Duka Mendalam Ibu Korban Pembunuhan di Rubit, Sikka: “Kami Miskin, Tapi Kami Butuh Keadilan”

- Reporter

Senin, 2 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari kiri ke kanan: kedua kakak dan orang tua korban pembunuhan, STN.

Dari kiri ke kanan: kedua kakak dan orang tua korban pembunuhan, STN.

 

MAUMERE-TAJUKNTT-Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga almarhumah STN (14), remaja putri kelas II SMP MBC Ohe yang menjadi korban pembunuhan tragis di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka. Di balik proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian, terselip jeritan hati seorang ibu yang merasa suaranya tak terdengar karena keterbatasan ekonomi.

Noni, ibunda kandung STN, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap penanganan kasus yang menimpa putrinya. Baginya, klarifikasi administratif dari pihak kepolisian belum mampu mengobati luka batin maupun menjawab teka-teki pelaku utama di balik kematian buah hatinya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekecewaan terhadap Kinerja Aparat

Noni secara terbuka mengkritik kinerja aparat penegak hukum, mulai dari tingkat Polsek Kewapante hingga Polres Sikka. Ia merasa ada ketimpangan dalam penanganan kasus ini, yang menurutnya dipicu oleh status sosial keluarganya.

“Saya sebagai ibunya, saya kecewa. Saya kecewa mulai dari kinerjanya, dari kepolisian bagian Kewapante, dari Polsek, dari Polres. Karena untuk penanganan kasus anak saya seperti itu, mungkin karena kami itu miskin, kami orang bodoh,” ujar Noni dengan nada bergetar saat ditemui wartawan di kediamannya.

Kekecewaan ini memuncak setelah keluarga mendengar kabar bahwa SG, sosok yang mereka duga kuat sebagai dalang utama, justru dibebaskan dengan status hanya sebagai saksi. Meskipun polisi berdalih bahwa SG sempat mengeluh sakit dan harus dibawa ke IGD RSU TC Hillers Maumere, bagi keluarga, alasan tersebut sulit diterima di tengah hilangnya nyawa seorang anak.

Bagi Noni, keadilan tidak memiliki kelas sosial. Ia menegaskan tidak akan menyerah meski harus menempuh jalur hukum yang lebih tinggi. Jika Polres Sikka dianggap tidak mampu menuntaskan kasus ini secara transparan, ia bertekad membawa persoalan ini ke tingkat Polda NTT bahkan hingga ke Mabes Polri di Jakarta.

“Saya mau anak saya mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Kalau seandainya kepolisian Maumere tidak bisa menangani kasus anak saya dengan serius, saya mohon bantu saya agar saya bisa menaikkan kasus anak saya ke Polda atau ke Metro,” tegasnya.

Ia memegang prinsip sederhana namun tajam: “Apa yang mereka tanam, mereka harus menuai hasilnya.”

Tanggapan Pihak Kepolisian

Sebelumnya, Polres Sikka melalui Kasat Reskrim Iptu Reinhard Dionisius Siga dan Kasi Humas Iptu Leonardus Tunga telah memberikan klarifikasi. Pihak kepolisian membantah isu bahwa SG melarikan diri dan menegaskan bahwa proses penyelidikan tetap berjalan sesuai prinsip pro justitia dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

Namun, pernyataan tersebut nampaknya belum cukup bagi pihak keluarga yang menginginkan langkah konkret berupa penetapan tersangka yang dianggap paling bertanggung jawab.

Kasus pembunuhan STN telah menjadi perhatian luas masyarakat di Kabupaten Sikka dan Pulau Flores. Publik kini menanti keberanian penyidik untuk mengungkap alat bukti baru guna memberikan kepastian hukum. Di sisi lain, perjuangan Noni menjadi simbol perlawanan warga kecil yang menuntut kesetaraan di mata hukum.

Hingga berita ini diturunkan, proses penyelidikan masih terus berlanjut. Keluarga korban hanya berharap, kemiskinan jangan sampai menjadi penghalang bagi terungkapnya kebenaran atas nyawa STN yang terenggut secara paksa.

Penulis: Faidin

Editor: Redaksi

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Kota Maumere yang Tinggal Sendirian Ditemukan Membusuk di Dalam Rumahnya, Diduga Akibat Sakit Komplikasi
Berkas Kasus Pembunuhan Pelajar SMP di Desa Rubit Dinyatakan P-21 oleh Kejaksaan Negeri Sikka
Lanjutan Praperadilan Dugaan TPPO Eltras Pub; Replik Pemohon Ungkap Soal Cacat Bernalar Hingga Bukti Kasbon 13 LC “Hilang”
Guru PPPK di Sikka Ditemukan Meninggal Dunia, Sempat Diskorsing dari Sekolah
Termohon Minta Hakim Tolak Permohonan Praperadilan Eltras Pub & Karaoke
Pengungkapan Waktu Kematian Anak Korban STN Sangat Krusial, Tim Kuasa Hukum Minta Polres Sikka Libatkan Dokter Forensik dan Patologi Forensik
Praperadilan TPPO Eltras Pub, Kuasa Hukum Minta Hakim Batalkan Penetapan Tersangka
Seorang Guru SMP di Sikka Ditemukan Meninggal Dunia, Diduga Gantung Diri Usai Pulang dari Kupang
Berita ini 280 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:08 WITA

Warga Kota Maumere yang Tinggal Sendirian Ditemukan Membusuk di Dalam Rumahnya, Diduga Akibat Sakit Komplikasi

Jumat, 17 April 2026 - 13:33 WITA

Berkas Kasus Pembunuhan Pelajar SMP di Desa Rubit Dinyatakan P-21 oleh Kejaksaan Negeri Sikka

Rabu, 15 April 2026 - 07:53 WITA

Lanjutan Praperadilan Dugaan TPPO Eltras Pub; Replik Pemohon Ungkap Soal Cacat Bernalar Hingga Bukti Kasbon 13 LC “Hilang”

Rabu, 15 April 2026 - 05:35 WITA

Guru PPPK di Sikka Ditemukan Meninggal Dunia, Sempat Diskorsing dari Sekolah

Rabu, 15 April 2026 - 00:42 WITA

Termohon Minta Hakim Tolak Permohonan Praperadilan Eltras Pub & Karaoke

Berita Terbaru