Pascagempa, Bantuan Terus Berdatangan, Seberapa Siap Gudang Logistik BPBD Sikka Menampung dan Menyalurkannya?

- Reporter

Thursday, 27 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka sekaligus Ketua Satgas Penanganan Bencana Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka sekaligus Ketua Satgas Penanganan Bencana Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa

 

MAUMERE-Bantuan logistik untuk masyarakat terdampak gempa bumi Flores di Kabupaten Sikka terus berdatangan dari pemerintah maupun pihak swasta. Di tengah arus bantuan tersebut, kapasitas gudang, sistem pencatatan, hingga mekanisme distribusi menjadi bagian penting agar bantuan tidak menumpuk dan dapat segera diterima warga yang membutuhkan.

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka sekaligus Ketua Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa atau Femy Bapa, dalam wawancara dengan media ini mengatakan saat ini pemerintah daerah menyiapkan tiga gudang untuk menampung seluruh bantuan yang masuk.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu disampaikan Femy dalam wawancara di Posko BPBD Sikka, Rabu (26/8/2026) sore.

“Tiga gudang logistik. Satu ada di BPBD, kemudian gudang yang kedua ada di Aula DPMD, yang ketiga itu bekas gudang logistik KPU di Gedung Sentra Jata Kapa,” kata Femy.

Menurutnya, setelah gudang ketiga difungsikan, kapasitas penyimpanan saat ini masih sangat mencukupi untuk menerima bantuan yang terus berdatangan.

Jenis bantuan yang diterima juga beragam, mulai dari beras, air mineral, kebutuhan pokok hingga perlengkapan bayi. Air mineral, beras dan perlengkapan bayi disebut menjadi sejumlah jenis bantuan yang paling banyak diterima.

Meski demikian, pengelolaan gudang tetap menghadapi sejumlah persoalan teknis. Saat gudang ketiga dibuka, misalnya, pemerintah perlu melakukan perbaikan pada sistem pengamanan pintu karena masih terdapat celah yang memungkinkan orang masuk meski pintu telah dikunci.

Pemerintah kemudian berkoordinasi untuk menempatkan petugas penjagaan di lokasi tersebut guna memastikan keamanan bantuan.

“Ketika membuka gudang yang ketiga, ini memang harus ada sedikit perbaikan-perbaikan dari pengamanan di pintu,” ujarnya.

Ada Lembar Kontrol Stok

Femy memastikan bantuan yang masuk tidak hanya dicatat dan disimpan, tetapi terus dipantau agar distribusinya sesuai kebutuhan masyarakat.

Setiap hari, petugas menggunakan lembar kontrol untuk mengetahui stok barang yang tersedia di masing-masing gudang. Distribusi juga dilakukan berdasarkan standar kebutuhan penerima manfaat.

Untuk bantuan dalam jumlah besar, pemerintah melakukan pemetaan berdasarkan kebutuhan wilayah.

Air mineral, misalnya, saat ini diprioritaskan untuk masyarakat di Pulau Palue yang masih menghadapi keterbatasan air bersih dan air minum.

“Air mineral tentunya saat ini yang paling membutuhkan itu adalah di Palue, karena kesulitan air bersih juga, kesulitan air minum. Sehingga ke Palue itu kami langsung shifting,” katanya.

Sementara untuk perlengkapan bayi seperti popok, minyak telon dan minyak kayu putih, pemerintah memilih menggunakan jaringan puskesmas untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Puskesmas dinilai memiliki data bayi dan balita yang lebih lengkap melalui jaringan pelayanan kesehatan dan Sahabat Sehat di masing-masing wilayah.

Sekitar 500 Personel Terlibat Setiap Hari

Besarnya cakupan wilayah pelayanan membuat penanganan logistik membutuhkan banyak personel.

Femy menyebut sekitar 500 orang terlibat setiap hari dalam aktivitas di tiga posko dan tiga gudang logistik. Jumlah tersebut termasuk personel TNI dan Polri.

Tiga posko yang dimaksud terdiri dari posko utama di BPBD, posko lapangan di Gelora Samador Maumere, serta posko di Kantor Camat Palue.

“Kalau kita lihat dengan wilayah pelayanan hampir semua kecamatan ya, kami pasti sangat membutuhkan banyak orang. Nah ini jumlahnya sekitar kalau kita hitung dari ketiga posko kemudian tiga gudang ini termasuk TNI-Polri itu sekitar 500-an orang,” jelasnya.

Khusus di Palue, terdapat sekitar 50 hingga 60 personel yang terlibat dalam penanganan di wilayah tersebut.

Untuk memastikan bantuan yang keluar dari gudang sesuai kebutuhan, Satgas Penanganan Bencana menerapkan mekanisme pencatatan dan analisis kebutuhan.

Femy mengatakan setiap permintaan bantuan, baik dari masyarakat maupun pemerintah kecamatan, terlebih dahulu dianalisis berdasarkan jumlah kepala keluarga, jumlah balita, lansia dan kebutuhan lainnya.

Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam aplikasi sederhana untuk menghitung kebutuhan berdasarkan jumlah penerima dan durasi bantuan.

“Ketika dimasukkan angkanya dengan kebutuhan atau targetnya berapa hari misalnya, dia akan keluar, kebutuhan pampers-nya berapa banyak ini, beras berapa banyak ini, air berapa banyak,” katanya.

Setelah kebutuhan dianalisis, data dikirimkan ke posko logistik untuk kemudian dibuatkan surat pengangkutan. Menurut Femy, proses tersebut sudah terintegrasi sehingga tidak lagi dilakukan secara manual.

Setiap gudang juga memiliki koordinator. Selain itu, Inspektorat ditempatkan di seluruh gudang untuk mengawal proses pencatatan dan distribusi bantuan.

“Pendistribusian, pencatatannya itu langsung dikawal oleh Inspektorat. Semua gudang dan juga khususnya tiga gudang ini. Termasuk di Palue,” tegasnya.

Femy mengakui pada hari-hari awal pascagempa, kapasitas penyimpanan di BPBD sempat membuat petugas kewalahan.

Pada hari pertama dan kedua, seluruh ruangan di lingkungan BPBD bahkan dimanfaatkan untuk menyimpan bantuan. Gudang di bagian belakang BPBD saat itu lebih banyak digunakan untuk menyimpan tenda.

Kondisi mulai terkendali setelah pemerintah menggunakan Aula DPMD sebagai gudang tambahan pada sekitar hari ketiga atau keempat.

Kini, kapasitas penyimpanan semakin longgar setelah gudang eks KPU atau Gedung turut difungsikan.

Menurut Femy, gudang tersebut baru terisi sekitar seperempat dari keseluruhan kapasitas bangunan.

“Dia baru terpakai mungkin sekitar 2/4 lah dari keseluruhan bangunan itu,” ujarnya.

Kebutuhan Mendesak Mulai Bergeser

Memasuki sekitar hari ke-10 pascagempa, kebutuhan masyarakat juga mulai dipetakan secara lebih spesifik.

Pemerintah kini memprioritaskan warga yang rumahnya mengalami rusak berat dan rusak sedang, terutama untuk memastikan mereka telah memperoleh tenda sebagai tempat tinggal sementara.

Selain tenda, kebutuhan yang dipetakan mencakup selimut, kasur lipat dan tikar.

Pemerintah juga mulai mencermati kebutuhan bahan pangan tertentu seperti telur, terutama untuk wilayah seperti Palue yang memiliki kendala dalam memperoleh bahan pangan mentah.

Sementara kebutuhan air bersih masih terus ditangani. Pemerintah daerah mendapat dukungan PMI untuk melakukan penyuplaian air bersih ke sejumlah wilayah.

Untuk air mineral, Femy mengatakan stok masih relatif mencukupi karena bantuan dari sejumlah donatur terus berdatangan dalam jumlah besar.

Dengan tiga gudang yang kini beroperasi, sistem pencatatan berbasis data, pengawasan Inspektorat Sikka serta dukungan sekitar 500 personel setiap hari, Satgas Penanganan Bencana Sikka berupaya memastikan arus bantuan yang masuk tidak berhenti sebagai stok di gudang, tetapi bergerak sesuai kebutuhan warga terdampak di seluruh wilayah Kabupaten Sikka.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nakes Menumpuk di Kota, Puskesmas Pulau Kekurangan, DPRD Sikka Minta Pemkab Evaluasi Penempatan
Seleksi Sekda Sikka, Femmy Bapa, Putu Botha dan Paul Prasetya Raih Nilai Tertinggi
Di Tengah Puskesmas Kepulauan Kekurangan Nakes, 6 Puskesmas Dekat Kota Maumere Justru Kelebihan, Nakes Muda Menumpuk di Kota
Fasilitas dan Nakes Puskesmas Kojagete Masih Kurang, Kadinkes Sikka: Harus Bersabar, Ini Bertahap
Selain Minim Fasilitas, Puskesmas Kojagete Hanya Punya 15 Nakes, Tak Ada Dokter, Warga Pilih Berobat ke RS Kewapante dan Puskesmas Watubaing
Layani 3 Desa Kepulauan, Puskesmas Kojagete, Sikka Tanpa Ambulans dan Mess Nakes, Listrik Masih Pinjam Genset Warga
Berstatus Desa Tertinggal, Warga Desa Kojagete, Sikka Masih Pakai Lampu Pelita, Kades Malik: Kami Diminta Bersabar oleh Pemerintah
Warga Pulau Dambila, Sikka Harus Seberangi Laut Cari Air, PMI Siapkan Respon Bantu Air Bersih
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 7 September 2026 - 23:49 WITA

Nakes Menumpuk di Kota, Puskesmas Pulau Kekurangan, DPRD Sikka Minta Pemkab Evaluasi Penempatan

Monday, 7 September 2026 - 11:26 WITA

Seleksi Sekda Sikka, Femmy Bapa, Putu Botha dan Paul Prasetya Raih Nilai Tertinggi

Monday, 7 September 2026 - 10:24 WITA

Di Tengah Puskesmas Kepulauan Kekurangan Nakes, 6 Puskesmas Dekat Kota Maumere Justru Kelebihan, Nakes Muda Menumpuk di Kota

Monday, 7 September 2026 - 02:54 WITA

Selain Minim Fasilitas, Puskesmas Kojagete Hanya Punya 15 Nakes, Tak Ada Dokter, Warga Pilih Berobat ke RS Kewapante dan Puskesmas Watubaing

Monday, 7 September 2026 - 00:04 WITA

Layani 3 Desa Kepulauan, Puskesmas Kojagete, Sikka Tanpa Ambulans dan Mess Nakes, Listrik Masih Pinjam Genset Warga

Berita Terbaru