelle mengatakan, berkat kerjasama antara Yayasan PAPHA, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dan Pemerintah Desa Nelle Wutung, ODDP yang selama ini sulit ditangani akhirnya dapat pulih kembali.
Dikatakan, masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengakses bantuan medis bagi ODDP sehingga cenderung pasrah pada keadaan. Ada juga stigma yang berkembag di masyarakat bahwa ODDP tidak akan sembuh.
Ia berharap upaya pendampingan kesehatan mental bagi ODDP bukan hanya dari para nakes, kader keswa maupun Yayasan PAPHA tetapi juga dari keluarga ODDP tersebut.
“Jika tidak didukung oleh keluarga, kami tidak bisa bekerja secara baik. Tetapi jika ada dukungan, harapan untuk sembuh bagi ODDP pasti akan terwujud,” ujar Inocensia. (Maria Margaretha Holo)
Penulis : Mia Margaretha Holo
Editor : redaksi
Sumber Berita : edukes










