MAUMERE-Hari pertama sekolah setelah libur akibat gempa bumi tektonik di Kabupaten Sikka tidak akan langsung diisi dengan pembelajaran akademik. Pemerintah Kabupaten Sikka menyiapkan kegiatan trauma healing dan edukasi kesiapsiagaan bencana bagi para siswa.
Kegiatan belajar mengajar dijadwalkan kembali dimulai pada 31 Agustus 2026, setelah sebelumnya dihentikan menyusul gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka sekaligus Ketua Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa atau Femy Bapa, mengatakan trauma healing menjadi salah satu hal yang diprioritaskan pada hari-hari awal siswa kembali ke sekolah.
“Tidak langsung pembelajaran murni, tapi kita akan mulai dengan itu. Trauma healing termasuk juga kesiapsiagaan menghadapi bencana,” kata Femy dalam wawancara pada Kamis (26/8/2026) sore.
Menurut Femy, langkah tersebut disiapkan karena dampak gempa tidak hanya berupa kerusakan bangunan sekolah, tetapi juga menyisakan trauma dan kekhawatiran pada siswa maupun orang tua.
Kekhawatiran itu terutama diperkirakan terjadi pada anak-anak usia TK, PAUD hingga siswa SD kelas 1 sampai kelas 3.
“Apalagi kalau anak-anak TK, PAUD, saya tidak yakin orang tua akan kasih lepas,” ujarnya.
Trauma Healing Sudah Berjalan Sejak Hari Ketiga
Femy menjelaskan, program trauma healing sebenarnya telah berjalan sejak hari ketiga setelah bencana.
Kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh DP2KBP3A Kabupaten Sikka bersama sejumlah organisasi nonpemerintah atau NGO dan komunitas yang tergabung dalam satu kelompok kerja.
“Tim trauma healing ini sebenarnya sudah ada sejak dari hari ketiga bencana. Leading sector-nya DP2KBP3A bersama banyak teman-teman mitra dari NGO, ada juga komunitas-komunitas sudah tergabung dalam satu grup,” katanya.
Dengan demikian, pemerintah tidak perlu memulai program tersebut dari awal ketika sekolah kembali dibuka. Tim yang telah bergerak selama masa tanggap darurat akan menjadi bagian dari persiapan pemulihan psikologis siswa.
Femy mengatakan pemerintah masih mematangkan metode pelaksanaan trauma healing di sekolah. Pembahasan tersebut mencakup bentuk kegiatan, pihak-pihak yang dilibatkan hingga mekanisme agar kegiatan dapat dilakukan secara serentak.
“Kalau harus menyebar sekaligus, banyak sekolah ini. Kita harus melibatkan banyak. Jadi ini yang kami lagi diskusikan ini metodenya seperti apa, siapa-siapa yang harus terlibat di situ,” ujarnya.
Bukan Hanya Sekolah yang Rusak Berat
Program trauma healing tidak hanya diarahkan kepada siswa yang bersekolah di bangunan dengan kerusakan berat.
Femy mengatakan kondisi psikologis siswa dan orang tua tetap menjadi perhatian meskipun bangunan sekolah hanya mengalami kerusakan ringan. Sebab, rasa takut untuk kembali ke ruang kelas dapat tetap muncul setelah gempa.
“Karena trauma ini kan mungkin di sekolah yang cuma rusak ringan, orang tuanya… iya,” katanya. Karena itu, pada awal sekolah kembali dibuka, pemerintah berencana menggabungkan trauma healing dengan edukasi kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mendapat pendampingan psikologis, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan apabila kembali terjadi gempa atau bencana lainnya.
100 Rombel Direkomendasikan Belajar di Tenda
Persiapan kembali ke sekolah juga masih berkaitan dengan kondisi fisik bangunan pendidikan. Sebelumnya, sebanyak 100 rombongan belajar pada 22 sekolah tingkat PAUD/TK, SD dan SMP di Kabupaten Sikka direkomendasikan melaksanakan pembelajaran di bawah tenda karena ruang kelas mengalami kerusakan pascagempa.
Plt. Kepala Dinas PKO Sikka Patrisius Pederiko mengatakan rekomendasi tersebut merupakan hasil survei Tim Teknis Dinas PKO bersama konsultan dan Tim Teknis Dinas PUPR terhadap 45 lembaga pendidikan yang melaporkan kerusakan.
Namun, tidak semua rombongan belajar pada 22 sekolah tersebut harus belajar di tenda. Pada beberapa sekolah, kerusakan hanya terjadi pada satu atau dua rombel, sedangkan ruang kelas lainnya masih dapat digunakan.
Kecamatan Palue menjadi salah satu wilayah dengan kondisi sekolah paling parah. Sekolah-sekolah di wilayah tersebut direkomendasikan melaksanakan pembelajaran di bawah tenda akibat dampak gempa yang cukup berat.
Femy mengatakan kebutuhan tenda saat ini masih dihitung berdasarkan hasil asesmen kerusakan sekolah.
“Sekarang butuh tenda berapa banyak, masih dianalisa oleh PKO berdasarkan hasil asesmen terhadap kerusakan,” ujarnya.
Pemerintah juga sedang memetakan kemungkinan penggunaan bangunan lain sebagai lokasi belajar sementara bagi sekolah yang tidak dapat menggunakan ruang kelas.
Salah satu persoalan yang tengah dipetakan adalah SMP Negeri 1 Sikka yang berdasarkan asesmen sementara mengalami kerusakan struktur. Sekolah tersebut juga memiliki jumlah siswa yang banyak, sementara lahan yang tersedia dinilai tidak cukup untuk penanganan pembelajaran darurat.
“Berarti harus cari lokasi yang lain. Jumlah anak muridnya juga banyak,” kata Femy.









