TAJUKNTT-SIKKA-Ada yang cukup berbeda dengan dekorasi menyambut Natal di Paroki Santo Yohanes Baptista Boganatar, Keuskupan Maumere tahun ini. Alih-alih menggunakan bahan alam untuk dekorasi kandang Natal seperti tahun sebelum-sebelumnya, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Boganatar merangkai kandang Natal dari tumpukan seng bekas yang telah berkarat dan berlubang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dekorasi ini kemudian diberi nama “Kandang Natal Erupsi,” sebuah refleksi simbol perjuangan umat di tengah bencana alam meletusnya gunung api Lewotobi Laki-laki selama dua tahun terakhir.
Seng bekas ini diambil dari hasil pembongkaran atap gereja yang rusak parah akibat material gunung api yang sering melanda wilayah itu.
Ar Lewuk, seniman dan juga anggota OMK Paroki Boganatar yang menginisiasi pembuatan kandang Natal dari barang bekas itu berkata bahwa ide tersebut lahir dari pengalamannya selama dua tahun mengalami langsung dampak erupsi. Ia ingin agar umat turut merefleksi peristiwa kesusahan selama ini bukan hanya sebagai bencana yang membawa duka, tetapi juga sebagai pengalaman iman yang menumbuhkan harapan dan solidaritas.
“Saya bersama teman OMK didampingi pastor moderator OMK memilih material seng bekas untuk merangkai kandang Natal ketimbang bambu atau bahan lainnya karena kami ingin menyampaikan pesan bahwa dari puing-puing kehancuran pun dapat lahir makna baru yang mengandug nilai-nilai Natal seperti harapan dan sukacita serta solidaritas,” kata Ar.
Ia mengungkapkan bahwa kelahiran Yesus yang lahir di kandang Natal terlebih dahulu melalui banyak rintangan namun ada sukacita setelahnya.
“Umat Boganatar juga melalui banyak rintangan selama dua tahun terakhir, atap rumah rusak, gagal panen, makanan susah tetapi masih setia menyambut Yesus dengan penuh sukacita,” ungkap Ar, pemuda yang dikenal melalui berbagai lukisan bergaya Renaisans di beberapa gereja di Flores Timur.
Kerusakan Infrastruktur dan Krisis Ekonomi
Sejak akhir 2023, erupsi gunung berapi yang berada di Flores Timur terus membayangi kehidupan warga di lima desa Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Wilayah Paroki Boganatar yang meliputi Desa Kringa, Hikong, Ojang, Timutawa, dan Udek Duen, menjadi wilayah terdampak paling parah di luar radius 6 kilometer yang di tetapkan petugas gunung api.
Pastor Rekan Paroki Boganatar sekaligus Moderator OMK SVD Keuskupan Maumere, Pater Tommy Lehan, SVD, mengungkapkan bahwa sebanyak 5.032 jiwa mengalami dampak serius dari bencana alam tersebut. Sebaran umat ini mencakup delapan stasi, 23 lingkungan, dan 66 Komunitas Basis Gereja (KBG).
Dampak letusan tidak hanya melumpuhkan ekonomi warga melalui gagal panen, tetapi juga merusak infrastruktur vital.
“Atap rumah rusak, kesehatan warga terganggu, dan terjadi gagal panen. Selain rumah warga, bangunan gereja, delapan kapela, aula, pastoran hingga biara mengalami kerusakan parah,” ujar Pater Tommy kepada TajukNTT, Jumat, 26 Desember 2025.

Ia mengenang pengalaman dua bulan lalu, saat umat harus merayakan Ekaristi di tengah guyuran hujan yang menembus atap-atap berlubang. Lantai gereja tergenang air, memaksa umat beribadah dengan kondisi berdiri di atas genangan.
“Konsentrasi umat terganggu. Altar, sakristi, dan ruangan lainnya di dalam gereja bahkan tempat duduk Pastor basah semua,” kenangnya.
Merespons kondisi tersebut, gerak cepat dilakukan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Boganatar melalui pengajuan proposal ke Keuskupan Maumere. Dukungan pun mengalir dari paroki-paroki di Keuskupan Maumere, Caritas Indonesia, serta donatur pribadi dari pastor maupun umat.
Hasilnya, umat bahu-membahu bergotong royong mengganti atap seng gereja yang rusak. Satu minggu sebelum perayaan Natal, atap seng sudah terpasang semuanya.
“Semangat kolektif ini membawa harapan baru bagi kami umat Boganatar. Kami sangat berterima kasih kepada Uskup Maumere, Caritas Indonesia, paroki-paroki yang membantu serta pastor dan donatur yang telah membantu. Jika tidak, mungkin kami harus merayakan Natal di bawah guyuran hujan,” tambah Tommy.
Bagi Pater Tommy, bencana ini membawa refleksi mendalam. Ia memandang musibah bukan sekadar duka, melainkan ruang perjumpaan dan solidaritas antar sesama yang sebelumnya tidak saling mengenal.
“Selama bencana, kami dibantu oleh orang-orang yang tak kami kenal, yang mungkin mendengar keluhan kami melalui layar televisi, berita online dan media-media sosial. Mereka datang dengan hati yang lapang membantu kami selama kurang lebih dua tahun ini.”
Iman Umat Mesti Diperbaharui

Pastor Paroki Boganatar, Yeremias Purin Koten, SVD, dalam homili Misa Hari Raya Natal menekankan bahwa bencana alam dan dampaknya merupakan momen untuk merefleksikan diri, lebih bersyukur, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pater Yerem berkata, sebelumnya ia sempat khawatir umat akan merayakan Natal di bawah atap gereja yang rusak, mengingat musim hujan telah tiba. Namun, berkat bantuan banyak pihak yang menyumbangkan seng, rehabilitasi atap pun dapat dilakukan.
“Kita lihat bersama atap seng sudah diperbarui. Saya berharap iman umat juga turut diperbarui dengan rasa syukur untuk datang ke gereja merayakan Ekaristi, tidak hanya pada hari raya besar, tetapi juga setiap hari Minggu,” ujar Pater Yerem.
Ia juga mengapresiasi kreativitas Orang Muda Katolik (OMK) Boganatar yang dalam keterbatasannya merangkai kandang Natal dari seng bekas . Menurutnya, kandang tersebut merupakan simbol kerendahan hati, keterbukaan, dan kesediaan untuk berkorban.
Melalui karya tersebut, kaum muda ingin mengingatkan umat bahwa kesederhanaan menunjukkan jati diri manusia yang sebenarnya di hadapan Allah.
“Tuhan memberikan pesan mulia bahwa justru dari keadaan yang sulit inilah kita diangkat ke tempat yang lebih tinggi. Melalui palungan sederhana itu, Tuhan menghantar kita menjadi pribadi yang berharga. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun,” tegasnya.
Pater Yerem menambahkan, hal yang terpenting adalah kesiapan hati untuk bertobat agar layak menjadi palungan terindah bagi kelahiran kembali Yesus di dunia.
Penulis: Mia Margaretha Holo
Editor: Redaksi.










