Produksi Pisang di Sikka Anjlok Dua Tahun Terakhir Dipicu Penyakit Darah Pisang, Akademisi Unipa: Eradikasi Total saja Tak Cukup, Perlu Penanganan Terpadu

- Reporter

Thursday, 6 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE-Penanganan penyakit darah pisang di Kabupaten Sikka tidak dapat hanya mengandalkan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang terinfeksi. Upaya tersebut perlu dibarengi penerapan pengendalian hama terpadu, penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan, sterilisasi alat pertanian, hingga pengawasan lalu lintas bibit antarwilayah.

Hal itu disampaikan Mario Malado, S.P., M.P., Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa), menanggapi masih tingginya penyebaran penyakit darah pisang atau Blood Disease Bacterium (BDB) di Kabupaten Sikka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pengendalian harus dilakukan secara terpadu, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh pihak. Jika hanya mengandalkan eradikasi tanpa memperbaiki sistem budidaya, penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan, sterilisasi alat pertanian, serta pengawasan lalu lintas bibit, maka penyebaran penyakit akan terus berulang,” ungkap Mario Malado.

Dikatakannya, penyakit yang disebabkan bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis itu dapat menyerang tanaman pisang pada seluruh fase pertumbuhan, mulai dari pembentukan tunas hingga menjelang panen.

Tanaman yang terinfeksi umumnya menunjukkan gejala berupa daun layu, pangkal daun patah, jantung pisang mengering dan menghitam, bonggol berwarna kemerahan menyerupai darah, hingga muncul getah merah kecokelatan pada buah muda.

“Jika tanaman induk sudah terinfeksi maka anakan yang tumbuh memiliki peluang sangat besar ikut terinfeksi. Biasanya gejala mulai terlihat saat anakan berumur tiga sampai empat bulan dan akhirnya menyebabkan tanaman mati,” jelasnya.

Menurut Mario Malado, pisang kepok merupakan varietas yang paling rentan terhadap serangan bakteri penyebab penyakit darah pisang. Penularannya dapat terjadi melalui bibit yang terinfeksi, alat pertanian yang tidak disterilkan, luka pada tanaman saat panen, hingga serangga pengunjung bunga jantung pisang yang membawa bakteri dari satu tanaman ke tanaman lainnya.

Ia mengutip penelitian Jane D. Ray yang menunjukkan serangga pengunjung bunga jantung pisang berpotensi menjadi vektor utama penyebaran penyakit tersebut.

Mario Malado, S.P., M.P., Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Universitas Nusa Nipa.

Mario mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Sikka yang melakukan pemantauan lapangan melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan menerapkan eradikasi terhadap tanaman yang terinfeksi. Namun, menurutnya, penggunaan herbisida sintetis dalam proses eradikasi perlu dilakukan secara hati-hati karena berpotensi memengaruhi keseimbangan lingkungan.

Menurut dia, sebagian besar pisang kepok di Kabupaten Sikka ditanam secara tumpangsari dengan tanaman perkebunan lain atau dimanfaatkan sebagai tanaman pagar.

Penggunaan herbisida yang tidak terukur dapat mengubah habitat mikro, mengurangi populasi serangga penyerbuk dan predator alami, serta meninggalkan residu kimia yang memengaruhi mikroorganisme tanah.

Selain itu, apabila proses eradikasi tidak dilakukan secara optimal, bakteri penyebab penyakit tetap dapat bertahan di dalam lahan dan menjadi sumber infeksi baru.

Karena itu, ia merekomendasikan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui penggunaan bibit kultur jaringan bebas penyakit, sterilisasi alat pertanian, pemanfaatan agens hayati seperti Trichoderma, Gliocladium, Pseudomonas fluorescens, dan Bacillus subtilis, pemotongan jantung pisang, penyarungan tandan, rotasi tanaman noninang, sanitasi lahan, penjarangan anakan, serta penguatan pengawasan karantina bibit dan buah pisang.

Produksi Pisang Turun

Dampak meluasnya penyakit darah pisang mulai terlihat pada produksi pisang di Kabupaten Sikka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, produksi pisang di Kabupaten Sikka sempat meningkat dari 56.329 ton pada 2023 menjadi 125.893 ton pada 2024. Namun, pada 2025 produksi kembali turun tajam menjadi 92.546 ton.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka mencatat hingga akhir 2025 luas serangan penyakit darah pisang mencapai 366,62 hektare dari total areal tanaman pisang seluas 982,14 hektare. Pada periode Januari hingga Mei 2026, luas serangan baru tercatat 14,22 hektare, namun sumber bakteri masih dipastikan berada di lokasi-lokasi yang pernah terserang.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Fransiska Omi, mengatakan penyakit darah pisang tidak dapat disembuhkan menggunakan pestisida sehingga langkah paling efektif adalah eradikasi total.

“Eradikasi total itu artinya pemusnahan secara menyeluruh. Tanaman yang sudah terinfeksi harus dibongkar dan digali sampai ke akar-akarnya. Tidak ada satu jenis pestisida pun yang bisa mengobati jika sudah terkena,” ujarnya.

Menurut Fransiska, masih banyak petani yang keliru memahami penanganan penyakit tersebut. Sebagian menganggap tanaman yang sakit masih dapat dipulihkan dengan pestisida, padahal upaya utama adalah memutus sumber penularan.

Ia juga menilai pola budidaya pisang di Sikka yang masih sederhana turut mempercepat penyebaran penyakit.

“Karakteristik budidaya pisang di Sikka umumnya hanya tanam lalu tunggu panen, tanpa intervensi pupuk atau sanitasi lingkungan. Padahal untuk area yang belum terserang, pencegahan utama adalah sanitasi lahan, pemupukan yang seimbang, serta sterilisasi alat panen agar tidak memindahkan bakteri dari pohon yang sakit,” jelasnya.

Karena masih berstatus zona merah, pemerintah daerah juga belum dapat menjalankan program pengembangan maupun peremajaan tanaman pisang secara luas.

“Untuk pengembangan bibit baru belum bisa kita lakukan sebelum seluruh area yang terpapar dieradikasi total. Kita harus menetralkan dulu wilayah ini dari status zona merah,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan pemerintah telah menyiagakan 18 orang Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di wilayah binaan masing-masing.

Menurut Bupati, para petugas POPT melakukan pengamatan berkala sekaligus menguji penggunaan herbisida untuk mempermudah petani melakukan pemusnahan tanaman yang telah terinfeksi.

“Para petugas POPT melakukan pengamatan periodik serta uji coba aplikasi herbisida untuk memudahkan petani melakukan pemusnahan atau eradikasi total tanaman yang terinfeksi,” ujar Bupati.

Mario Malado mengingatkan bahwa penyakit darah pisang tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga ketahanan pangan dan budaya masyarakat Sikka.

“Pisang kepok selama ini menjadi salah satu sumber pangan alternatif pengganti beras dan memiliki nilai penting dalam berbagai ritual adat.
Apabila penyebaran penyakit tidak segera dikendalikan, Kabupaten Sikka berpotensi mengalami penurunan produksi yang lebih besar, meningkatnya biaya rehabilitasi lahan, menurunnya pendapatan petani, hingga terganggunya rantai pasok komoditas hortikultura daerah,” ungkapnya.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Ajukan Revisi Perda Pilkades ke DPRD Sikka, Butuh Anggaran Sekitar Rp 150 Juta
Realisasi Pendapatan Daerah Masih Rendah, Bapenda Sikka: Jika Triwulan III Tak Capai 75 Persen, Banyak Belanja Tak Bisa Direalisasikan
Kabupaten Sikka Masih Zona Merah Penyakit Darah Pisang, Dinas Pertanian: Eradikasi Total Jadi Satu-satunya Solusi
DPRD Sikka Belum Tahu Rencana Dana Eks Pilkades Akan Dipakai Bayar Utang Daerah dan Rehab Kantor, Minta Prioritaskan Intervensi Ekonomi Rakyat
Utang Klaim SKTM Pemkab Sikka ke RSUD T.C. Hillers Maumere Tembus Rp 12 Miliar Lebih
Ikatan Guru Agama Katolik Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dihina “Monyet”, Desak Kemenag Bertanggung Jawab dan Polisi Usut Tuntas
Kabupaten Sikka Kembali Raih Predikat Istimewa IRH Ketiga Kali Berturut turut
Hanya Dapat 10 Persen, RSUD TC Hillers Diminta Kaji Ulang Kerjasama Unit Hemodialisis dengan Pihak Ketiga
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 6 August 2026 - 11:36 WITA

Pemkab Ajukan Revisi Perda Pilkades ke DPRD Sikka, Butuh Anggaran Sekitar Rp 150 Juta

Thursday, 6 August 2026 - 10:10 WITA

Realisasi Pendapatan Daerah Masih Rendah, Bapenda Sikka: Jika Triwulan III Tak Capai 75 Persen, Banyak Belanja Tak Bisa Direalisasikan

Thursday, 6 August 2026 - 07:05 WITA

Produksi Pisang di Sikka Anjlok Dua Tahun Terakhir Dipicu Penyakit Darah Pisang, Akademisi Unipa: Eradikasi Total saja Tak Cukup, Perlu Penanganan Terpadu

Wednesday, 5 August 2026 - 10:29 WITA

Kabupaten Sikka Masih Zona Merah Penyakit Darah Pisang, Dinas Pertanian: Eradikasi Total Jadi Satu-satunya Solusi

Wednesday, 5 August 2026 - 08:22 WITA

DPRD Sikka Belum Tahu Rencana Dana Eks Pilkades Akan Dipakai Bayar Utang Daerah dan Rehab Kantor, Minta Prioritaskan Intervensi Ekonomi Rakyat

Berita Terbaru