
Sikka-Proyek pembangunan Puskesmas Tuanggeo di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka resmi dimulai. Pekerjaan fisik senilai Rp 6,4 miliar ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, Jumat (25/7/2025) siang.
Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus, Camat Palue, Kapospol, Kepala Puskesmas Tuanggeo, para penjabat kepala desa se-Kecamatan Palue, serta ratusan warga Desa Ladolaka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
CV Jati Mas: Komitmen Tuntaskan Proyek Sesuai Tenggat Waktu
Haji Yusuf, kontraktor pelaksana dari CV Jati Mas, menyatakan komitmennya untuk menuntaskan proyek ini tepat waktu.
“Kami berusaha maksimal menyelesaikan proyek ini tanpa kendala dan sesuai target waktu. Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan semua pihak,” ucap Haji Yusuf di hadapan warga.
Proyek ini didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2025, dengan masa kerja mulai 18 Juli hingga 3 Desember 2025. Selain CV Jati Mas sebagai pelaksana, pengawasan dilakukan oleh CV EZA Consult dan CV Putra Timur Jaya.
Pantauan di lapangan menunjukkan pekerjaan penggalian fondasi telah dimulai di lokasi strategis, sekitar 1 km dari Kantor Desa Ladolaka.
Kadinkes Sikka: Ini Penantian Panjang, Tolong Jaga PPK-nya

Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus, menegaskan bahwa proyek ini adalah jawaban atas penantian panjang warga Tuanggeo.
“Puskesmas ini sudah diimpikan sejak 2007, tapi proyek lama mangkrak. Kami usulkan lokasi baru sejak 2015. Usulan itu kami kirim tujuh tahun berturut-turut, dan akhirnya tahun 2025 ini Kemenkes menyetujui penuh,” jelasnya.
Tak hanya gedung puskesmas prototipe, paket pembangunan juga mencakup mobil ambulans, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan bak penampung air.
Menariknya, Kadis Herlemus juga bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) karena tak ada ASN lain yang bersedia mengambil tanggung jawab tersebut.
“Saya minta, jaga baik-baik PPK-nya. Jangan sampai nanti gedung jadi dan dipakai, saya yang dipanggil ke kejaksaan. Sudah banyak contoh,” ujarnya sambil mengingatkan soal risiko hukum dalam pengadaan proyek kesehatan.
Untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi, Kadis Herlemus menyebut bahwa pembangunan akan diawasi ketat melalui 4 unit CCTV dan kamera drone yang terhubung langsung ke ruang kerjanya. Proyek ini juga didampingi oleh Kejaksaan Negeri Maumere.
“Kalau ada masalah teknis, jangan langsung ke kontraktor. Semua harus melalui saya sebagai PPK. Saya minta finishingnya nanti gunakan tukang yang benar-benar profesional, karena hasil akhir akan menjadi wajah pelayanan,” tegasnya.








