MAUMERE-Krisis air bersih bukan persoalan baru bagi warga Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Namun, gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 membuat kondisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu semakin berat.
Di tengah musim kemarau, debit sejumlah sumber mata air menurun drastis. Sebagian bahkan mulai mengering. Warga pun kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama air minum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan pendataan Pemerintah Kecamatan Talibura, sebanyak 390 kepala keluarga atau 1.541 jiwa di Desa Kringa kini membutuhkan pasokan air bersih. Mereka tersebar di dua dusun. Sebanyak 177 KK atau 641 jiwa berada di Dusun Kringa, sementara 213 KK atau 900 jiwa lainnya berada di Dusun Boganatar.
Salah seorang warga Desa Kringa, Mia Margaretha Holo, mengatakan kondisi sumber air ikut terdampak setelah gempa 15 Agustus.
”
Kondisinya cukup memprihatinkan. Gempa bumi 15 Agustus lalu mengakibatkan pencemaran lingkungan dan merusak sejumlah sumber mata air,” ungkap Mia, Rabu (2/9/2026). Namun, menurut Mia, gempa bukan satu-satunya penyebab warga mengalami kesulitan air bersih.
Persoalan tersebut sudah dirasakan masyarakat Kringa selama bertahun-tahun dan semakin terasa ketika musim kemarau.

“Di Desa Kringa sebenarnya dari dulu kami memang sudah kekurangan air, itu bertahun-tahun. Bahkan setiap kali proyek yang masuk ke desa itu tidak menjawab harapan masyarakat untuk air minum,” kata Mia.
Karena itu, Mia menilai persoalan air bersih di Kringa tidak seharusnya hanya dilihat sebagai dampak bencana. Ada persoalan lama yang sampai sekarang belum mendapatkan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Jadi ini tidak hanya terjadi ketika erupsi atau setelah erupsi, tetapi memang bertahun-tahun masyarakat Desa Kringa mengalami krisis air,” ujarnya.
Keterbatasan sumber air membuat warga harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya dengan mengambil air dari aliran kali yang sebagian sudah mengering.

Persoalannya, sumber air yang masih tersisa juga dikhawatirkan telah tercemar material akibat erupsi yang terjadi di wilayah tersebut.
“Masyarakat itu mengambil air di kali-kali yang sebenarnya sudah kering. Ada mata air yang tersisa, masyarakat ambil dari sana, dan itu sudah terkontaminasi dengan erupsi yang terus terjadi melanda wilayah itu,” kata Mia.
Kondisi tersebut membuat warga semakin membutuhkan pasokan air bersih dari pemerintah maupun pihak lainnya.
Mia berharap bantuan tidak hanya diberikan untuk menjawab kebutuhan sesaat, tetapi juga ada solusi jangka panjang sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan ketika memasuki musim kemarau.
“Kami sangat berharap pemerintah membantu air minum bersih bagi kami, masyarakat Boganatar, Ogolidi, maupun masyarakat Dusun Kringa,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun media ini, Pemerintah Kecamatan Talibura telah meminta dukungan penanganan kondisi tersebut kepada pihak terkait.
Salah satunya melalui surat permohonan bantuan penanganan darurat air bersih yang dikirim kepada PMI Cabang Sikka pada 28 Agustus 2026.
Surat tersebut ditembuskan kepada Bupati Sikka dan Ketua DPRD Kabupaten Sikka sebagai laporan mengenai kondisi masyarakat Desa Kringa yang membutuhkan pasokan air bersih.










