Warga Dobo Kesulitan Air Pascagempa, PMI Sikka Salurkan Air Bersih, Tandon dan Bantuan Kebutuhan Dasar

- Reporter

Monday, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE,TAJUKNTT-Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka melakukan pelayanan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi 15 Agustus 2026 di Kampung Dobo, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Senin (28/9/2026) sore.

Pelayanan PMI kali ini menyasar kebutuhan mendesak warga, terutama air bersih, sekaligus menyalurkan bantuan kebutuhan dasar dan memberikan edukasi kesehatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Koordinator Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa Bumi PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan pelayanan di Kampung Dobo berawal dari informasi yang diterima PMI mengenai kondisi masyarakat setempat.

“Baik, terima kasih. Pertama saya mau berterima kasih dulu untuk teman-teman media, karena kami sampai hari ini di tempat ini karena juga ada informasi yang kami dapatkan dari teman-teman media,” kata Octavianus.

Setelah memperoleh informasi tersebut, PMI kemudian berkoordinasi dengan pihak terkait hingga akhirnya memutuskan melakukan pelayanan di Dusun Dobo, khususnya RT 01.

“Jadi hari ini, berdasarkan informasi dari teman-teman di media, kami coba untuk berkoordinasi dan akhirnya bisa mengontak Bapak Sergius Moa, dan kita putuskan untuk melakukan pelayanan di Dusun Dobo ini, khususnya RT 01,” ujarnya.

PMI Sikka Bawa Air Bersih dan Tandon Air


Octavianus mengatakan persoalan paling mendesak yang ditemukan di Kampung Dobo adalah kebutuhan air bersih.

Kondisi medan yang sulit menjadi salah satu kendala utama distribusi air ke wilayah tersebut.

“Kalau untuk kebutuhan mendesak, itu air bersih. Nah, karena kondisi medan yang cukup sulit untuk bisa sampai ke dusun, maka kami bersama warga sebenarnya itu memutuskan meletakkan dua tandon air,” jelasnya.

Dua tandon ditempatkan di lokasi. Satu merupakan bantuan warga, sedangkan satu lainnya merupakan bantuan dari Ciputra Group melalui PMI dengan kapasitas 2.300 liter.

“Jadi satu tandon air itu dibantu oleh warga sendiri, satu tandon air itu merupakan sumbangan dari kami melalui Ciputra Group, itu ukurannya 2.300,” kata Octavianus.

Dengan dua tandon tersebut, total kapasitas penampungan mencapai 4.600 liter. PMI juga memobilisasi tangki air untuk mengisi tandon hingga penuh.

Selain distribusi air, PMI juga memberikan pelayanan promosi kesehatan.

“Jadi seperti yang dilihat, adik-adik di sini diajarkan bagaimana pola hidup bersih dan sehat, kemudian juga termasuk orang-orang tuanya,” katanya.

Pelayanan PMI juga mencakup bantuan kebutuhan dasar berdasarkan data masyarakat. Di RT 01 Kampung Dobo terdapat 34 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 92 jiwa.

PMI menyalurkan family kit kepada 34 kepala keluarga, sementara pakaian dan sarung diberikan kepada seluruh 92 jiwa.

“Kebetulan di sini ada 34 KK dan 92 jiwa. Jadi kita bantu untuk family kit-nya itu 34 KK, karena sifatnya untuk kepala keluarga. Sedangkan untuk pakaian, sarung berupa sarung dan baju, itu kita bantu langsung ke 92,” kata Octavianus.

Bantuan khusus perempuan berupa dignity kit juga diberikan.

“Dignity kit ini kelengkapan-kelengkapan untuk khusus untuk perempuan,” jelasnya.

Data PMI juga mencatat terdapat 24 lansia di wilayah tersebut. Mereka menjadi sasaran bantuan dignity kit.
Sementara untuk ibu hamil dan bayi atau balita, PMI menyalurkan empat baby kit.

“Data ada ibu hamil dan bayi balita kita bantu dengan baby kit. Jadi baby kit ini perlengkapan-perlengkapan bayi untuk mereka yang punya anak bayi dan ibu hamil,” ujarnya.

Ketika ditanya jumlah baby kit yang disalurkan, Octavianus menyebut ada empat paket.

“Baby kit-nya ada empat, itu sesuai data. Jadi memang yang kita sampaikan hari ini kepada masyarakat khususnya di Dusun Dobo ini berdasarkan data yang diberikan dari Bapak Sergius Moa,” katanya.

Sebanyak 21 anak juga mendapat snack berupa susu Ultramilk dan Tango.

Octavianus mengatakan pelayanan PMI di Kampung Dobo merupakan respons darurat berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Karena memang jarak yang cukup jauh, lalu juga dengan kondisi medan yang cukup sulit, nah, lalu ketiadaan sumber air, ini yang membuat PMI akhirnya kita coba untuk membantu dengan tandon dan tadi, memobilisasi tangki air ke sini,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lanjutan karena PMI pada dasarnya mendukung pemerintah dalam penanganan bencana.

PMI Sikka Kerahkan 18 Personel Relawan 

Pelayanan di Kampung Dobo melibatkan personel PMI Sikka dan PMI Jawa Timur. Dari PMI Sikka, sebanyak 15 personel diterjunkan dan dibagi menjadi dua tim.

“Oke. Jadi hari ini untuk dari markas PMI Sikka sendiri kita ada ber-15 orang. Karena kita bagi dua tim. Besok itu akan ada lanjutan di desa lain dengan tim yang lain,” kata Octavianus.

Selain itu, tiga personel PMI Jawa Timur turut bergabung.

“Mereka khusus datang untuk melakukan promosi kesehatan. Jadi bagaimana mereka menyampaikan tentang bahaya rabies dan sebagainya yang masalah-masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat setempat,” ujarnya.

Warga Dobo Kesulitan Air Pascagempa

Ketua BPD Desa Iantena, Vensilia Aurelia Nona Onci, mengatakan warga RT 01 Kampung Dobo selama ini mengandalkan air hujan sebagai sumber air minum.

“Di RT 01, kami di sini ada 34 KK. Dan sumber air minum kami itu dari air hujan,” kata Vensilia.

Menurut dia, gempa 15 Agustus lalu menyebabkan sejumlah bak penampung air warga mengalami kerusakan.

“Ada sekitar 3 sampai 4 bak. Bahkan ada beberapa bak yang keretakannya cukup besar sehingga air di bak itu kering langsung,” ujarnya.

Warga kemudian terpaksa membeli air tangki dan menumpang menggunakan bak milik warga RT 02.

“Kalau kami beli tangki dan taruh di RT 02, itu harganya 1 tangki Rp 175.000,” katanya. Sementara jika air dibawa sampai Kampung Dobo, harga satu tangki bisa mencapai Rp 350.000.

Perbedaan harga tersebut, menurut Vensilia, dipengaruhi kondisi jalan dan medan yang sulit.

“Ya karena mungkin kondisi jalan, jarak juga,” katanya.

Untuk mendapatkan air dari RT 02, warga harus menempuh jarak sekitar 500 hingga 600 meter.
Bagi warga yang tidak memiliki bak air, solusi lainnya adalah meminta air kepada tetangga.

“Itu pastilah minta sama tetangga,” kata Vensilia.

Menurutnya, warga juga kerap patungan membeli air tangki.

Mata Air Ikut Mengering
Vensilia mengatakan warga tidak memiliki banyak pilihan sumber air selain air hujan dan air tangki.

“Ada memang mata air, tapi mata air itu kayak mata air curah hujan. Jadi ketika musim panas begini, mata airnya kering,” ujarnya.

Karena itu, warga terpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi kami tidak bisa mengonsumsi dari situ. Terpaksa kami harus beli air tangki,” katanya.

Kepala Dusun Dobo, Hendrikus Hengki Yuvaldi, mengatakan, Dusun Dobo terdiri dari empat RT dengan jumlah sekitar 135 kepala keluarga.

Menurut dia, persoalan kekurangan air sebenarnya sudah terjadi setiap musim kemarau. Namun, gempa membuat situasi semakin sulit karena sejumlah bak penampung air mengalami kerusakan.

“Sebelum-sebelumnya kalau sudah musim-musim begini pasti ya mengalami kekurangan air bersih. Tapi setelah kemarin adanya peristiwa gempa ini, kami khususnya untuk RT 01 Dobo ini, itu ada sekitar 3atau 4 bak yang retak akibat gempa kemarin,” ujarnya.

Hendrikus mengatakan satu tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter yang dibawa sampai Kampung Dobo dapat mencapai Rp 400.000.

“Kalau untuk Kampung Dobo sendiri, itu air satu tangki yang isinya sekitar 5.000 liter, kami di sini Rp 400.000,” ujarnya.

Persoalan tidak berhenti pada mahalnya harga air. Kondisi jalan menuju kampung juga membuat mobil tangki tidak lagi dapat masuk.

“Kalau kemarin yang pas jalan tani pertama dibuka, itu memang mobil bisa masuk, mobil tangki bisa masuk. Tapi karena cuaca, curah hujan, habis jalan juga sudah rusak begini, untuk 2 tahun belakangan ini mobil tangki tidak bisa masuk lagi,” jelasnya.

Warga kemudian mengambil air yang diturunkan di RT 02.

“Kami tetap pakai tangki, tapi kami taruhnya di bawah, di kampung sebelah. Itu di RT 02,” katanya.

Untuk membawanya ke rumah, warga menggunakan jeriken, memikul, atau menggunakan sepeda motor.

“Kalau ada motor, pakai motor,” ujar Hendrikus.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

NPS Peduli Gelar Donor Darah, Cek Kesehatan dan Bagikan 100 Paket Sembako untuk Warga Desa Hoder, Sikka
Perpamsi Bantu Lima Perumda Air Minum di NTT Terdampak Gempa Flores
NU Care-LAZISNU Sikka Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Mekeng Detung
PMI Malaka Seberangi Laut Bawa Pengobatan Gratis dan Sembako, Warga Pulau Dambila-Pangabatang Berterima Kasih
Ekspedisi Kemanusiaan PMI Malaka, Baksos Kesehatan dan Bagi Sembako untuk Warga Terdampak Gempa di Desa Koja Doi, Sikka
Jokowi Beri Bantuan 4.000 Sak Semen, 3.000 Lembar Seng, dan 100 Tandon Air untuk Korban Gempa Palue
Walaupun Tanpa Dokter, Puskesmas Palue, Sikka Jadi Tumpuan Warga Pascagempa, Tangani 15 Korban dan Rujuk 7 Pasien
Mantan Presiden Jokowi Dijadwalkan Berkunjung ke Sikka, Akan Tidur Bersama Pengungsi di Palue
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 28 September 2026 - 13:12 WITA

Warga Dobo Kesulitan Air Pascagempa, PMI Sikka Salurkan Air Bersih, Tandon dan Bantuan Kebutuhan Dasar

Monday, 28 September 2026 - 04:24 WITA

NPS Peduli Gelar Donor Darah, Cek Kesehatan dan Bagikan 100 Paket Sembako untuk Warga Desa Hoder, Sikka

Saturday, 26 September 2026 - 03:06 WITA

Perpamsi Bantu Lima Perumda Air Minum di NTT Terdampak Gempa Flores

Thursday, 24 September 2026 - 03:40 WITA

NU Care-LAZISNU Sikka Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Mekeng Detung

Tuesday, 22 September 2026 - 09:44 WITA

PMI Malaka Seberangi Laut Bawa Pengobatan Gratis dan Sembako, Warga Pulau Dambila-Pangabatang Berterima Kasih

Berita Terbaru