MAUMERE–TAJUKNTT- Memasuki hari keenam hilangnya dua orang nelayan Anwar Mahmud dan Norisius Sapa di perairan Pantai Selatan, Kabupaten Sikka, pihak keluarga korban meminta pemerintah uuntuk mengerahkan armada besar dan helikopter untuk mempercepat proses pencarian.
Kedua nelayan ini diketahui pergi melaut pada Minggu, 25 Januari 2025 dan dilaporkan hilang pada Senin, 26 Januari 2026. Tim SAR gabungan pun telah melakukan proses pencarian namun hingga hari ini, Sabtu, 31 Januari 2026, belum membuahkan hasil.
Allan Golkar, keluarga korban mengapresiasi kehadiran awal Basarnas, keluarga menilai peralatan yang dikerahkan tidak sebanding dengan ganasnya medan pencarian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia mengatakan armada kecil yang digunakan saat ini sangat tidak mungkin untuk menembus ombak besar Samudra Hindia di Pantai Selatan.
“Kami akui pemerintah peduli dengan datangnya BASARNAS di hari kedua. Tetapi dengan armada yang begitu kecil menembus ganasnya lautan Pantai Selatan, itu sangat tidak mungkin. Kami butuh armada yang lebih besar,” ujar Alan saat ditemui di bibir pantai Desa Paga, Kecamatan Paga, Jumat, (30/1/2026).
Keluarga sempat menaruh harapan besar pada penggunaan helikopter yang sempat disampaikan kepada Wakil Bupati Sikka untuk memantau dari udara, namun hingga kini hal tersebut belum terealisasi.
“Kami kecewa dengan Pemerintah, dua hari lalu Pak Wakil datang kesini dan kami sempat diskusi untuk menggunakan helikopter. Beliau sempat menyebut akan berkoordinasi tapi hingga saat ini tidak pernah ada,” jelasnya.
Allan Golkar berharap kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT agar lebih serius untuk menanggapi masalah ini.
“Saya minta Pemerintah lebih serius, jangan datang ke Paga hanya untuk formalitas dan foto-foto untuk laporan. Datang harus bawa solusi,” tegasnya kecewa.
Melihat keterbatasan armada yang diturunkan oleh pemerintah melalui Basarnas, warga setempat tidak tinggal diam melihat kondisi ini. Sejak kemarin, Selasa, 27 Januari 2026 pagi warga mengumpulkan uang secara sukarela.
Allan Golkar menyebut uang tersebut digunakan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), makanan, dan air minum bagi nelayan yang ikut serta dalam pencarian secara mandiri.
Aksi ini bertujuan untuk meringankan keluarga korban, dan mendukung proses pencarian para nelayan di lapangan.
“Kami kumpul uang dari rumah ke rumah, hingga ada yang pegang kotak dan berdiri di jalan. Ada juga yang open donasi, ini uang untuk dua kapal motor nelayan beli solar dan makanan dalam upaya pencarian korban, ” ungkapnya.
Lanjut Allan, pada Rabu, (28/1/2026) pagi dua kapal motor nelayan Ndori Kabupaten Ende ikut bergerak menyisir perairan Paga hingga ke perairan Lembata, dan Solor selama dua malam.
“Dua hari lalu mereka sampai di perairan Lembata dan Solor. Mereka menyisir selama dua malam dan akhirnya pulang dengan tangan kosong,” katanya.
Hingga kini menurut Allan, belum ada kapal motor yang turun ke laut untuk mencari. Hal ini terkendala logistik operasional seperti BBM dan makanan untuk nelayan yang membantu pencarian.
“Kami hari ini kembali kumpulkan dana, kalau sudah cukup untuk beli BBM dan untuk makan maka para nelayan kembali turun,” jelasnya.
Keluarga juga menyoroti kunjungan Wakil Bupati Sikka dan Kepala Dinas BPBD yang dinilai hanya sebatas diskusi tanpa solusi konkret.
Alan mengibaratkan penanganan pemerintah saat ini seperti mendiagnosis penyakit tanpa memberikan obat.
“Sakit kepala bukan hanya omong bilang ‘Bapak sakit kepala begini’, tidak. Butuh minum obat. Itu tindakan yang kami butuh, bukan persoalan retorika,” tegas Alan.









