Konflik Agraria: Pembersihan Lahan HGU Memicu Bentrokan Warga dan PT Krisrama

- Reporter

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yoseph Nong, warga Wairhek, Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka berdiri di halaman rumahnya menyaksikan tanaman seperti pohon mete yang sudah ditebang oleh PT. Krisrama menggunakan sensor (Foto : Mia Margaretha Holo/TajukNTT)

Yoseph Nong, warga Wairhek, Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka berdiri di halaman rumahnya menyaksikan tanaman seperti pohon mete yang sudah ditebang oleh PT. Krisrama menggunakan sensor (Foto : Mia Margaretha Holo/TajukNTT)

 

TAJUKNTT-SIKKA-Siang itu seharusnya menjadi jeda bagi Yoseph Nong setelah sejak pagi ikut berjaga bersama warga lainnya untuk menghadang 13 traktor milik PT Krisrama, perusahaan milik Keuskupan Maumere yang rencananya akan melakukan pembersihan lahan di wilayah Hak Guna Ulayat (HGU) yang terletak di Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Wilayah itu meliputi Utan Wair, Hitohalok dan Wairhek yang ditempati oleh Suku Soge Natarmage dan Suku Goban Runut.

Lansia berusia kira-kira 80 tahun itu merasa lelah setelah berjam-jam berdiri di jalan, menghalangi laju alat berat yang dikhawatirkan akan meratakan kebun kecil di wilayah tersebut. Ia ingin tidur sejenak dan akan kembali ke sana setelah 30 menit beristirahat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun istirahat itu tak berlangsung lama. Sekitar 20 menit memejamkan matanya, sebuah raungan tajam berbunyi persis dibawah telinganya. Ia sadar, itu bukan suara traktor melainkan mesin sensor. Yoseph pun terbangun dengan jantung berdegup keras.

Dalam ketakutan, ia beranjak dari tempat tidur—bukan karena hanya terkejut, tetapi karena keyakinan bahwa pohon kelapa di samping rumahnya itu benar-benar tumbang dan siap menimpa rumahnya yang berdinding bambu itu yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama istri dan anaknya. Namun ketika ia mengintip dari sela dinding kamar, pemandangan yang tersaji justru jauh lebih mengagetkan, bukan pohon kelapa yang tumbang, melainkan deretan tanaman yang selama ini menjadi sumber hidupnya seperti mete, pisang, pepaya, nangka, hingga jambu, rebah di halaman rumahnya ditebang secara paksa oleh beberapa orang menggunakan sensor dan parang.

Dengan langkah gontai namun dipenuhi keberanian, Yoseph membuka pintu belakang rumahnya, berharap masih bisa melihat siapa yang merusak kebun kecilnya, tetapi suara mesin itu sudah berpindah ke titik lain di lokasi tersebut.

Ia melihat ke sekelilingnya, ternyata bukan hanya tanamannya saja, tetapi sejuh matanya memandang, semua tanaman milik para petani di wilayah itu turut di tebang.

“Yang biasa sensor hanya mereka dari PT Krisrama,” ujarnya perlahan. Wajah yang semakin menua itu menahan kesedihan. Ia menarik napas panjang, lebih sebagai upaya menahan sesak daripada sekadar mengambil napas, sebelum akhirnya bercerita bahwa sehari sebelumnya warga diberi tahu “akan ada pembersihan lahan oleh perusahaan milik Keuskupan Maumere” sebuah perusahaan yang sudah lama bersitegang dengan masyarakat suku Soge Natarmage dan Goban Runut terkait tanah Hak Guna Ulayat di Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Gerakan Sunyi dari Arah Timur

Tanaman warga Wairhek, Desa Nanghale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka yang ditebas oleh PT. Krisrama pada Senin, 1 Desember 2025 (Foto : Mia Margaretha Holo/TajukNTT)

Warga, termasuk Yoseph Sejak pagi telah sepakat menghadang 13 traktor dan pekerja yang datang dari Maumere. Semua massa terkonsentrasi di jalan utama, memblokade alat berat dari arah barat. Mereka percaya bahwa pembersihan lahan hanya akan dilakukan menggunakan traktor.

“Sebelumnya tidak ada tanda-tanda mereka akan bersihkan pakai sensor dan parang. Kami dapat informasi mereka akan lakukan pembersihan menggunakan traktor,” terang Yoseph.

Namun siang itu, yang datang justru bukan traktor, melainkan mesin sensor yang lebih dulu “membersihkan” kebun kecil keluarga mereka tanpa dialog, tanpa kompromi.

Yang tidak mereka ketahui rombongan lain yang diduga suruhan perusahaan bergerak diam-diam dari arah yang berbeda.

“Mereka bergerak dari arah yang berbeda memanfaatkan suasana dimana warga sedang melakukan aksi di jalan,” kata Yoseph.

Kata Yoseph, orang-orang itu memakai kain merah putih yang dililitkan di kepala maupun di lengan, memegang sensor dan parang. Mereka menggunakan kesempatan saat hampir semua warga sedang tidak ada di rumahnya.

Kata Yoseph, warga yang berjaga di jalan baru mengetahui bahwa tanaman mereka di tebas setelah ada warga lain yang memanggil dan mengatakan bahwa ada orang suruhan lain PT. Krisrama menebas tanamana di pekarangan rumah mereka. Warga pun kemudian berbondong-bondong kembali dan mendapati tanaman mereka telah hancur.

Aksi Penebangan Tanaman Berujung Saling Lempar

Warga Wairhek, Hitohalok, Utan Wair memblokade jalan trans Maumere-Larantuka untuk menghadang traktor dari PT. Krisrama yang akan menggusur tanaman warga ( Foto : Mia Margaretha Holo/TajukNTT)

Warga yang merasa kesal karena tanamannya habis di tebang oleh pihak PT. Krisrama, kemudian mengepung lokasi tersebut, melempar batu dan menyerang menggunakan busur dan panah. Aktivitas penebangan itu pun terhenti dan orang-orang suruhan PT. Krisrama berlari menyelamatkan diri. Situasi yang sempat memanas kemudian kembali kondusif setelah pihak kepolisian dari Polsek Waigete turun langsung mengamankan situasi.

Warga kemudian melampiaskan kemarahannya kepada RD. Yan Farokah, Kepala Operasional PT. Krisrama, Camat Talibura, Lazarus Gunter dan Camat Waigete, Antonius Jabo Liwu. Ketiganya diketahui sedang mengawasi langsung proses pembersihan lahan.

Warga mengatakan tindakan yang dilakukan oleh PT. Krisrama sebagai sebuah perusahaan milik Keuskupan Maumere “tidak mencerminkan cinta kasih.” Pasalnya tanaman milik warga yang mendukung ekonomi masyarakat kecil malah ditebas tanpa ampun.

“Dari hasil mete dan hasil kebun yang sudah kamu tebang itu kami gunakan untuk kolekte bahkan sedikit demi sedikit untuk keperluan makan minum romo. Kenapa romo tega hancurkan tanaman milik kami, itu kah cinta kasih yang romo ajarkan untuk umat?” kata warga.

Mereka pun mengaku kesal terhadap pihak pemerintah yang “tidak mengayomi masyarakat kecil dan sebaliknya mendukung pembersihan lahan tersebut.”

Penulis: Mia Margaretha Holo.

Editor: Redaksi

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rapat Paripurna TMMD 2025 Tetapkan Sikka dalam Pelaksanaan TMMD 2026
Vox Point Indonesia Sikka Teguhkan Peran Kebangsaan: Rayakan HUT ke-4, Kukuhkan Panitia Konferwil, dan Umumkan Pemenang Lomba Pesan Natal
Vox Point Indonesia Sikka Gelar Rapat Final Jelang Dies Natalis ke-4, Siap Hadirkan Perayaan yang Lebih Bermakna
Sekda Sikka Buka Sosialisasi Jamsostek Konstruksi
PT Krisrama Pastikan Pembersihan dan Pengolahan Lahan HGU Nangahale Tetap Berlanjut
Desa Tertinggal Sikka Turun Tajam dari 50 ke 30, Jumlah Desa Maju dan Mandiri Terus Bertambah di 2025
Jalan Terjal Penghapusan Stigma ODHA di Sikka, Target Nol HIV/AIDS di 2030 Jadi Tantangan Berat
Program Rumah Terima Kunci Bagi Warga Miskin Ekstrem Terancam Tak Jalan, Praktisi Hukum Soroti Lemahnya Sinergi Pemkab Sikka dan DPRD
Berita ini 73 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 03:21 WITA

Rapat Paripurna TMMD 2025 Tetapkan Sikka dalam Pelaksanaan TMMD 2026

Jumat, 5 Desember 2025 - 12:17 WITA

Vox Point Indonesia Sikka Teguhkan Peran Kebangsaan: Rayakan HUT ke-4, Kukuhkan Panitia Konferwil, dan Umumkan Pemenang Lomba Pesan Natal

Kamis, 4 Desember 2025 - 15:37 WITA

Vox Point Indonesia Sikka Gelar Rapat Final Jelang Dies Natalis ke-4, Siap Hadirkan Perayaan yang Lebih Bermakna

Kamis, 4 Desember 2025 - 02:29 WITA

Sekda Sikka Buka Sosialisasi Jamsostek Konstruksi

Rabu, 3 Desember 2025 - 11:23 WITA

PT Krisrama Pastikan Pembersihan dan Pengolahan Lahan HGU Nangahale Tetap Berlanjut

Berita Terbaru

Neo Haven Taniwijaya 
Pelajar SMPK Frater Maumere

Uncategorized

Pelajar Kabupaten Sikka Wakili Indonesia Raih Perunggu di IJSO Rusia

Sabtu, 6 Des 2025 - 03:26 WITA