Dunia Hanya Sebatas “Klik”

- Reporter

Rabu, 4 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bertholomeus Jawa Bhaga,M.Pd
Kaprodi Pendidikan  Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Maumere

Bertholomeus Jawa Bhaga,M.Pd Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Maumere

Di era digital saat ini, ungkapan “dunia hanya sebatas klik” bukan lagi sekadar metafora hiperbolik, melainkan representasi nyata dari realitas global yang telah terdigitalisasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet dan perangkat digital, telah mereduksi batas-batas geografis, sosial, bahkan budaya.

Hanya dengan satu “klik”, seseorang bisa mengakses informasi dari belahan dunia mana pun, berbelanja lintas negara, atau bahkan menghadiri kelas universitas ternama dari kamar tidurnya.

Internet telah menjadi jendela dunia. Akses ke informasi dalam berbagai bahasa, format, dan konteks telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Miliaran orang di dunia telah terhubung ke internet. Artinya, sebagian besar populasi dunia kini memiliki akses hampir instan terhadap berita, ilmu pengetahuan, budaya, dan hiburan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan adanya mesin pencari seperti Google dan platform media sosial seperti Instagram, X (Twitter), dan TikTok, pengetahuan dan informasi bukan lagi milik elite intelektual atau institusi pendidikan, tetapi tersebar luas dan bersifat demokratis. Namun, kemudahan ini juga membawa risiko seperti banjir informasi (information overload) dan penyebaran disinformasi.

“Klik” juga menjadi simbol dari interaksi sosial masa kini. Komunikasi yang dulunya mengandalkan pertemuan fisik kemudian akhirnya  bergeser menjadi pertemuan virtual. Platform seperti WhatsApp, Zoom, dan lainnya memungkinkan manusia untuk terhubung tanpa kehadiran fisik. Fenomena ini menunjukkan adanya transformasi struktural dalam cara manusia membentuk dan memelihara relasi sosial.

Meskipun efisien, kita perlu menyoroti dampak psikologis dan sosial dari interaksi digital. Munculnya perasaan kesepian, isolasi, dan kecanduan layar adalah tantangan baru di tengah kenyamanan teknologi.

Era digital juga melahirkan ekonomi berbasis platform—dari e-commerce seperti Tokopedia hingga layanan pesan antar seperti Gojek. Semua dapat dilakukan dengan “klik”: memesan makanan, membeli tiket pesawat, hingga mengakses layanan kesehatan. Ini menandakan bergesernya gaya hidup ke arah instan dan serba cepat.

Namun, ketergantungan pada sistem digital juga menimbulkan ketimpangan digital (digital divide), di mana kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses internet atau perangkat digital tertinggal dari arus perkembangan global.

Ungkapan “dunia hanya sebatas klik” merangkum secara padat realitas digital kontemporer. Meski membawa kemudahan, efisiensi, dan keterhubungan yang luar biasa, kita juga perlu menyikapi transformasi ini dengan kesadaran kritis terhadap dampaknya, baik dari sisi sosial, psikologis, maupun struktural. Dunia memang hanya sebatas “klik”, tetapi bagaimana kita mengklik, ke mana kita mengklik, dan untuk tujuan apa, itulah pertanyaan yang harus terus kita refleksikan.

Komentar FB

Penulis : Bertholomeus Jawa Bhaga,M.Pd

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Opini

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Air Kelapa di Bandara Frans Seda dan Mimpi Besar yang Tak Boleh Transit
Trenggono Antar Rp 22 Miliar untuk Sikka
Nyai Ontosoroh di Bawah Lampu Disko: Sebuah Gugatan dari Sikka
Pena yang Patah: Suara Sunyi dari NTT
​Digitalisasi NTT Mart: Mengubah Slogan “Beli NTT” dan “Beta NTT” Menjadi Kedaulatan Ekonomi
Inovasi Farmasi dan Semangat Generasi Muda Menuju SDGs 2045
Moke (Warisan) Sikka: Merajut Ekonomi Lokal Dengan Kepastian Hukum, Oleh; Gregorius Cristison Bertholomeus, SH., MH
Aktivisme Tanpa Etika: Erosi Intelektualitas dan Kekacauan Demokrasi Kampus
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 03:25 WITA

Air Kelapa di Bandara Frans Seda dan Mimpi Besar yang Tak Boleh Transit

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:33 WITA

Trenggono Antar Rp 22 Miliar untuk Sikka

Senin, 23 Februari 2026 - 04:22 WITA

Nyai Ontosoroh di Bawah Lampu Disko: Sebuah Gugatan dari Sikka

Kamis, 5 Februari 2026 - 09:01 WITA

Pena yang Patah: Suara Sunyi dari NTT

Jumat, 30 Januari 2026 - 02:16 WITA

​Digitalisasi NTT Mart: Mengubah Slogan “Beli NTT” dan “Beta NTT” Menjadi Kedaulatan Ekonomi

Berita Terbaru