MAUMERE, TAJUKNTT-Di tengah semangat meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Sikka, SMPN 46 Nangahale masih bergelut dengan keterbatasan sarana belajar.
Sekolah yang berada di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura itu bahkan sempat menumpang di gedung sekolah lain dan hingga kini masih meminjam meja dan kursi dari SD Utan Wair untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala SMPN 46 Nangahale, Tuti Lisnawati mengatakan, sejak berdiri pada tahun 2022 hingga Maret 2025, aktivitas belajar mengajar dilakukan dengan menumpang di gedung SMKN 1 Talibura.
“Kami tahun pertama 2022 sampai Maret 2025 masih menumpang di gedung SMKN 1 Talibura. Setelah memiliki gedung sendiri kami pindah, sekaligus meminjam meja dan kursi milik SMK,” ujar Tuti Lisnawati dalam wawancara terpisah dengan media ini.
Menurutnya, pada tahun 2023 sekolah sempat memperoleh bantuan dari Pemda Sikka berupa 60 pasang meja dan kursi siswa. Namun bantuan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan belajar siswa yang terus bertambah.

Kondisi semakin sulit ketika pada November 2025 pihak SMKN 1 Talibura menarik kembali meja dan kursi pinjaman yang sebelumnya digunakan SMPN 46 Nangahale.
“Setelah itu kami mengalami kekurangan meja dan kursi di tiga ruang kelas,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pihak sekolah berupaya mencari bantuan secara swadaya. Sekolah kemudian mendapat dukungan dari para donatur berupa 88 kursi plastik untuk digunakan siswa saat belajar.
“Sementara untuk meja, kami menggunakan meja panjang dari tripleks. Tetapi karena tidak kuat, pada Februari kemarin sebagian meja rusak dan tidak bisa lagi digunakan,” jelasnya.
Saat ini, kata Tuti, kondisi paling memprihatinkan terjadi di kelas 8 yang belum memiliki meja belajar memadai. Siswa hanya menggunakan kursi plastik saat mengikuti proses pembelajaran.
Selain itu, untuk kelas 7, sekolah masih meminjam sekitar 96 pasang meja dan kursi dari SD Utan Wair agar kegiatan belajar tetap berjalan.
“Kami terus berupaya supaya anak-anak tetap bisa belajar walaupun fasilitas sangat terbatas,” ujarnya dalam sambutan saat serah terima bantuan fasilitas air bersih dari Yayasan Gereja Yesus Kristus Orang-Orang Suci Zaman Akhir, Rabu (6/5/2026) pagi.
Kepsek Tuti menambahkan, melalui Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) tahun 2026, sekolah telah menganggarkan pembelian meubelair sebanyak 84 pasang meja dan kursi siswa.
“Dana BOSP tahun ini sudah kami anggarkan untuk belanja modal meubelair sebanyak 84 pasang meja kursi siswa,” katanya.
Tak hanya kekurangan meubelair, SMPN 46 Nangahale juga masih mengalami keterbatasan ruang kelas. Pihak sekolah terpaksa menyekat ruang perpustakaan dan memanfaatkan ruang UKS, ruang guru hingga ruang kepala sekolah untuk kegiatan belajar mengajar.
“Ruang kepala sekolah sekarang kami tempatkan di area pantri karena keterbatasan ruang,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas, Kepsek Tuti mengatakan, semangat belajar para siswa dan dedikasi guru-guru di SMPN 46 Nangahale tetap tinggi. Menurutnya, kondisi minim sarana tidak menjadi penghalang untuk terus berprestasi.
“Walaupun keterbatasan fasilitas, anak-anak tetap semangat dan guru-guru juga terus berinovasi membuat pembelajaran menyenangkan. Kami tetap berprestasi baik secara akademik maupun non akademik,” ujar Kepsek Tuti.
Ia menyebut, pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025, siswa SMPN 46 Nangahale untuk mata pelajaran IPA berhasil melaju hingga tingkat provinsi.
“OSN 2025 untuk mata pelajaran IPA kami sampai tingkat provinsi,” katanya.
Tak hanya di bidang akademik, prestasi juga diraih di bidang olahraga. Pada Festival Bola Kaki Pelajar SMP tingkat Kabupaten Sikka tahun 2026, SMPN 46 Nangahale berhasil menembus babak grand final.
“Festival bola kaki pelajar SMP se-Kabupaten tahun ini kami masuk grand final,” ungkapnya.










