Hari Keenam Hilangnya Nelayan di Paga, Sikka, Keluarga Desak Pemerintah Kerahkan Armada Besar dan Helikopter Lakukan Pencarian

- Reporter

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE–TAJUKNTT- Memasuki hari keenam hilangnya dua orang nelayan Anwar Mahmud dan Norisius Sapa di perairan Pantai Selatan, Kabupaten Sikka, pihak keluarga korban meminta pemerintah uuntuk mengerahkan armada besar dan helikopter untuk mempercepat proses pencarian.

Kedua nelayan ini diketahui pergi melaut pada Minggu, 25 Januari 2025 dan dilaporkan hilang pada Senin, 26 Januari 2026. Tim SAR gabungan pun telah melakukan proses pencarian namun hingga hari ini, Sabtu, 31 Januari 2026, belum membuahkan hasil.

Allan Golkar, keluarga korban mengapresiasi kehadiran awal Basarnas, keluarga menilai peralatan yang dikerahkan tidak sebanding dengan ganasnya medan pencarian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia mengatakan armada kecil yang digunakan saat ini sangat tidak mungkin untuk menembus ombak besar Samudra Hindia di Pantai Selatan.

“Kami akui pemerintah peduli dengan datangnya BASARNAS di hari kedua. Tetapi dengan armada yang begitu kecil menembus ganasnya lautan Pantai Selatan, itu sangat tidak mungkin. Kami butuh armada yang lebih besar,” ujar Alan saat ditemui di bibir pantai Desa Paga, Kecamatan Paga, Jumat, (30/1/2026).

Keluarga sempat menaruh harapan besar pada penggunaan helikopter yang sempat disampaikan kepada Wakil Bupati Sikka untuk memantau dari udara, namun hingga kini hal tersebut belum terealisasi.

“Kami kecewa dengan Pemerintah, dua hari lalu Pak Wakil datang kesini dan kami sempat diskusi untuk menggunakan helikopter. Beliau sempat menyebut akan berkoordinasi tapi hingga saat ini tidak pernah ada,” jelasnya.

Allan Golkar berharap kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT agar lebih serius untuk menanggapi masalah ini.

“Saya minta Pemerintah lebih serius, jangan datang ke Paga hanya untuk formalitas dan foto-foto untuk laporan. Datang harus bawa solusi,” tegasnya kecewa.

Melihat keterbatasan armada yang diturunkan oleh pemerintah melalui Basarnas, warga setempat tidak tinggal diam melihat kondisi ini. Sejak kemarin, Selasa, 27 Januari 2026 pagi warga mengumpulkan uang secara sukarela.

Allan Golkar menyebut uang tersebut digunakan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), makanan, dan air minum bagi nelayan yang ikut serta dalam pencarian secara mandiri.

Aksi ini bertujuan untuk meringankan keluarga korban, dan mendukung proses pencarian para nelayan di lapangan.

“Kami kumpul uang dari rumah ke rumah, hingga ada yang pegang kotak dan berdiri di jalan. Ada juga yang open donasi, ini uang untuk dua kapal motor nelayan beli solar dan makanan dalam upaya pencarian korban, ” ungkapnya.

Lanjut Allan, pada Rabu, (28/1/2026) pagi dua kapal motor nelayan Ndori Kabupaten Ende ikut bergerak menyisir perairan Paga hingga ke perairan Lembata, dan Solor selama dua malam.

“Dua hari lalu mereka sampai di perairan Lembata dan Solor. Mereka menyisir selama dua malam dan akhirnya pulang dengan tangan kosong,” katanya.

Hingga kini menurut Allan, belum ada kapal motor yang turun ke laut untuk mencari. Hal ini terkendala logistik operasional seperti BBM dan makanan untuk nelayan yang membantu pencarian.

“Kami hari ini kembali kumpulkan dana, kalau sudah cukup untuk beli BBM dan untuk makan maka para nelayan kembali turun,” jelasnya.

Keluarga juga menyoroti kunjungan Wakil Bupati Sikka dan Kepala Dinas BPBD yang dinilai hanya sebatas diskusi tanpa solusi konkret.

Alan mengibaratkan penanganan pemerintah saat ini seperti mendiagnosis penyakit tanpa memberikan obat.

“Sakit kepala bukan hanya omong bilang ‘Bapak sakit kepala begini’, tidak. Butuh minum obat. Itu tindakan yang kami butuh, bukan persoalan retorika,” tegas Alan.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Sikka Butuh Hampir Rp 10 Miliar Gaji 727 PPPK Paruh Waktu, Sekda: Kemampuan Fiskal Hanya Rp 600 Ribu per Bulan
Lara Guru PPPK Paruh Waktu Sikka: Diangkat 5 Januari 2026, Hingga April Belum Terima Gaji
Nasib Miris 207 Guru dan Tenaga Kependidikan PPPK Paruh Waktu di Sikka: Digaji Rp 600 Ribu, DPRD Sebut Tidak Manusiawi
Belajar dari Kasus SMPN Nuba Arat, Dinas PKO Sikka Akan Optimalkan Peran Pengawas dan Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan di Sekolah
Buntut Guru SMPN Nuba Arat Segel Ruang Kepala Sekolah dan Mogok, Dinas PKO Sikka Geser Kepsek ke Dinas, Tetapkan Seorang PLH
Guru SMPN Nuba Arat, Sikka Segel Ruang Kepala Sekolah, KBM Terganggu
12 Guru Mogok Mengajar, Dinas PKO Sikka Akui Ada Masalah Internal di SMPN Nuba Arat
LPDB Koperasi Datangi Kopdit Obor Mas, Buka Peluang Pinjaman Baru untuk Dorong Ekonomi Anggota
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:54 WITA

Pemkab Sikka Butuh Hampir Rp 10 Miliar Gaji 727 PPPK Paruh Waktu, Sekda: Kemampuan Fiskal Hanya Rp 600 Ribu per Bulan

Senin, 20 April 2026 - 04:58 WITA

Lara Guru PPPK Paruh Waktu Sikka: Diangkat 5 Januari 2026, Hingga April Belum Terima Gaji

Jumat, 17 April 2026 - 00:24 WITA

Belajar dari Kasus SMPN Nuba Arat, Dinas PKO Sikka Akan Optimalkan Peran Pengawas dan Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan di Sekolah

Kamis, 16 April 2026 - 13:14 WITA

Buntut Guru SMPN Nuba Arat Segel Ruang Kepala Sekolah dan Mogok, Dinas PKO Sikka Geser Kepsek ke Dinas, Tetapkan Seorang PLH

Kamis, 16 April 2026 - 01:32 WITA

Guru SMPN Nuba Arat, Sikka Segel Ruang Kepala Sekolah, KBM Terganggu

Berita Terbaru