MAUMERE-TAJUKNTT- Kasus bunuh diri di Kabupaten Sikka dalam beberapa tahun terakhir perlu menjadi perhatian serius semua pihak. Polres Sikka mencatat, sepanjang periode 2020 hingga April 2026, telah terjadi sedikitnya 15 kasus bunuh diri dengan berbagai latar belakang persoalan.
Kapolres Sikka melalui Kasie Humas, Ipda Leonard Tunga, Rabu (29/4/2026) pagi, mengungkapkan, dari data tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab paling dominan meliputi depresi, persoalan rumah tangga, tekanan ekonomi, gangguan psikologis, hingga tekanan sosial di lingkungan sekitar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan kesehatan mental di tengah masyarakat perlu mendapat perhatian lebih luas dan penanganan yang lebih sistematis,” ungkap Ipda Leonard Tunga.
Ia menuturkan, pihak kepolisian tidak hanya fokus pada penanganan kasus, tetapi juga terus memperkuat langkah pencegahan.
Menurutnya, upaya preventif akan dilakukan melalui peningkatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental, terutama bagi anak-anak dan remaja yang tergolong kelompok rentan.
“Polisi juga akan memperkuat peran Bhabinkamtibmas di desa-desa untuk lebih aktif melakukan pendekatan persuasif kepada warga, mendeteksi dini kondisi masyarakat yang berpotensi mengalami tekanan psikologis, serta mendorong keterlibatan keluarga dan tokoh masyarakat dalam memberikan pendampingan,” ungkap Ipda Leonard Tunga.
Selain itu, Polres Sikka mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi di lingkungan sekitar.
Perubahan perilaku seperti menarik diri, mudah putus asa, hingga menunjukkan tanda-tanda depresi diharapkan tidak diabaikan, melainkan segera ditindaklanjuti dengan pendekatan yang tepat.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak ragu melaporkan kepada aparat atau pihak terkait apabila menemukan anggota keluarga atau warga yang membutuhkan bantuan.
“Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Kepedulian keluarga dan masyarakat sangat penting untuk menyelamatkan generasi muda,” tegasnya.
Polres Sikka menekankan bahwa setiap persoalan hidup memiliki jalan keluar dan tidak seharusnya diselesaikan dengan cara-cara yang merugikan diri sendiri.
“Oleh karena itu, keterbukaan untuk mencari bantuan serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi kunci dalam mencegah terjadinya kasus bunuh diri,” ungkapnya.
Upaya pencegahan, lanjutnya, hanya akan efektif jika dibangun melalui kesadaran bersama bahwa kesehatan mental merupakan tanggung jawab kolektif, bukan semata persoalan individu.










