MAUMERE-Ketiadaan sumber air tawar untuk kebutuhan konsumsi membuat warga Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, harus menempuh cara yang tidak biasa untuk mendapatkan air bersih. Bagi warga Pulau Dambila, air harus dicari dengan kapal, jeriken, biaya dan waktu.
Mereka menggunakan kapal laut untuk mendatangi pesisir Dusun Nebura, Desa Kojagete, guna membeli dan mengangkut air bersih yang bersumber dari mata air Ledaune 1 di Desa Kojagete.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivitas warga Dambila mengambil air bersih di pesisir Nebura itu terlihat pada Jumat (5/9/2026) sore. Kapal-kapal kecil datang membawa jeriken yang kemudian diisi air bersih untuk dibawa kembali ke Dambila.
Bagi warga di wilayah kepulauan tersebut, air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan. Air menjadi kebutuhan yang harus dicari setiap hari, bahkan dengan menyeberangi laut.
Ilham (45), pengelola air tingkat Dusun Nebura, mengatakan warga dari Kampung Dambila, Desa Parumaan datang ke Nebura karena tidak memiliki sumber air tawar yang bisa digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
“Ambil air,” kata Ilham ketika ditanya mengenai aktivitas warga yang datang menggunakan kapal ke pesisir Nebura.
Menurut dia, kondisi sumber air di wilayah Parumaan membuat warga tidak bisa mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan air minum. Sumur yang tersedia lebih banyak digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.
“Tidak ada. Tidak ada sumber air. Untuk konsumsi tidak ada. Paling air di sumur untuk mandi dan cuci,” ujarnya, Jumat (5/9/2026) sore.
Air sumur tersebut, kata Ilham, juga terasa asin karena mengandung garam.
“Agak mengandung garam,” katanya.
Karena itu, warga yang datang ke Nebura mengambil air yang nantinya digunakan untuk memasak dan memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.
“Masak, kebutuhan mereka,” ujar Ilham.
Membeli Air dengan Kapal

Kebutuhan air warga Dambila tidak sedikit. Dalam sekali perjalanan, jumlah air yang dibawa bergantung pada jumlah jeriken yang mereka miliki.
Ilham mengatakan tidak ada jumlah pasti air yang diangkut setiap kapal. Namun, dalam kondisi normal, warga bisa membawa air lebih dari 100 liter dalam sehari.
“Tidak tentu juga,” katanya ketika ditanya berapa banyak air yang dapat diangkut dalam sekali perjalanan.
“Kalau hari-hari biasa seperti ini, ya 100 liter ke atas ada per kapal,” lanjutnya.
Untuk mendapatkan air tersebut, warga harus mengeluarkan uang. Dalam kondisi tertentu misalnya ada hajatan, biaya yang dikeluarkan dapat mencapai Rp 100 ribu, sementara pada hari biasa rata-rata sekitar Rp 20 ribu.
“Itu rata-rata itu kalau mau bilang sampai dengan sebiasa saya dapat itu di pesta itu 100 ribu,” kata Ilham.
Untuk kebutuhan harian, biaya yang dikeluarkan warga lebih kecil, tetapi tetap menjadi pengeluaran rutin bagi keluarga yang tidak memiliki sumber air tawar.
“Kalau hari-hari biasa rata-rata tuh ada 20 ribu,” ujarnya.
Warga dari Parumaan sendiri tidak setiap hari datang dalam jumlah kapal yang sama. Menurut Ilham, jumlah kapal yang datang bergantung pada kebutuhan warga.
“Permaan tergantung kebutuhan mereka aja. Kalau saya lihat kemarin hanya satu kapal, kadang juga tuh ya bisa juga lima,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, perjalanan menggunakan kapal menjadi bagian dari rutinitas warga untuk memenuhi kebutuhan air minum.
Menurut Ilham, pola jual beli air dari Nebura untuk warga Desa Parumaan telah berlangsung sekitar satu tahun.
“Sudah satu tahun,” katanya.
Namun, hubungan warga kedua wilayah dalam mendapatkan air sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum sistem jual beli diberlakukan.
“Maksudnya berlaku untuk sistem jual beli. Kalau macam tahun-tahun sebelumnya, secara keluarga juga. Kadang mereka kasih saat ambil, kadang tidak,” ujar Ilham.
Bagi warga Parumaan, persoalannya bukan semata soal harga air. Mereka memang tidak memiliki pilihan lain karena sumber air yang tersedia tidak layak untuk konsumsi.
“Tidak ada,” kata Ilham ketika kembali ditanya mengenai sumber air di wilayah tersebut.
“Air-air garam juga, air sumur.”
Kondisi itu membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan paling dasar: air minum.
Berbeda dengan wilayah Dambila dan Parumaan, Dusun Nebura memiliki sumber air tawar yang menjadi tumpuan masyarakat setempat.
Ilham menyebut sumber air tersebut berasal dari Mata Air Ledaune 1.
“Itu dari Ledaune,” katanya.
“Mata air,” ujarnya memastikan sumber tersebut merupakan mata air alami.
Air dari mata air kemudian dialirkan menggunakan jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Dusun Nebura.
Pengelolaan air tersebut dilakukan oleh masyarakat desa. Untuk tingkat desa, pengelolaannya berada di bawah BUMDes, sedangkan di tingkat dusun terdapat kelompok pengelola air.
“Kalau desa itu BUMDes,” jelas Ilham.
Untuk Dusun Nebura, sumber air tersebut melayani lebih dari 100 kepala keluarga.
“100 lebih,” katanya ketika ditanya jumlah KK di dusun tersebut.
Warga Nebura membayar iuran bulanan untuk menjaga keberlangsungan sistem air tersebut.
“5.000 per bulan,” ujar Ilham.
Namun, iuran tersebut bukan untuk membayar upah pengelola.
Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan perawatan jaringan air.
“Untuk biaya perawatan,” jelasnya.
Ilham mengatakan masyarakat bahkan pernah menyepakati adanya kenaikan iuran sebesar Rp1.000. Tambahan tersebut ditujukan untuk pengurus dusun.
Namun, bagi Ilham, keberlangsungan pembayaran iuran jauh lebih penting daripada persoalan tambahan upah bagi pengelola.
“Saya minta maaf saja ya, Rp1.000 saya tidak menuntut. Saya hanya minta satu hal dari masyarakat saja, jangan pernah macet-macetkan iuran itu. Kalau iuran macet, nanti biaya perawatan di sana itu bagaimana?” ungkap Ilham.
Menurutnya, sampai saat ini pembayaran iuran masyarakat Nebura relatif lancar.
“Tidak macet,” katanya.
Ia khawatir jika iuran berhenti, biaya pemeliharaan jaringan air akan menjadi persoalan besar bagi masyarakat.
“Iuran kalau mati, perawatan mereka itu yang kita setengah mati sudah,” ujarnya.
Rp 2.000 Per Jeriken
Kondisi sulitnya mendapatkan air bersih juga dibenarkan Siti Susanti, warga Desa Parumaan.
Ia mengatakan warga harus membeli air dari Nebura dengan harga yang dihitung berdasarkan jumlah jeriken.
“Per jeriken itu hitungan sekarang sudah Rp 2.000,” katanya.
Harga tersebut berlaku untuk jeriken berukuran sekitar 20 liter.
“20 liter,” ujarnya.
Dalam sekali perjalanan menggunakan kapal, Siti mengatakan kebutuhan air yang dibawa bisa mencapai 10 hingga 20 jeriken, bahkan lebih.
“Bisa kadang sampai 10, 20 liter,” katanya.
Biaya yang harus dikeluarkan dalam sekali angkut pun dapat mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.
“Iya, bisa sampai 30 ribu,” ujarnya.
Jika satu jeriken berisi 20 liter, maka 20 jeriken setara sekitar 400 liter air. Jumlah tersebut tetap harus dibawa menggunakan kapal laut dari Nebura menuju wilayah tempat tinggal warga.
“Harus bisa. Air minum nih, kita mau cari di mana lagi” kata Siti.
Ia membenarkan bahwa air yang mereka bawa dari Nebura digunakan untuk kebutuhan konsumsi, sementara air yang tersedia di Dambila lebih banyak digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
“Mandi dan cuci,” katanya.
Air Sumur Asin, Sumur Bor Belum Menjadi Solusi
Persoalan air bersih di wilayah kepulauan tersebut bukan persoalan baru.
Mantan Kepala Desa Kojagete, Suhut Firmansyah, mengatakan persoalan jaringan air yang menghubungkan wilayah-wilayah kepulauan tersebut bahkan sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.
Menurut Suhut, warga Desa Parumaan pernah menikmati jaringan perpipaan dari Desa Kojagete sekitar 2016 hingga 2018. Namun, jaringan perpipaan tersebut kemudian tidak lagi berfungsi karena pipa yang berada di bawah laut mengalami kerusakan.
“Sejak 2016, mereka tuh hanya menikmati sekitar 2 tahun saja,” kata Suhut.
“2016, 2017, 2018. Setelah itu sudah tidak lagi karena akibat mereka sendiri yang merusak sendiri,” lanjutnya.
Kerusakan tersebut terjadi pada pipa yang melewati bawah laut.
“Pipanya. Karena dia kan lewat bawah laut, sehingga dipotong. Saat itu kita juga tidak tahu siapa yang potong,” ujarnya.
Sejak jaringan tersebut tidak lagi berfungsi, warga Desa Permaan kemudian harus membeli air.
“Sekarang mereka sistemnya beli. Belinya melalui kadang di Desa Kojadoi, tetapi belinya kebanyakan di sini (Dusun Nebura),” katanya.
Suhut membenarkan harga air yang dibeli warga mengikuti ukuran jeriken.
“Kita sepakatnya 1 jeriken kadang 1.000,” ujarnya.
Untuk jeriken berukuran 20 liter, harganya mencapai Rp 2.000.
“Kalau yang 20 liter Rp 2.000,” katanya.
Dalam sehari, jumlah warga yang datang tidak selalu sama. Pada hari-hari tertentu, terutama Jumat dan Sabtu, warga bisa datang secara bersamaan.
“Dia kan Permaan itu kan tergantung, kadang hari Jumat, kadang Sabtu itu mereka keroyokan datang,” ujar Suhut.
Sementara pada hari biasa, menurut dia, terkadang hanya satu kapal yang datang.
“Kalau yang setiap hari itu kadang satu kapal saja,” katanya.
Persoalan yang lebih jauh, kata Suhut, tidak hanya dialami warga Permaan.
Warga Pulau Dambila dan Pangabatang juga belum mendapatkan akses jaringan perpipaan air tawar yang memadai.
Menurut Suhut, jaringan pipa yang pernah dibangun sebelumnya memang tidak menjangkau Dambila dan Pangabatang.
“Mereka tidak dapat,” katanya.
Upaya mencari sumber air melalui sumur bor juga pernah dilakukan. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan karena air yang keluar tetap terasa asin.
“Sudah dicoba pakai sumur bor dari NGO dari Bandung kalau tidak salah, tetap sama. Airnya asin,” ujar Suhut.
“Asin,” katanya menegaskan.
Kondisi itu membuat air dari Nebura menjadi salah satu pilihan bagi warga Dambila untuk mendapatkan air tawar.
“Makanya mereka satu-satunya jalan harus ada air melalui jaringan perpipaan dari sini membantu untuk ke Dambila dan Pangabatang. Minimal sampainya ke Dambila dulu,” kata Suhut.
Jarak antara Nebura dan Dambila, menurut perkiraannya, sekitar dua kilometer.
“2 kilo, 1 kilo lebih-lebih bisa ini,” ujarnya.
Pihaknya berharap ada solusi jangka panjang dari Pemkab Sikka untuk memenuhi pasokan kebutuhan air bersih bagi warga Pulau Dambila dan Desa Parumaan secara umum.










