Fenomena Pascagempa Flores, Mata Air yang Hilang Sejak Gempa 1992 Muncul Kembali di Desa Wailamung, Sikka

- Reporter

Wednesday, 2 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE-Warga Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, dikejutkan dengan munculnya kembali mata air yang sebelumnya tenggelam dan menghilang setelah gempa bumi dan gelombang tsunami pada 12 Desember 1992.

Sumber air tersebut kembali muncul setelah gempa bumi mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kemunculannya kembali menjadi perhatian warga karena sumber air itu sudah tidak terlihat selama puluhan tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah seorang warga Desa Wailamung, Arnoldus Slamet, mengatakan dirinya masih mengingat keberadaan mata air tersebut sejak kecil. Saat itu, air yang keluar dari sumber tersebut terasa hangat dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan air biasa.

“Dari sumbernya dulu ada semacam lumpur berwarna kuning dan airnya terasa hangat,” kata Arnoldus yang juga menjabat Wakil Ketua BPD Wailamung.

Menurut Arnoldus, warga tidak menggunakan air tersebut untuk dikonsumsi, baik untuk memasak maupun minum. Rasanya disebut sepat.

Air tersebut juga memiliki karakteristik yang membuat warga tidak menggunakannya untuk mandi.

“Kalau dipakai mandi, apalagi menggunakan sabun, terasa lengket dan sabunnya kurang berbusa,” ujarnya.

Keberadaan mata air itu kemudian berubah setelah gempa bumi dan gelombang tsunami melanda kawasan tersebut pada 12 Desember 1992.

Arnoldus yang saat itu berusia 24 tahun mengatakan dirinya bersama sejumlah warga dan pemangku adat menyaksikan langsung kondisi tanah di sekitar lokasi. Menurut dia, terdapat satu bagian areal yang terbelah dan menganga hingga membentuk rongga.

“Saat gempa 1992, mata air itu tenggelam dan hilang. Ada rongga besar waktu itu,” katanya.

“Kami lihat sendiri. Ada satu titik areal yang terbelah,” lanjut Arnoldus.

Setelah kejadian tersebut, warga bersama pemangku adat kemudian melakukan ritual adat di lokasi itu.
Arnoldus mengatakan, setelah ritual dilakukan, bagian tanah yang sebelumnya terbelah tersebut kembali tertutup hingga kondisinya tampak seperti semula.

“Secara adat dibuat ritual. Mungkin alam semesta dan leluhur merestui. Areal yang terbelah akhirnya tertutup rapat seperti semula,” tuturnya.

Puluhan tahun kemudian, sumber air itu kembali muncul setelah gempa pada 15 Agustus 2026. Namun, menurut Arnoldus, kemunculannya kali ini tidak persis berada di titik mata air yang lama. Ada dua titik baru yang muncul dan lokasinya berdekatan dengan sumber air sebelumnya.

“Baru-baru ini warga bilang mata air itu muncul lagi. Setelah dilihat, memang muncul. Bukan di titik awal, tetapi di titik baru yang berdekatan dengan mata air sebelumnya. Ada dua mata air yang muncul,” ujarnya.

Kemunculan sumber air tersebut terlihat dari kondisi tanah di sekitar lokasi yang kembali basah. Lokasinya berada di dalam kebun milik warga, di sebelah selatan Kampung Waituri atau kawasan Waiplatehen, Desa Wailamung.

Dari sumbernya, air kemudian mengalir mengikuti bekas aliran kali kecil yang oleh warga setempat disebut kali mati. Aliran tersebut selanjutnya masuk ke jalur drainase yang memang sudah dibuat sebelumnya.

Drainase itu dibuat untuk mengalirkan air ketika musim hujan agar tidak meluap dan masuk ke permukiman warga.

“Ia sekarang mengalir sampai ke kali mati, lalu masuk ke drainase yang memang sudah ada,” kata Arnoldus.

Meski warga menyambut kemunculan kembali sumber air tersebut, Arnoldus mengaku ada kekhawatiran karena mereka tidak mengetahui secara pasti karakteristik air yang muncul setelah gempa kali ini.

Sebagai warga awam, mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan penjelasan serta edukasi mengenai fenomena tersebut.

“Sebagai orang awam ada ketakutan juga. Maka kami minta informasi dan edukasi dari pemerintah, BNPB, BPBD dan pihak terkait,” ungkapnya.

Menurut Arnoldus, permintaan tersebut penting agar warga mengetahui apakah air yang kembali muncul itu memiliki karakteristik yang sama dengan sumber air sebelum gempa 1992, termasuk terkait warna, rasa, suhu maupun kandungan di dalamnya.

Terlebih, berdasarkan pengalaman warga sebelum 1992, air dari sumber tersebut tidak digunakan untuk memasak dan minum karena terasa sepat. Saat digunakan untuk mandi pun, air meninggalkan rasa lengket dan membuat sabun kurang berbusa.

Arnoldus mengatakan, warga tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai penyebab maupun kondisi sumber air tersebut.

Mereka berharap ada pemeriksaan dan penjelasan dari pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk memastikan kondisi air serta fenomena yang terjadi setelah gempa.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumber Air Terdampak Pascagempa dan Kemarau, Ratusan KK di Desa Kringa, Sikka Butuh Bantuan Air Bersih
Terdampak Gempa, 39 Rumah di Desa Iligai, Sikka Rusak Berat, Warga Masih Bertahan di Tenda dan Butuh Bantuan Air Bersih
Bayinya Digendong Wapres Gibran saat Kunjungan Kerja di RSUD Maumere, Satpam Ini Beri Nama Anaknya Maria Gibrania Melisedo
Dentos HPRP Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Bencana Gempa Flores
Ketum PMI Jusuf Kalla Tanya Kebutuhan Mendesak Pengungsi Sikka, Jawabannya: “Sembako, Pak!”
Kebakaran Lahan Terjadi di Hoder Sikka, Babinsa dan Warga Padamkan Api Pakai Alat Seadanya
Hari Pertama Sekolah Pascagempa di Sikka Tak Langsung Belajar, Siswa Akan Jalani Trauma Healing
Pascagempa, Bantuan Terus Berdatangan, Seberapa Siap Gudang Logistik BPBD Sikka Menampung dan Menyalurkannya?
Berita ini 81 kali dibaca

Berita Terkait

Wednesday, 2 September 2026 - 04:57 WITA

Sumber Air Terdampak Pascagempa dan Kemarau, Ratusan KK di Desa Kringa, Sikka Butuh Bantuan Air Bersih

Wednesday, 2 September 2026 - 03:16 WITA

Fenomena Pascagempa Flores, Mata Air yang Hilang Sejak Gempa 1992 Muncul Kembali di Desa Wailamung, Sikka

Tuesday, 1 September 2026 - 04:18 WITA

Terdampak Gempa, 39 Rumah di Desa Iligai, Sikka Rusak Berat, Warga Masih Bertahan di Tenda dan Butuh Bantuan Air Bersih

Monday, 31 August 2026 - 15:32 WITA

Bayinya Digendong Wapres Gibran saat Kunjungan Kerja di RSUD Maumere, Satpam Ini Beri Nama Anaknya Maria Gibrania Melisedo

Friday, 28 August 2026 - 04:48 WITA

Dentos HPRP Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Bencana Gempa Flores

Berita Terbaru