
Flores Timur-Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level IV (AWAS) menjadi Level III (SIAGA) terhitung mulai tanggal 16 September 2025 pukul 15.00 WITA.
Penurunan tingkat aktivitas gunung berapi ini berdasarkan pengamatan visual dan instrumental yang dilakukan PVMBG dalam periode 9 – 16 November 2025, pada pukul 08.00 WITA.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut keterangan yang diberikan Muhammad Wafid, Kepala Badan Geologi Dari kepada TajukNTT, Senin, 17 September, berdasarkan pengamatan visual, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan intensitas sedang. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50 -700 meter dari puncak.
“Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke utara, timur laut, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara 18-33.5°C. Terjadi Guguran, namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak teramati,” ungkap Wafid.
Wafid menjelaskan, dari pengamatan visual menunjukkan tinggi asap fluktuatif dan cenderung menurun, dengan tekanan lemah hingga sedang. Asap yang keluar melalui rekahan di sisi barat
laut dan di sisi timur laut terlihat tipis.
Sedangkan aktivitas kegempaan yang terekam selama periode tersebut yaitu 8 kali Gempa Guguran, 19 kali Gempa Hembusan, 4 kali gempa Tremor
Harmonik, 181 kali Gempa Tremor Non-Harmonik, 7 kali Gempa Low Frequency, 49 kali Gempa Vulkanik Dalam, 12 kali Tektonik Lokal, dan 41 kali Gempa Tektonik Jauh.
Kata dia, asap yang keluar di area rekahan tersebut merupakan zona lemah yang dapat berpotensi sebagai titik lokasi erupsi yang bersifat directed blast (erupsi langsung searah) yang dapat mengarah ke barat laut, utara, timur laut, dan barat dari gunung Lewotobi Laki-laki.
“Kita melihat data kegempaan menunjukkan pola fluktuasi dengan dominasi Gempa Tremor Non Harmonik setiap hari. Gempa Vulkanik Dalam, Hembusan, Guguran, dan Gempa
Tektonik Lokal masih muncul namun dalam jumlah lebih sedikit bila dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya,” jelas Wafid.
Pola kegempaan ini, menurutnya secara umum memperlihatkan fluktuasi aktivitas kegempaan yang masih cukup tinggi, menunjukkan dinamika pergerakan magma dan fluida di bawah permukaan yang belum stabil, serta dapat dipengaruhi oleh faktor tektonik di sekitar gunung Lewotobi Laki-laki.
Sebelumnya gunung berapi dengan ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menunjukkan kenaikan aktivitas pada 6 September sehingga otoritas setempat menaikan statusnya dari Level III (SIAGA) ke Level IV (AWAS). Setelah dinaikkan ke Level IV (AWAS) gunung Lewotobi mengalami beberapa kali erupsi.
“Namun dalam beberapa hari terakhir, gunung Lewotobi Laki-laki mengalami penurunan aktivitas sehingga kami pun kembali menurunkan statusnya ke Level III (Siaga),” kata Wafid.
Ia pun mengimbau masyarakat agar warga mematuhi peraturan yang dikeluarkan pemerintah setempat yakni pengunjung wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi Lewotobi Laki laki.
“Masyarakat tetap tenang mengikuti arahan pemerintah daerah, dan tidak mempercayai informasi dari sumber yang tidak jelas.”
Wafid menegaskan masyarakat di wilayah rawan bencana perlu mewaspadai potensi banjir lahar jika terjadi hujan lebat, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak, seperti Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya hingga Nurabelen.








