MAUMERE,tajukntt-Manajemen RSUD dr. TC.Hillers Maumere diminta untuk mengkaji ulang kerjasama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan unit layanan cuci darah (hemodialisis). Selama ini kerjasama dengan pihak ketiga menggunakan skema bagi hasil dengan persentasi 90 % untuk pihak ketiga dan 10 % untuk RSUD dr. TC. Hillers.
Permintaan tersebut disampaikan Komisi I DPRD Kabupaten Sikka dalam rapat bersama manajemen RSUD dr. TC. Hillers pembahasan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun 2027 di Ruang Komisi I DPRD Sikka, Selasa, 04/08/2026.
Menjawab pertanyaan Ketua Komisi I, Yosef Karmianto Eri, Direktur RSUD dr. TC. Hillers, dr. Atanasius Paulus Konstan Lameng, MPH., memaparkan, kerjasama tersebut hanya mencakup sewa lahan RSUD dr. TC. Hillers.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun bagi hasil 90 % : 10 % tersebut dihitung dari biaya sekali cuci darah per pasien. Dimana biaya sekali cuci darah per pasien sebesar Rp.888 ribu. Dari angka tersebut, RSUD TC. Hillers hanya mendapat 10 % atau sekitar Rp. 68 ribu.
“Untuk layanan cuci darah, ada biaya biaya tambahan yang tidak terinput ke pihak ketiga seperti pemeriksaan laboratorium, poliklinik dan obat obat tambahan. Dan ini angkanya lumayan. Kalau boleh dibilang kita tekor,” jelasnya.
Terkait beberapa permasalahan yang muncul dalam proses pelayanan hingga penghentian pelayanan unit hemodialisis beberapa waktu lalu, Paulus Lameng mengatakan bahwa masalah tersebut lebih kepada internal pihak ketiga selaku pengelola.
Ia mengakui bahwa kerjasama tersebut agak rumit. Ia menjelaskan, kerjasama tersebut antara RSUD TC. Hillers dan PT. Bina Nusantara Adi Sehat (BNAS). PT. BNAS kemudian bekerja sama lagi dengan PT. Masa Cipta Husada (MCH). Permasalahannya terjadi di PT. MCH selaku pihak operasional.
“Jadi permasalahannya itu ada di PT. MCH, terjadi kekosongan logistik, ada peralatan rusak yang tidak diperbaiki sehingga sempat terjadi penghentian pelayanan sementara. Mereka yang bertanggung jawab untuk pelayanan. Tetapi ketika terjadi penghentian pelayanan, rumah sakit juga yang kena,” jelasnya.
Oleh karena permasalahan tersebut di PT. MCH lanjut dia, selanjutnya PT. BNAS yang mengambil alih pelayanan. “Boleh dilihat beberapa minggu ini sudah cukup aman, logistik sudah ada, gaji dan jaminan lainnya sudah aman. Untuk kerjasama mereka sendiri dimulai sejak tahun 2016 selama 15 tahun sampai tahun 2030,” jelasnya.
Siapkan Failitas Pelayanan Hemodialisis Sendiri
Menjawab harapan Komisi I agar RSUD dr. TC. Hillers bisa menyiapkan fasilitas pelayanan Hemodialisis yang dikelola sendiri demi optimalisasi pelayanan, Paulus mengatakan hal itu sedang dalam persiapan. Ia mengaku jika saat ini pihaknya telah menjajaki kerjasama dengan pihak lain dengan perhitungan 60 % :40 % untuk 7 tahun.
“Untuk ketenagaanya dari RSUD dr. TC Hillers. Kami akan memakai ruang ICU lama dan sekarang sedang tahap renovasi dan ditargetkan akhir Agustus ini selesai sehingga mulai September sudah bisa dipakai,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan dua fasilitas hemodialisis, potensi pendapatan sekitar Rp.700 juta perbulan. Asumsi tersebut berdasarkan potensi pendapatan fasilitas hemodialisis yang ada sekarang dimana potensi pendapatannya sekitar Rp.300-Rp.500 juta sebulan. Paulus optimis potensi pendapatan tersebut bisa tercapai mengingat RSUD dr. TC. Hillers sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Flores dan kepulauan.
Penulis : Vianey
Editor : redaksi
Sumber Berita : daerah










