MAUMERE-Kesulitan mendapatkan air bersih yang dialami warga Pulau Dambila, Dusun Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, mendapat respon dari Palang Merah Indonesia (PMI).
PMI melalui PMI Cabang Sikka mulai menyiapkan skema distribusi air bersih ke wilayah kepulauan tersebut setelah menerima informasi mengenai kondisi masyarakat yang selama ini harus menyeberangi laut untuk mendapatkan air layak konsumsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator Posko Tanggap Darurat Bencana (TDB) PMI Kabupaten Sikka, Aryo Adhityo, mengatakan koordinasi awal telah dilakukan bersama Kepala Dusun Dambila, Sudomo.
Dari koordinasi tersebut, PMI memperoleh informasi sementara terdapat sekitar 160 kepala keluarga yang membutuhkan dukungan air bersih.
“Berdasarkan informasi sementara, terdapat sekitar 160 kepala keluarga yang membutuhkan dukungan air bersih,” kata Aryo, Minggu (6/9/2026).
Namun, mendistribusikan air bersih ke Pulau Dambila tidak semudah mengirimkan air menggunakan truk tangki seperti ke wilayah daratan.
Letak Pulau Dambila yang berada di wilayah kepulauan membuat PMI harus memikirkan kembali cara membawa air dari sumber hingga sampai ke masyarakat.
“Kondisi geografis dan akses menuju Dusun Dambila menjadi tantangan tersendiri, khususnya dalam proses pengangkutan dan distribusi air,” ujarnya.
Karena itu, PMI kini tengah mencari skema distribusi yang dinilai paling memungkinkan dengan mempertimbangkan kondisi geografis Pulau Dambila.

Salah satu opsi yang sedang dikoordinasikan adalah mengangkut air bersih dari Desa Nangahale menggunakan kapal motor untuk kemudian diseberangkan menuju Pulau Dambila. Skema tersebut dirancang dengan memanfaatkan profil tank berkapasitas sekitar 2.500 liter.
Air bersih yang dibawa menggunakan truk tangki PMI nantinya dipindahkan ke profil tank. Tangki penampungan itu kemudian diangkut menggunakan kapal motor menuju Dambila.
Setibanya di wilayah tersebut, air akan didistribusikan melalui dermaga Dusun Dambila.
“PMI juga sedang berupaya mendapatkan kapal motor yang memungkinkan untuk mengangkut profil tank berkapasitas sekitar 2.500 liter,” kata Aryo.
Menurut dia, keberadaan tempat penampungan komunal di Dambila menjadi bagian penting dalam skema distribusi tersebut.
PMI berharap pemerintah dusun bersama masyarakat dapat menyiapkan profil tank komunal di sekitar dermaga Dambila sehingga air yang tiba dapat ditampung sementara sebelum dibagikan kepada warga.
“Kami berharap kepala dusun bersama masyarakat dapat menyiapkan profil tank komunal di sekitar dermaga Dambila sebagai titik penampungan sementara,” ujarnya.
Selanjutnya, pembagian air kepada masing-masing keluarga akan dikoordinasikan oleh kepala dusun.
Cara ini dinilai penting agar air yang jumlahnya terbatas dapat dibagikan secara tertib dan menjangkau keluarga yang benar-benar membutuhkan.
“Selanjutnya, mekanisme pembagian air kepada masing-masing keluarga akan dikoordinasikan dan diatur oleh Kepala Dusun agar distribusi dapat berlangsung tertib, adil, dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Aryo.
Bukan Sekadar Persoalan Jarak
Kesulitan air bersih di Dambila bukan persoalan yang baru muncul. Sebelumnya, media ini memberitakan bagaimana warga Pulau Dambila harus menggunakan kapal laut untuk mendapatkan air bersih dari pesisir Dusun Nebura, Desa Kojagete.
Air tersebut bersumber dari Mata Air Ledaune 1 yang menjadi salah satu sumber air tawar bagi masyarakat Nebura.
Pada Jumat (5/9/2026) sore, sejumlah kapal kecil dari Dambila terlihat datang ke pesisir Nebura membawa jeriken. Warga kemudian mengisi jeriken dengan air untuk dibawa kembali menyeberangi laut.
Bagi warga Dambila, mendapatkan air untuk kebutuhan konsumsi berarti harus menyiapkan waktu, biaya, jeriken hingga sarana transportasi laut.
Ilham (45), pengelola air tingkat Dusun Nebura, mengatakan warga Dambila datang ke wilayah tersebut karena tidak memiliki sumber air tawar yang dapat diandalkan untuk kebutuhan konsumsi.
“Tidak ada. Tidak ada sumber air. Untuk konsumsi tidak ada. Paling air di sumur untuk mandi dan cuci,” kata Ilham.
Air sumur yang tersedia di wilayah tersebut, menurut dia, terasa asin karena mengandung garam.
“Agak mengandung garam,” ujarnya.
Karena itu, air dari Nebura digunakan warga Dambila untuk memasak dan kebutuhan konsumsi keluarga.
“Masak, kebutuhan mereka,” kata Ilham.
Warga bahkan harus membayar air tersebut berdasarkan jumlah jeriken yang dibawa.
Siti Susanti, warga Desa Parumaan, mengatakan harga air saat ini sekitar Rp2.000 untuk satu jeriken berkapasitas 20 liter.
“Per jeriken itu hitungan sekarang sudah Rp2.000,” kata Siti.
Dalam sekali perjalanan, warga dapat membawa sekitar 10 hingga 20 jeriken. Biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.
“Harus bisa. Air minum nih, kita mau cari di mana lagi,” ujarnya.
Dengan kondisi itu, perjalanan menggunakan kapal untuk mendapatkan air bersih akhirnya menjadi bagian dari rutinitas warga.










