MAUMERE-Krisis air bersih melanda warga Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama hampir tiga bulan, warga harus mencari air hingga ke kali yang debitnya semakin kecil.
Sebagian warga bahkan terpaksa bangun pada dini hari untuk mendapatkan air. Mereka harus menunggu beberapa jam hanya untuk membawa pulang sekitar 5 hingga 10 liter air.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Wolomotong, Sergius Sareng, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena hampir seluruh mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan warga mulai mengering.
“Kalau kita melihat kondisi ini sudah agak parah karena kekurangan air bersih ini sudah tiga bulan. Semua mata air hampir semuanya kering,” kata Sergius, Senin (5/10/2026) di Kantor Desa Wolomotong.
Menurut dia, saat ini masih ada satu titik kecil di Wair Et yang menjadi tempat warga mengambil air. Karena debitnya sangat terbatas, warga harus menunggu sejak tengah malam hingga pagi.
“Masyarakat sementara duduk di situ tunggu, dan mereka tunggu itu dari jam 2 sampai dengan pagi,” ujarnya.
Selain Wair Et, warga juga mencari air di Kali Wair Re’et dan Kali Kaki Wair. Namun, air yang mengalir di kedua lokasi tersebut sangat sedikit.
Warga Desa Wolomotong, Laurensius Laka, mengatakan kondisi tersebut membuat warga harus mengatur waktu untuk mencari air sejak dini hari.
“Debit air sangat kecil sehingga ada warga yang tunggu dari jam 2 dini hari hingga pagi jam 6,” kata Laurensius.
Setelah menunggu selama berjam-jam, air yang dibawa pulang juga tidak banyak. Warga rata-rata hanya mendapatkan sekitar 5 sampai 10 liter karena sumber air tersebut harus digunakan bersama warga lainnya.
Menurut Laurensius, tiga wilayah yang mengalami kesulitan air paling parah adalah Dusun Eha, Dusun Wolomotong dan Dusun Maget.
“Yang paling parah itu tiga dusun, yakni Dusun Eha, Wolomotong dan Maget,” ujarnya.
Bak Penampungan Retak Akibat Gempa.

Krisis air tersebut diperparah oleh kerusakan bak penampungan di mata air Wair Matan Gete. Bak penampungan mengalami keretakan setelah gempa Flores pada pertengahan Agustus 2026.
Sergius mengatakan, sebelum rusak, bak tersebut digunakan untuk menampung air dari mata air Wair Matan Gete. Namun, setelah mengalami keretakan, air tidak lagi dapat tertampung.
“Bak tampungnya bocor sehingga air tidak bisa tertampung di bak. Itu salah satunya saat gempa, baknya bocor,” kata Sergius.
Menurut dia, kerusakan tersebut cukup parah sehingga air keluar melalui bagian bak yang retak.
“Retaknya cukup besar. Jadi airnya keluar semua,” ujarnya.
Pemerintah desa telah mendokumentasikan kerusakan tersebut dan melaporkannya kepada pihak terkait, termasuk Pamsimas. Namun, hingga kini belum ada penanganan terhadap bak penampungan tersebut.
Selain fasilitas air, gempa juga menyebabkan sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami keretakan, termasuk sekolah dan Polindes.
Pemdes Minta Bantuan Air
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Wolomotong telah menyurati BPBD Kabupaten Sikka untuk meminta bantuan air bersih.
Surat permohonan tersebut disampaikan pada 29 September 2026. Pemerintah desa juga telah bersurat kepada PMI untuk meminta dukungan.
“Kami sudah membuat laporan ke BPBD Sikka pada tanggal 29 September untuk bantuan air,” kata Sergius.
Ia mengatakan pihaknya telah dua kali mendatangi kantor BPBD Sikka. Namun, karena tidak bertemu petugas, pemerintah desa kemudian menghubungi Sekretaris BPBD melalui WhatsApp.
“BPBD itu sudah dua kali kami ke sana, tapi kantornya kosong. Setelah itu ke PMI kami sudah bersurat ke sana. Tadi saya sudah kirim lewat WA ke Sekretaris BPBD-nya,” ujarnya.
Desa Wolomotong memiliki 2.724 jiwa atau 720 kepala keluarga. Menurut Sergius, seluruh masyarakat ikut terdampak kesulitan air.
“Penduduknya 2.700 lebih. Semua terdampak,” katanya.
Harga Air Tangki Capai Rp 500-600 Ribu
Bagi warga yang memiliki kemampuan ekonomi, membeli air dari mobil tangki menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, harga air tidak murah. Untuk pengiriman ke wilayah Wolomotong, harga air tangki berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung lokasi.
“Ini kadang-kadang juga ada yang ke Wolomotong itu mungkin Rp 600 ribu, kalau di sekitar ini Rp 500 ribu. Rata-rata Rp 500 ribu,” kata Sergius.
Warga yang tidak mampu membeli sendiri biasanya memilih patungan untuk mendapatkan air.
Sementara untuk wilayah yang berada di lokasi lebih tinggi, kendaraan pengangkut air juga menghadapi kendala karena biaya pengiriman menjadi lebih mahal.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Desa Wolomotong berharap Pemkab Sikka dan pihak lainnya segera memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat.
“Dengan penuh hormat kami Pemerintah Desa Wolomotong memohon bantuan air minum bersih atau air layak konsumsi untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Sergius.
Bantuan tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, mulai dari air minum, memasak hingga kebutuhan rumah tangga lainnya selama sumber air belum kembali normal.
“Kami berharap permohonan ini dapat memperoleh perhatian dan dukungan, sehingga kebutuhan air minum masyarakat dapat terpenuhi selama kondisi kekeringan masih berlangsung,” katanya.










