MAUMERE-Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 membawa dampak panjang bagi warga Desa Karakabu, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Di Dusun Detunglikong, longsor yang terjadi setelah gempa menimbun sumber mata air dan merusak bak penampungan air bersih yang selama ini menjadi tumpuan warga.
Akibatnya, sebanyak 162 kepala keluarga (KK) kini terdampak. Mereka tidak lagi bisa mengambil air dari sumber utama karena mata air tertutup material longsoran dan bak penampungan mengalami kerusakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga Desa Karakabu, Fransiskus Regis, mengatakan longsor terjadi di tebing salah satunkebun warga di Dusun Detunglikong tepatnya di belakang SDN Detunglikong. Material tanah dan batu yang bergerak dari tebing kemudian menimbun fasilitas air bersih milik warga.
“Sumber air dan baik air minum bersih, semua tertimbun,” kata Fransiskus.
Ia mengatakan kondisi bak penampungan tersebut membuat warga sama sekali tidak bisa lagi mengambil air seperti sebelum gempa.
“Tidak bisa sama sekali,” ujarnya.
Sumber air itu selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga satu dusun. Setelah tertimbun longsor, warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah satunya dengan memanfaatkan jaringan air dari sebuah proyek yang mangkrak sejak 2024.
“Ya untuk sementara ini ada satu proyek yang mangkrak dari 2024 itu,” kata Fransiskus.
Warga kemudian mengambil air dari bak penampungan yang masih bisa dimanfaatkan dan menyalurkannya menggunakan jaringan sederhana.
Kondisi sumber air utama juga dibenarkan warga lainnya, Blasius Ben Koro. Ia mengatakan ketika gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, warga mendengar suara gemuruh dari arah tebing.
“Iya, gemuruh,” katanya.
Menurut Blasius, sumber mata air yang selama ini digunakan warga berada di bawah material longsoran. Tidak hanya mata air yang tertimbun, bak induk penampungan air juga mengalami kerusakan.
“Iya, mata airnya tertimbun, baknya pecah juga,” ujarnya.
Sejak saat itu, warga mencari sumber air lain yang berada di bagian atas wilayah tersebut. Namun, debit airnya relatif kecil sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.
“Ee tidak bisa, soalnya kecil,” kata Blasius.
Untuk mendapatkan air, warga kemudian menggunakan selang yang dipasang dari sumber alternatif tersebut menuju permukiman.
“Pakainya selang. Selang baru tarik… tarik ke sini rumah,” katanya.
Sumber air yang tertimbun longsor tersebut bukanlah sumber baru bagi warga. Air itu telah dimanfaatkan masyarakat selama puluhan tahun.
Warga menyebut sumber tersebut sudah digunakan sejak sekitar 1992. Jaringan air itu juga berkaitan dengan bantuan pembangunan sarana air bersih yang dahulu diperuntukkan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
Pemdes Cari Jalan Keluar Darurat
Penjabat Kepala Desa Karakabu, L. Wiryanto Lait, mengatakan kerusakan sarana air bersih tersebut berdampak terhadap 162 KK dalam satu dusun.
“Bak air induk dan sumber mata air itu untuk ratusan warga di Dusun Detunglikong ini,” kata Wiryanto.
Ia menegaskan jumlah warga yang terdampak mencapai 162 KK.
“162 KK yang terdampak. Ini satu dusun,” ujarnya.
Dalam situasi darurat, pemerintah desa akhirnya mencari alternatif agar kebutuhan air warga tetap terpenuhi. Salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas dari proyek penyediaan air yang sebelumnya mangkrak.
Wiryanto mengatakan persoalan proyek tersebut sebenarnya sudah pernah dikonsultasikan dengan pihak Kejaksaan Negeri Sikka. Pemerintah desa sebelumnya berencana memanfaatkan dana desa untuk penanganannya, namun mendapat arahan agar belum melanjutkannya.
Namun, kondisi pascagempa membuat pemerintah desa harus mengambil langkah darurat.
“Tapi dalam kondisi ini terpaksa saya tabrak,” katanya.
Langkah itu, kata dia, dilakukan agar fasilitas yang ada tetap bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Dengan keterbatasan sumber daya, pemerintah desa bersama warga menyambungkan jaringan air secara sederhana. Bahkan, sebagian jaringan disambungkan menggunakan bambu.
“Ada yang kita sambung pakai bambu. Saya intinya bisa melayani kebutuhan air warga,” ujar Wiryanto.
Upaya tersebut untuk sementara sudah membuat warga kembali mendapatkan air.
“Sudah bisa memanfaatkan,” katanya.
Meski demikian, kondisi ini masih menjadi persoalan serius bagi warga. Sumber mata air utama yang tertimbun longsor belum dapat digunakan kembali, sementara sumber alternatif yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.










