Hanya Dapat 10 Persen, RSUD TC Hillers Diminta Kaji Ulang Kerjasama Unit Hemodialisis dengan Pihak Ketiga

- Reporter

Tuesday, 4 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE,tajukntt-Manajemen RSUD dr. TC.Hillers Maumere diminta untuk mengkaji ulang kerjasama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan unit layanan cuci darah (hemodialisis). Selama ini kerjasama dengan pihak ketiga menggunakan skema bagi hasil dengan persentasi 90 % untuk pihak ketiga dan 10 % untuk RSUD dr. TC. Hillers.

Permintaan tersebut disampaikan Komisi I DPRD Kabupaten Sikka dalam rapat bersama manajemen RSUD dr. TC. Hillers pembahasan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun 2027 di Ruang Komisi I DPRD Sikka, Selasa, 04/08/2026.

Menjawab pertanyaan Ketua Komisi I, Yosef Karmianto Eri, Direktur RSUD dr. TC. Hillers, dr. Atanasius Paulus Konstan Lameng, MPH., memaparkan, kerjasama tersebut hanya mencakup sewa lahan RSUD dr. TC. Hillers.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adapun bagi hasil 90 % : 10 % tersebut dihitung dari biaya sekali cuci darah per pasien. Dimana biaya sekali cuci darah per pasien sebesar Rp.888 ribu. Dari angka tersebut, RSUD TC. Hillers hanya mendapat 10 % atau sekitar Rp. 68 ribu.

“Untuk layanan cuci darah, ada biaya biaya tambahan yang tidak terinput ke pihak ketiga seperti pemeriksaan laboratorium, poliklinik dan obat obat tambahan. Dan ini angkanya lumayan. Kalau boleh dibilang kita tekor,” jelasnya.

Terkait beberapa permasalahan yang muncul dalam proses pelayanan hingga penghentian pelayanan unit hemodialisis beberapa waktu lalu, Paulus Lameng mengatakan bahwa masalah tersebut lebih kepada internal pihak ketiga selaku pengelola.

Ia mengakui bahwa kerjasama tersebut agak rumit. Ia menjelaskan, kerjasama tersebut antara RSUD TC. Hillers dan PT. Bina Nusantara Adi Sehat (BNAS). PT. BNAS kemudian bekerja sama lagi dengan PT. Masa Cipta Husada (MCH). Permasalahannya terjadi di PT. MCH selaku pihak operasional.

“Jadi permasalahannya itu ada di PT. MCH, terjadi kekosongan logistik, ada peralatan rusak yang tidak diperbaiki sehingga sempat terjadi penghentian pelayanan sementara. Mereka yang bertanggung jawab untuk pelayanan. Tetapi ketika terjadi penghentian pelayanan, rumah sakit juga yang kena,” jelasnya.

Oleh karena permasalahan tersebut di PT. MCH lanjut dia, selanjutnya PT. BNAS yang mengambil alih pelayanan. “Boleh dilihat beberapa minggu ini sudah cukup aman, logistik sudah ada, gaji dan jaminan lainnya sudah aman. Untuk kerjasama mereka sendiri dimulai sejak tahun 2016 selama 15 tahun sampai tahun 2030,” jelasnya.

Siapkan Failitas Pelayanan Hemodialisis Sendiri

Menjawab harapan Komisi I agar RSUD dr. TC. Hillers bisa menyiapkan fasilitas pelayanan Hemodialisis yang dikelola sendiri demi optimalisasi pelayanan, Paulus mengatakan hal itu sedang dalam persiapan. Ia mengaku jika saat ini pihaknya telah menjajaki kerjasama dengan pihak lain dengan perhitungan 60 % :40 % untuk 7 tahun.

“Untuk ketenagaanya dari RSUD dr. TC Hillers. Kami akan memakai ruang ICU lama dan sekarang sedang tahap renovasi dan ditargetkan akhir Agustus ini selesai sehingga mulai September sudah bisa dipakai,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan dua fasilitas hemodialisis, potensi pendapatan sekitar Rp.700 juta perbulan. Asumsi tersebut berdasarkan potensi pendapatan fasilitas hemodialisis yang ada sekarang dimana potensi pendapatannya sekitar Rp.300-Rp.500 juta sebulan. Paulus optimis potensi pendapatan tersebut bisa tercapai mengingat RSUD dr. TC. Hillers sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Flores dan kepulauan.

 

Komentar FB

Penulis : Vianey

Editor : redaksi

Sumber Berita : daerah

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ikatan Guru Agama Katolik Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dihina “Monyet”, Desak Kemenag Bertanggung Jawab dan Polisi Usut Tuntas
Kabupaten Sikka Kembali Raih Predikat Istimewa IRH Ketiga Kali Berturut turut
Diduga Dihina “Monyet” saat Mengurus Berkas Simpatika, Guru Agama Laporkan Oknum Staf Kantor Kemenag Sikka ke Polisi
Beatus Djogo Pertanyakan Ruas Jalan Nangablo-Hagarahu yang Dua Kali Masuk APBD tapi Tak Pernah Direalisasikan
Pilkades Serentak Ditunda, Anggaran Pilkades Rp 3,34 Miliar Dialihkan, BPKAD Sikka Rencana Pakai Bayar Utang Daerah, Rehab Kantor dan Beberapa Belanja Prioritas
Anggota DPRD Sikka: Kita Omong Efisiensi Anggaran, Tapi Saya Temukan Ada OPD Gemuk, Ada yang Mau Dibantai, dan Ada OPD yang Kering Total
Satgas Optimalisasi Pajak Kendaraan Bermotor Berhenti “Jaga” di SPBU Selama Sepekan, Bapenda Sikka Akui Tak Ada Anggaran
Pemkab Sikka Siapkan Rp 5,5 Miliar untuk 75 Rumah Terima Kunci pada 2027, DPRD Soroti Ranperda RP3KP Belum Juga Diajukan Sejak Dibahas 7 Bulan Lalu
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 4 August 2026 - 23:32 WITA

Ikatan Guru Agama Katolik Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dihina “Monyet”, Desak Kemenag Bertanggung Jawab dan Polisi Usut Tuntas

Tuesday, 4 August 2026 - 10:39 WITA

Kabupaten Sikka Kembali Raih Predikat Istimewa IRH Ketiga Kali Berturut turut

Tuesday, 4 August 2026 - 09:48 WITA

Hanya Dapat 10 Persen, RSUD TC Hillers Diminta Kaji Ulang Kerjasama Unit Hemodialisis dengan Pihak Ketiga

Tuesday, 4 August 2026 - 08:23 WITA

Diduga Dihina “Monyet” saat Mengurus Berkas Simpatika, Guru Agama Laporkan Oknum Staf Kantor Kemenag Sikka ke Polisi

Monday, 3 August 2026 - 22:23 WITA

Beatus Djogo Pertanyakan Ruas Jalan Nangablo-Hagarahu yang Dua Kali Masuk APBD tapi Tak Pernah Direalisasikan

Berita Terbaru