Bencana gempa tidak hanya mengguncang tanah. Ia juga mengguncang cara manusia memandang hidup, sesama, dan dirinya sendiri. Ketika rumah roboh, jalan terputus, pekerjaan berhenti, dan kebutuhan dasar menjadi sulit diperoleh, manusia masuk ke dalam situasi yang sangat rapuh. Pada titik itu, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi sangat berarti. Namun, di tengah situasi bencana, muncul sebuah pertanyaan yang sederhana:
Apakah kita masih mampu bersyukur ketika yang kita terima tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan?
Pertanyaan ini penting untuk direnungkan oleh masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak gempa. Mengajak masyarakat bersyukur atas bantuan bukan berarti meminta mereka diam terhadap kekurangan. Syukur tidak boleh dipahami sebagai: “Terima saja apa yang diberikan, jangan banyak bertanya.” Bukan itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Syukur adalah kemampuan manusia untuk mengenali nilai dari sebuah kebaikan, sekalipun kebaikan itu datang dalam bentuk yang sederhana. Jika seseorang datang membawa satu dus air mineral, beberapa bungkus makanan, selimut, pakaian, atau sekadar membantu mengangkat puing rumah, mungkin nilainya tidak besar jika dihitung dengan uang. Tetapi dalam kemanusiaan, nilai sebuah pemberian tidak selalu ditentukan oleh berapa harganya, melainkan oleh makna kehadiran manusia di balik pemberian itu.
Satu botol air mungkin kecil. Tetapi bagi orang yang kehausan, ia adalah kehidupan. Satu selimut mungkin sederhana. Tetapi bagi seorang anak yang tidur di tenda pengungsian pada malam yang dingin, ia adalah rasa aman. Satu pelukan mungkin tidak memiliki harga. Tetapi bagi seseorang yang baru kehilangan rumah atau anggota keluarga, pelukan itu dapat menjadi pesan: “Kamu tidak sendirian.”
Filsafat Stoik: Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita bisa memilih sikap

Filsafat Stoik mengajarkan pembedaan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Gempa bumi bukan sesuatu yang dapat kita kendalikan. Kerusakan rumah bukan sesuatu yang selalu dapat kita cegah. Besarnya bantuan yang datang juga tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Tetapi ada sesuatu yang masih berada dalam ruang kebebasan manusia yakni bagaimana kita merespons keadaan tersebut.
Kita dapat memilih untuk marah. Kita dapat memilih untuk kecewa. Kita dapat memilih untuk saling menyalahkan. Tetapi kita juga dapat memilih untuk menghargai setiap tangan yang datang membantu. Ini bukan berarti meniadakan kritik. Justru dalam situasi bencana, kritik tetap diperlukan agar bantuan lebih tepat sasaran, lebih adil, transparan, dan tidak meninggalkan kelompok yang paling rentan. Namun ada perbedaan antara kritik untuk memperbaiki keadaan dan ketidakpuasan yang membuat kebaikan orang lain kehilangan makna.
Aristoteles dan Etika Kebajikan: Syukur adalah karakter
Aristoteles melihat kehidupan yang baik bukan hanya sebagai persoalan memiliki banyak hal, tetapi tentang membangun karakter yang baik. Dalam konteks bencana, karakter manusia terlihat bukan ketika semuanya berjalan baik.
Karakter justru terlihat ketika seseorang berada dalam kekurangan. Apakah ia masih mampu menghargai? Apakah ia masih mampu berbagi? Apakah ia masih mampu melihat kebaikan di tengah penderitaan?
Orang yang memiliki kebajikan tidak berarti orang yang tidak memiliki kebutuhan. Ia tetap boleh meminta.Ia tetap boleh mengkritik. Ia tetap boleh mengatakan bahwa bantuan belum cukup. Tetapi ia tidak kehilangan kemampuan untuk mengatakan: “Terima kasih kepada mereka yang sudah datang membantu.” Di situlah syukur menjadi bagian dari karakter manusia.
Kritik tetap penting: Syukur tidak boleh menjadi alat untuk membungkam

Ada satu jebakan dalam berbicara tentang syukur. Jangan sampai kalimat: “Syukuri saja bantuan yang ada.” digunakan untuk membenarkan bantuan yang tidak adil, tidak transparan, atau tidak sesuai kebutuhan. Masyarakat korban bencana memiliki hak untuk mendapatkan bantuan yang layak. Mereka memiliki hak untuk bertanya: Ke mana bantuan disalurkan? Siapa yang menerima? Apakah kelompok rentan sudah mendapatkan perhatian? Apakah distribusinya adil? Apakah bantuan sesuai kebutuhan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk tidak bersyukur. Justru itu bagian dari tanggung jawab moral dalam penanggulangan bencana.
Karena itu, kita perlu membedakan Syukur terhadap kebaikan manusia dan pengawasan terhadap sistem bantuan. Keduanya dapat berjalan bersamaan. Kita dapat berkata “Terima kasih atas bantuan yang diberikan.” sekaligus mengatakan “Mari kita pastikan bantuan berikutnya lebih tepat sasaran.” Itulah kedewasaan moral.
Emmanuel Levinas: Wajah orang lain adalah panggilan untuk bertanggung jawab
Dalam pemikiran Emmanuel Levinas, perjumpaan dengan wajah orang lain menghadirkan sebuah tuntutan moral yakni manusia dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap sesamanya. Dalam bencana, kita melihat wajah manusia yang kehilangan rumah. Wajah seorang ibu yang bingung mencari kebutuhan anaknya. Wajah seorang anak yang kehilangan tempat bermain. Wajah seorang lansia yang kehilangan rasa aman. Pada saat itu, mereka bukan sekadar “penerima bantuan”.
Mereka adalah sesama manusia. Begitu pula orang yang memberikan bantuan bukan sekadar “donatur”. Ia adalah manusia yang memilih untuk hadir. Karena itu, bantuan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai transaksi yakni pemberi , barang dan penerima. Di baliknya ada relasi kemanusiaan, manusia dengan manusia. Dan mungkin inilah makna terdalam dari solidaritas dalam bencana.
Jangan mengukur kebaikan hanya dengan ukuran besar dan kecil
Kita sering terjebak dalam logika angka. Bantuan Rp100 juta dianggap besar. Bantuan satu juta dianggap kecil. Satu truk logistik dianggap berarti. Satu dus makanan dianggap biasa. Padahal penderitaan manusia tidak selalu dapat diukur dengan kalkulator. Seorang warga yang hanya memiliki dua bungkus nasi tetapi memberikan satu kepada tetangganya mungkin sedang memberikan sesuatu yang sangat besar secara moral. Karena ia memberi bukan dari kelebihan, tetapi dari keterbatasan. Di sinilah mengajarkan bahwa nilai moral tidak selalu identik dengan nilai material. Yang membuat sebuah bantuan berharga bukan semata-mata jumlahnya tetapi ada unsur lain yaitu niat, pengorbanan, kepedulian, dan kehadiran.
Flores membutuhkan lebih dari sekadar logistik: Flores membutuhkan solidaritas
Dalam situasi bencana, masyarakat memang membutuhkan makanan, air, obat-obatan, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya. Tetapi masyarakat juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kardus. Apa itu? Itu adalah rasa bahwa mereka tidak ditinggalkan. Ketika seseorang datang dari tempat yang jauh untuk membawa bantuan, ia sebenarnya membawa pesan “Kami melihat penderitaanmu.”
Ketika relawan bekerja tanpa mengenal waktu, ia membawa pesan “Kamu tidak menghadapi ini sendirian.” Ketika tetangga membagi makanan yang mereka miliki, ia membawa pesan: “Kita akan melewati ini bersama.” Inilah solidaritas. Dan solidaritas adalah salah satu bentuk tertinggi dari kemanusiaan
Syukur bukan akhir perjuangan Namun, syukur bukan berarti berhenti berharap. Syukur bukan berarti berhenti memperjuangkan hak. Syukur bukan berarti menolak bantuan yang lebih baik. Syukur justru dapat menjadi energi untuk membangun kembali.
Kita bersyukur atas satu paket makanan, tetapi tetap bekerja agar besok tersedia makanan yang lebih cukup. Kita bersyukur atas sebuah tenda, tetapi tetap memperjuangkan tempat tinggal yang layak. Kita bersyukur atas bantuan hari ini, tetapi tetap membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih baik untuk masa depan. Dengan demikian, syukur tidak membuat manusia pasif. Syukur justru dapat membuat manusia lebih kuat. Pada akhirnya, bencana menguji bukan hanya bangunan, tetapi juga kemanusiaan.
Gempa dapat meruntuhkan rumah, tetapi jangan sampai ia meruntuhkan solidaritas. Gempa dapat memutus jalan, tetapi jangan sampai ia memutus hubungan antarmanusia. Gempa dapat membuat kita kehilangan banyak hal, tetapi jangan sampai kita kehilangan kemampuan untuk menghargai kebaikan. Maka, kepada siapa pun yang sedang menerima bantuan di tengah bencana,
Syukurilah setiap kebaikan yang datang. Bukan karena bantuan itu selalu cukup. Bukan karena kita tidak boleh meminta lebih. Bukan pula karena kita harus menerima segala sesuatu tanpa kritik. Tetapi karena di balik bantuan itu ada manusia yang memilih untuk peduli.
Dan kepada mereka yang memberikan bantuan: Jangan merasa berjasa hanya karena telah memberi. Sebab dalam bencana, kita semua sebenarnya sedang belajar hal yang sama bahwa manusia tidak pernah benar-benar mampu bertahan sendirian. Hari ini mungkin kita adalah pemberi dan bsok mungkin kita menjadi penerima. Dan ketika saat itu tiba, kita berharap masih ada manusia lain yang berkata “Jangan takut. Kami ada di sini”. Oleh: John Orlando, S.Fil
Penulis : Opini
Editor : redaksi










