MAUMERE-Tidak semua lulusan perguruan tinggi memilih bekerja di balik meja setelah menyandang gelar sarjana. Stanislaus Nong justru menemukan jalan hidupnya di tengah kebun hortikultura.
Alumni Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang diwisuda pada 2018 itu memilih menekuni dunia pertanian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari lahan sewaan di Dusun Luah, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Stanis, demikian ia akrab disapa, mulai membangun usaha hortikultura yang perlahan menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.
Pada Senin (10/8/2026) pagi, ketika mentari pagi perhalan meninggi, saya menyambangi kebun hortikultura Stanislaus Nong di Dusun Luah, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.
Saat ditemui, ia tampak sibuk mengurus tanaman cabai keriting yang sedang fase berbunga. Tampak
selang-selang kecil membentang di antara bedengan. Air mengalir perlahan dari pipa menuju tanaman. Tidak ada tenaga khusus yang memasang sistem tersebut. Stanis mengerjakannya sendiri.
Sistem itu adalah irigasi tetes, sebuah metode penyiraman tanaman yang menurut Stanis membantu menghemat penggunaan air sekaligus memudahkan perawatan tanaman.
“Saya belajar instalasi irigasi tetes ini secara otodidak lewat video youtube. Modalnya ini sekitar Rp 5 jutaan, termasuk dengan fiber, pipa, selang, sambungan dan perlengkapan lainnya,” ungkapnya.
Bagi Stanis, belajar dari internet bukan hal baru. Hampir seluruh perjalanan bertaninya dibangun melalui proses belajar mandiri, mulai dari pembenihan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga panen.
Kini, irigasi tetes tersebut digunakan untuk berbagai tanaman yang dikembangkan di lahannya, termasuk tomat, cabai rawit, cabai keriting dan sayur pare.
Cara sederhana yang dikembangkan Stanis itu menjadi bagian dari kisah panjang seorang sarjana Manajemen yang memilih jalan hidup sebagai petani.
Stanislaus Nong merupakan alumni Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Nusa Nipa (Unipa). Ia menyelesaikan kuliah dan diwisuda pada 2018.
Alih-alih melamar pekerjaan setelah menyandang gelar sarjana, Stanis memilih merintis usaha pertanian.
“Selesai kuliah, tidak melamar kerja, langsung merintis horti untuk hiburan dan belajar-belajar,” ujarnya.
Kini, di usia 40 tahun, pilihan tersebut telah berkembang menjadi usaha yang ikut menopang ekonomi keluarganya.
Stanis tinggal di Desa Mahekelan bersama istrinya, Maria Octavia Mitan, dan seorang anak perempuan berusia sekitar 4,5 tahun. Sementara lokasi usaha hortikulturanya berada di RT.16-RW.008, Dusun Luah, Desa Hoder.
Olah Lahan Sewa Jadi Kebun Hortikultura

Ketertarikan Stanis terhadap pertanian mulai tumbuh sejak masa pandemi COVID-19. Namun, ia baru benar-benar berani fokus mengembangkan usaha hortikultura pada 2023.
Pada Mei 2023, ia menyewa lahan sekitar setengah hektare dengan ukuran kurang lebih 50 x 60 meter di Desa Hoder. Biaya sewanya Rp 5 juta per tahun.
Untuk memulai usaha, Stanis mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 50 juta dari BRI Unit Talibura. Namun, tidak seluruh pinjaman tersebut digunakan untuk usaha hortikultura. Setelah dihitung, dana yang benar-benar digunakan untuk pengembangan usaha tani sekitar Rp 20 juta.
“Kalau saya hitung bersih Rp 20 juta,” katanya. Sebagian dana lainnya digunakan untuk kebutuhan lain.
Dengan modal yang terbatas, Stanis tidak mencoba meniru seluruh teknologi pertanian modern yang ia lihat dari petani lain. Ia memilih menyesuaikannya dengan kemampuan finansial yang dimiliki.
Prinsip itu pula yang diterapkan ketika ia membangun sistem irigasi tetes.
Belajar dari petani dan YouTube
Sebelum menerapkan irigasi tetes secara mandiri, Stanis juga sempat melihat sistem serupa yang digunakan petani di kebun irigasi tetes milik Kopdit Pintu Air di Desa Wairbleler.
Dari sana, ia mulai memahami bagaimana sistem pengairan tersebut bekerja. Petani yang ia lihat telah menggunakan sistem yang lebih modern, sementara Stanis memilih membuat versi manual sesuai kemampuannya.
Jika sistem modern dapat dikendalikan secara otomatis melalui SMS HP, sistem milik Stanis masih mengharuskannya membuka keran pada setiap bedengan. Namun, bagi Stanis, keterbatasan tersebut bukan alasan untuk tidak berinovasi.
Ia mempelajari kembali sistem tersebut melalui YouTube dan kemudian memasangnya sendiri.
“Pasang sendiri,” katanya.
Ketika ditanya dari mana ia belajar, jawabannya sederhana.
“YouTube,” ujarnya sambil tertawa.
Selain internet, Stanis juga banyak berdiskusi dengan petani yang telah lebih dahulu sukses menggeluti dunia pertanian.

Menurutnya, belajar dari pengalaman petani lain penting agar dirinya tidak hanya bergantung pada teori.
Ia menyadari dirinya memiliki keterbatasan modal dibandingkan petani yang telah menggunakan teknologi pertanian lebih modern.
Karena itu, ia memilih mengambil hal-hal yang bisa diterapkan sesuai kemampuan.
“Kita mau bersaing dengan mereka, kita kan modal terbatas. Jadi, ikut yang ada saja,” katanya.
Bagi Stanis, irigasi tetes bukan sekadar teknologi untuk mempercantik kebun. Sistem tersebut berkaitan langsung dengan persoalan utama yang dihadapinya, yakni ketersediaan air.
Debit air menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kebun hortikultura.
Saat ini, ia memanfaatkan satu sumber air yang berada di sekitar lahan. Ia juga mendapatkan akses menggunakan sumur milik tetangga tanpa harus membayar biaya sewa.
Sebagai gantinya, Stanis ikut membantu kebutuhan pulsa listrik untuk mengoperasikan pompa dan memenuhi kebutuhan air.
Namun, kebutuhan air yang terus meningkat membuatnya mulai memikirkan sumber air tambahan.
Ia berencana menggali sumur sendiri apabila usaha hortikulturanya terus berkembang.
Di atas lahan tersebut, Stanis ingin terus memperluas penanaman.
Setelah tanaman yang sedang berproduksi selesai, ia berencana kembali menanam tomat di area yang sama.
Sebelum sampai pada tahap tersebut, Stanis telah melewati berbagai musim tanam dan pengalaman.
Pada 16 Juni 2023, ia menanam sekitar 2.300 pohon cabai rawit. Sebelumnya, lahan telah dibersihkan, dibajak, dibuat bedengan dan dipasang plastik mulsa.
Tiga bulan kemudian, pada September 2023, panen pertama dimulai.
Panen perdana menghasilkan sekitar 125 kilogram cabai. Dengan harga Rp 25 ribu per kilogram, hasil penjualannya mencapai sekitar Rp 3,1 juta.
Pada minggu berikutnya, produksi meningkat menjadi lebih dari 200 kilogram dengan omzet sekitar Rp 5 juta. Panen kemudian berlangsung rutin setiap minggu hingga April 2024.
Stanis memperkirakan omzet kotor dari satu musim produksi tersebut berada di kisaran Rp 120 juta. Bahkan, ketika harga pasar meningkat pada periode tertentu, hasilnya berpeluang lebih besar.
“Pasarnya juga relatif terbuka. Pembeli datang langsung ke lahan untuk mengambil hasil panen.
Setelah cabai, Stanis kembali mencoba komoditas lain. Sekitar 2.000 pohon tomat pernah ditanam dan menghasilkan sekitar 15 kali panen.
Pada masa puncak produksi, hasil panen tomat bisa mencapai sekitar 700 kilogram sekali panen. Dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram, hasil penjualan dapat mencapai sekitar Rp 7 juta dalam satu kali panen.
Ia juga menanam sayur pare lebih dari 100 pohon. Meski jumlah tanaman relatif sedikit, hasilnya cukup menjanjikan. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram dengan nilai sekitar Rp 1 juta.
Karena pemetikan dilakukan dua kali dalam seminggu, Stanis memperkirakan hasil penjualan leba dapat mencapai sekitar Rp 2 juta per minggu ketika produksi sedang baik.
Namun, Stanis menyadari bahwa omzet bukan berarti keuntungan bersih.
Ia harus terus mengeluarkan biaya untuk pupuk, pestisida, tenaga kerja, air, perawatan hingga pengembangan lahan. Karena itu, ia berusaha mengelola hasil usaha secara bertahap.
Pernah Gagal karena Hama dan Abu Erupsi Gunung Lewotobi

Perjalanan bertani Stanis tidak selalu menghasilkan keuntungan. Ia pernah mengalami kegagalan ketika sekitar 1.000 tanaman terserang hama trips.
Tanaman cabai rawit yang ditanam akhirnya rusak dan gagal dipanen karena biaya pengendalian hama tidak mampu ditanggungnya saat itu.
Kerugian modal diperkirakan mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu.
Pengalaman tersebut membuat Stanis semakin memahami bahwa kemampuan mengenali hama dan penyakit merupakan bagian penting dalam usaha hortikultura.
Ia belajar mengenali gejala serangan dan mencoba menentukan langkah pengendalian yang sesuai.
Menurutnya, petani harus terus belajar karena kondisi tanaman dan lingkungan tidak selalu sama.
“Informasi yang diperoleh dari YouTube pun tidak bisa diterapkan begitu saja.
Perbedaan cuaca dan kondisi lahan membuat setiap petani harus mampu menyesuaikan teknik budidayanya,” ungkapnya.
Tantangan lainnya datang dari alam. Pada 2024, abu erupsi menyebabkan tanaman cabai yang dikembangkan Stanis mengalami kerusakan.
Biaya perawatan meningkat, sementara kondisi tanaman semakin sulit dipertahankan. Akhirnya, tanaman harus dibongkar dan lahan dipersiapkan kembali untuk musim tanam berikutnya.
Namun, seperti kegagalan akibat hama, kondisi tersebut tidak membuat Stanis meninggalkan pertanian.
Sebaliknya, ia terus mencoba komoditas lain dan memperbaiki metode budidaya.
Hasil Kebun Horti Bisa Membeli Tanah
Ada satu kebiasaan yang membuat hasil usaha hortikultura Stanis memiliki cerita tersendiri. Ia tidak hanya menggunakan pendapatan kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian hasilnya diputar menjadi aset. Dari hasil usaha hortikultura yang dikembangkan di atas lahan sewaan baik di Desa Mahekelan maupun di Desa Hoder, Stanis mengaku telah membeli tiga bidang tanah. Nilainya sekitar Rp 18 juta, Rp 25 juta dan Rp 35 juta.
Bagi Stanis, keputusan tersebut merupakan bagian dari cara mengelola hasil usaha agar tidak habis begitu saja. Pendapatan dari tanaman yang memiliki masa produksi terbatas diubah menjadi aset berupa tanah yang bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Di sinilah ilmu Manajemen yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah terasa menemukan bentuk nyata. Ia belajar mengatur modal, menghitung biaya produksi, membaca peluang pasar dan menentukan ke mana hasil usaha harus diarahkan.
Stanis tidak menampik bahwa modal menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan pertanian.
Namun, pengalaman selama bertahun-tahun membuatnya percaya bahwa modal bukan satu-satunya penentu keberhasilan.
“Kemauan belajar, keberanian mencoba, disiplin merawat tanaman dan kemampuan membaca kondisi pasar juga sangat menentukan,” ungkapnya.
Dikatakan Stanis, keterbatasan modal justru membuat ia terbiasa mencari cara yang lebih sederhana. Ketika petani lain menggunakan sistem irigasi modern, ia membuat sistem manual. Ketika membutuhkan pengetahuan teknis, ia belajar melalui YouTube dan berdiskusi dengan petani lain. Semua dilakukan sambil terus bekerja di lahan.
Bagi Stanis, pertanian kini bukan lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Hortikultura telah menjadi sumber ekonomi keluarga sekaligus ruang baginya untuk mengembangkan kemampuan yang diperoleh dari pendidikan dan pengalaman.
Ia berharap semakin banyak anak muda melihat pertanian sebagai peluang usaha. Menurutnya, generasi muda tidak harus menunggu mendapatkan pekerjaan formal untuk mulai menghasilkan. Pertanian bisa dimulai dari lahan kecil, komoditas yang sederhana dan modal yang disesuaikan dengan kemampuan.
“Yang penting mau kerja keras, tahu manajemen olah tanah, dan disiplin dalam perawatan tanaman,” katanya.
Dari lahan sewaan sekitar setengah hektare, Stanis belajar bahwa pertanian bukan hanya tentang tanah dan tanaman. Ada keberanian untuk memulai, kemauan belajar dari kegagalan, kecermatan mengelola modal dan kesabaran menunggu hasil.










