TAJUKNTT-SIKKA-Siang itu seharusnya menjadi jeda bagi Yoseph Nong setelah sejak pagi ikut berjaga bersama warga lainnya untuk menghadang 13 traktor milik PT Krisrama, perusahaan milik Keuskupan Maumere yang rencananya akan melakukan pembersihan lahan di wilayah Hak Guna Ulayat (HGU) yang terletak di Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Wilayah itu meliputi Utan Wair, Hitohalok dan Wairhek yang ditempati oleh Suku Soge Natarmage dan Suku Goban Runut.
Lansia berusia kira-kira 80 tahun itu merasa lelah setelah berjam-jam berdiri di jalan, menghalangi laju alat berat yang dikhawatirkan akan meratakan kebun kecil di wilayah tersebut. Ia ingin tidur sejenak dan akan kembali ke sana setelah 30 menit beristirahat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun istirahat itu tak berlangsung lama. Sekitar 20 menit memejamkan matanya, sebuah raungan tajam berbunyi persis dibawah telinganya. Ia sadar, itu bukan suara traktor melainkan mesin sensor. Yoseph pun terbangun dengan jantung berdegup keras.
Dalam ketakutan, ia beranjak dari tempat tidur—bukan karena hanya terkejut, tetapi karena keyakinan bahwa pohon kelapa di samping rumahnya itu benar-benar tumbang dan siap menimpa rumahnya yang berdinding bambu itu yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama istri dan anaknya. Namun ketika ia mengintip dari sela dinding kamar, pemandangan yang tersaji justru jauh lebih mengagetkan, bukan pohon kelapa yang tumbang, melainkan deretan tanaman yang selama ini menjadi sumber hidupnya seperti mete, pisang, pepaya, nangka, hingga jambu, rebah di halaman rumahnya ditebang secara paksa oleh beberapa orang menggunakan sensor dan parang.
Dengan langkah gontai namun dipenuhi keberanian, Yoseph membuka pintu belakang rumahnya, berharap masih bisa melihat siapa yang merusak kebun kecilnya, tetapi suara mesin itu sudah berpindah ke titik lain di lokasi tersebut.
Ia melihat ke sekelilingnya, ternyata bukan hanya tanamannya saja, tetapi sejuh matanya memandang, semua tanaman milik para petani di wilayah itu turut di tebang.
“Yang biasa sensor hanya mereka dari PT Krisrama,” ujarnya perlahan. Wajah yang semakin menua itu menahan kesedihan. Ia menarik napas panjang, lebih sebagai upaya menahan sesak daripada sekadar mengambil napas, sebelum akhirnya bercerita bahwa sehari sebelumnya warga diberi tahu “akan ada pembersihan lahan oleh perusahaan milik Keuskupan Maumere” sebuah perusahaan yang sudah lama bersitegang dengan masyarakat suku Soge Natarmage dan Goban Runut terkait tanah Hak Guna Ulayat di Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Gerakan Sunyi dari Arah Timur

Warga, termasuk Yoseph Sejak pagi telah sepakat menghadang 13 traktor dan pekerja yang datang dari Maumere. Semua massa terkonsentrasi di jalan utama, memblokade alat berat dari arah barat. Mereka percaya bahwa pembersihan lahan hanya akan dilakukan menggunakan traktor.
“Sebelumnya tidak ada tanda-tanda mereka akan bersihkan pakai sensor dan parang. Kami dapat informasi mereka akan lakukan pembersihan menggunakan traktor,” terang Yoseph.
Namun siang itu, yang datang justru bukan traktor, melainkan mesin sensor yang lebih dulu “membersihkan” kebun kecil keluarga mereka tanpa dialog, tanpa kompromi.
Yang tidak mereka ketahui rombongan lain yang diduga suruhan perusahaan bergerak diam-diam dari arah yang berbeda.
“Mereka bergerak dari arah yang berbeda memanfaatkan suasana dimana warga sedang melakukan aksi di jalan,” kata Yoseph.
Kata Yoseph, orang-orang itu memakai kain merah putih yang dililitkan di kepala maupun di lengan, memegang sensor dan parang. Mereka menggunakan kesempatan saat hampir semua warga sedang tidak ada di rumahnya.
Kata Yoseph, warga yang berjaga di jalan baru mengetahui bahwa tanaman mereka di tebas setelah ada warga lain yang memanggil dan mengatakan bahwa ada orang suruhan lain PT. Krisrama menebas tanamana di pekarangan rumah mereka. Warga pun kemudian berbondong-bondong kembali dan mendapati tanaman mereka telah hancur.
Aksi Penebangan Tanaman Berujung Saling Lempar

Warga yang merasa kesal karena tanamannya habis di tebang oleh pihak PT. Krisrama, kemudian mengepung lokasi tersebut, melempar batu dan menyerang menggunakan busur dan panah. Aktivitas penebangan itu pun terhenti dan orang-orang suruhan PT. Krisrama berlari menyelamatkan diri. Situasi yang sempat memanas kemudian kembali kondusif setelah pihak kepolisian dari Polsek Waigete turun langsung mengamankan situasi.
Warga kemudian melampiaskan kemarahannya kepada RD. Yan Farokah, Kepala Operasional PT. Krisrama, Camat Talibura, Lazarus Gunter dan Camat Waigete, Antonius Jabo Liwu. Ketiganya diketahui sedang mengawasi langsung proses pembersihan lahan.
Warga mengatakan tindakan yang dilakukan oleh PT. Krisrama sebagai sebuah perusahaan milik Keuskupan Maumere “tidak mencerminkan cinta kasih.” Pasalnya tanaman milik warga yang mendukung ekonomi masyarakat kecil malah ditebas tanpa ampun.
“Dari hasil mete dan hasil kebun yang sudah kamu tebang itu kami gunakan untuk kolekte bahkan sedikit demi sedikit untuk keperluan makan minum romo. Kenapa romo tega hancurkan tanaman milik kami, itu kah cinta kasih yang romo ajarkan untuk umat?” kata warga.
Mereka pun mengaku kesal terhadap pihak pemerintah yang “tidak mengayomi masyarakat kecil dan sebaliknya mendukung pembersihan lahan tersebut.”
Penulis: Mia Margaretha Holo.
Editor: Redaksi










