Diduga Dihina “Monyet” saat Mengurus Berkas Simpatika, Guru Agama Laporkan Oknum Staf Kantor Kemenag Sikka ke Polisi

- Reporter

Tuesday, 4 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE-Seorang Guru Agama Katolik di SMP Negeri Kewapante, Desa Seusina, Kecamatan Kewapante, Marselinus Atapuken, melaporkan seorang oknum staf Seksi Pendidikan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sikka, Selasa (4/8/2026).

Laporan itu dibuat setelah Marselinus mengaku dihina dengan sebutan “monyet” saat mengurus berkas pengaktifan data guru pada aplikasi Simpatika (Sistem Informasi Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantauan wartawan, Marselinus mendatangi SPKT Polres Sikka pada Selasa siang didampingi sejumlah rekan sesama guru agama. Ia melaporkan dugaan penghinaan yang dilakukan oleh seorang oknum staf di lingkungan Seksi Pendidikan Agama Katolik Kantor Kemenag Sikka.

Sebelumnya, pada pagi hari, Marselinus datang ke Kantor Kemenag Sikka untuk menyerahkan formulir S28A atau Surat Pengajuan Riwayat Mengajar sebagai syarat pengaktifan data guru semester ganjil di aplikasi Simpatika.

“Hari ini saya ke Kantor Kemenag Sikka untuk antar formulir S28A. Biasanya kami langsung bertemu operator, tetapi kali ini saya diarahkan bertemu Kepala Seksi Pendidikan Agama Katolik,” kata Marselinus kepada wartawan.

Menurutnya, pembicaraan yang terjadi justru tidak membahas berkas yang dibawanya. Ia mengaku mendapat teguran terkait sikap para guru agama dalam memperjuangkan pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG), termasuk penyampaian aspirasi kepada DPRD Sikka.

“Saya disampaikan bahwa apa yang kami lakukan selama ini terkait TPG itu salah. Ke DPR kami salah, ke Bupati kami salah. Saya bilang kepada Pak Kepala Seksi bahwa saya datang hari ini hanya untuk mengantar berkas. Kalau ada kesempatan lain, besok kita bisa bicara soal itu,” ujarnya.

Marselinus mengaku permintaannya tidak direspons. Ia justru diberitahu bahwa berkasnya tidak akan diterima dan tidak akan diproses.

“Saya langsung disampaikan bahwa hari ini juga berkas saya tidak diterima dan saya tidak boleh diurus. Saya tanya alasannya, tetapi tidak ada penjelasan. Saya hanya disuruh pulang,” katanya.

Ia mengaku sempat mempertahankan haknya sebagai guru untuk mengaktifkan data Simpatika yang menjadi bagian dari administrasi profesinya.

“Saya bilang, itu hak saya sebagai guru. Data saya harus diaktifkan untuk semester ini. Tetapi mereka bilang, ‘Hari ini kamu tidak boleh dilayani. Dengar tidak kau!'”

Marselinus mengatakan dirinya langsung mempertanyakan ucapan tersebut.

“Saya bilang, ‘Bapak sampaikan saya monyet?’ Dia jawab, ‘Iya, saya yang omong. Kau tidak puas kalau saya mengatakan kau monyet! Kalau kau tidak puas silakan tandai saya. Saya orang Lokaria!'”

Marselinus mengaku sangat terpukul karena merasa martabatnya sebagai seorang pendidik telah direndahkan.

“Demi Tuhan, tidak ada alasan satu pun disampaikan kepada saya. Saya merasa dilecehkan. Martabat saya sebagai guru direndahkan di Kantor Agama Sikka,” katanya.

Ia menduga perlakuan tersebut berkaitan dengan sikapnya yang selama ini aktif menyuarakan persoalan keterlambatan pencairan TPG guru agama Katolik.

“Itu hanya dugaan saya. Mereka mungkin tidak menyukai saya karena saya pernah menulis soal TPG dan bersama teman-teman memperjuangkan hak guru. Padahal TPG memang akhirnya sudah dicairkan minggu lalu untuk enam bulan,” ujarnya.

Menurut Marselinus, perjuangan para guru dilakukan karena tunjangan profesi seharusnya diterima secara rutin, namun sempat tertunda akibat kendala sistem.

“Kami bersurat ke DPR RI supaya TPG segera disalurkan karena itu kebutuhan pengembangan profesi kami. Kami tidak mungkin selesai mengajar lalu mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan,” katanya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Muhammad Syafiuddin

Ditemui terpisah, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Muhammad Syafiuddin, membantah adanya penolakan pelayanan terhadap guru agama yang datang mengurus administrasi di kantor tersebut.

“Tidak benar kalau Guru Agama Katolik yang datang ke Kantor Kementerian Agama Sikka tidak dilayani, semua dilayani,” katanya.

Menurut Saifuddin, peristiwa itu dipicu oleh kesalahpahaman yang berkembang menjadi adu mulut.

“Kaitan dengan tadi ada miskomunikasi, kebetulan kepala seksi kami kesehatannya terganggu, sehingga kalau dia sudah menegur berarti dia butuh ketenangan, tetapi mungkin di situ terjadilah saling adu mulut. Tetapi yang bersangkutan, saya sudah sampaikan untuk menenangkan beliau. Saya sudah komunikasi, ini masalah miskomunikasi, ini bukan masalah kriminal, saya sudah menyelesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya.

Saat dimintai tanggapan terkait pengakuan Marselinus yang mengaku disebut “monyet”, Syafiuddin mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya ucapan tersebut.

“Saya tidak tahu sampai ada kata ‘monyet’. Kalau sampai seperti itu dengan kata-kata begitu, paling sudah ada adu mulut. Kalau sudah emosi sekali, bisa mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan bagi orang lain,” katanya.

Syafiuddin juga menyampaikan dirinya belum mengetahui kalau ada laporan polisi ke Polres Sikka terkait permasalahan yang terjadi tersebut.

Syafiuddin juga memastikan hak Tunjangan Profesi Guru (TPG) guru agama Katolik untuk periode Januari hingga Juni 2026 bagi yang lulus PPG tahun 2025 telah dibayarkan.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ikatan Guru Agama Katolik Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dihina “Monyet”, Desak Kemenag Bertanggung Jawab dan Polisi Usut Tuntas
Kabupaten Sikka Kembali Raih Predikat Istimewa IRH Ketiga Kali Berturut turut
Hanya Dapat 10 Persen, RSUD TC Hillers Diminta Kaji Ulang Kerjasama Unit Hemodialisis dengan Pihak Ketiga
Beatus Djogo Pertanyakan Ruas Jalan Nangablo-Hagarahu yang Dua Kali Masuk APBD tapi Tak Pernah Direalisasikan
Pilkades Serentak Ditunda, Anggaran Pilkades Rp 3,34 Miliar Dialihkan, BPKAD Sikka Rencana Pakai Bayar Utang Daerah, Rehab Kantor dan Beberapa Belanja Prioritas
Anggota DPRD Sikka: Kita Omong Efisiensi Anggaran, Tapi Saya Temukan Ada OPD Gemuk, Ada yang Mau Dibantai, dan Ada OPD yang Kering Total
Satgas Optimalisasi Pajak Kendaraan Bermotor Berhenti “Jaga” di SPBU Selama Sepekan, Bapenda Sikka Akui Tak Ada Anggaran
Pemkab Sikka Siapkan Rp 5,5 Miliar untuk 75 Rumah Terima Kunci pada 2027, DPRD Soroti Ranperda RP3KP Belum Juga Diajukan Sejak Dibahas 7 Bulan Lalu
Berita ini 240 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 4 August 2026 - 23:32 WITA

Ikatan Guru Agama Katolik Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dihina “Monyet”, Desak Kemenag Bertanggung Jawab dan Polisi Usut Tuntas

Tuesday, 4 August 2026 - 10:39 WITA

Kabupaten Sikka Kembali Raih Predikat Istimewa IRH Ketiga Kali Berturut turut

Tuesday, 4 August 2026 - 09:48 WITA

Hanya Dapat 10 Persen, RSUD TC Hillers Diminta Kaji Ulang Kerjasama Unit Hemodialisis dengan Pihak Ketiga

Tuesday, 4 August 2026 - 08:23 WITA

Diduga Dihina “Monyet” saat Mengurus Berkas Simpatika, Guru Agama Laporkan Oknum Staf Kantor Kemenag Sikka ke Polisi

Monday, 3 August 2026 - 22:23 WITA

Beatus Djogo Pertanyakan Ruas Jalan Nangablo-Hagarahu yang Dua Kali Masuk APBD tapi Tak Pernah Direalisasikan

Berita Terbaru