Hari Buruh 2026: Tedi Woga Dorong Buruh di Sikka Bersatu dalam Serikat, Lawan Ketakutan dan Perjuangkan Hak

- Reporter

Jumat, 1 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

MAUMERE, TAJUKNTT-Momentum Hari Buruh Internasional 2026 dimanfaatkan pemerhati buruh di Kabupaten Sikka untuk mendorong kesadaran kolektif pekerja agar mulai terorganisir dalam wadah serikat.

Pemerhati Buruh Kabupaten Sikka, Tedi Woga, menegaskan bahwa salah satu persoalan mendasar yang dihadapi pekerja saat ini adalah lemahnya organisasi buruh, sehingga mereka kerap menghadapi persoalan ketenagakerjaan secara sendiri-sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengatakan, keberadaan serikat pekerja sangat penting agar buruh bisa saling berbagi pengalaman, memperkuat posisi tawar, serta memperjuangkan hak sesuai ketentuan yang berlaku.

“Salah satu yang menjadi keresahan sekaligus harapan kita adalah para buruh di Kabupaten Sikka terorganisir, sehingga ketika ada persoalan, mereka bisa saling sharing di antara mereka untuk saling menguatkan, berikutnya mereka bisa menuntut hak mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Menurut Tedi, masih banyak pekerja yang belum memahami hak-hak mereka, terutama ketika terjadi perubahan regulasi di bidang ketenagakerjaan.

“Kadang-kadang mereka tidak tau, maka mereka pasti sangat mengharapkan ketika ada perubahan undang-undang apa saja terkait ketenagakerjaan, mereka harus tau itu,” katanya.

Meski demikian, ia melihat adanya perkembangan positif terkait kesadaran berserikat. Dalam proses pendampingan yang dilakukan, sejumlah kelompok pekerja mulai menunjukkan antusiasme untuk membentuk komunitas maupun serikat.

Ia mencontohkan kelompok buruh darat di Pelabuhan L. Say yang dinilai cukup progresif dalam membangun wadah bersama.

“Terkait kesadaran berserikat, saya melihat dari perjalanan kami membentuk serikat buruh, sementara berproses ini, mereka mempunyai antusias yang luar biasa. Salah satu contoh itu, kelompok buruh darat di Pelabuhan L.Say, mereka antusias membentuk komunitas buruh, itu bisa menjadi contoh bagi pekerja di lembaga atau perusahaan lain membangun diri dalam wadah serikat pekerja,” jelasnya.

Pemerhati Buruh Kabupaten Sikka, Tedi Woga

Namun di sisi lain, Tedi mengakui bahwa pembentukan serikat pekerja di tingkat internal perusahaan masih belum kuat. Ia menilai masih ada sikap individual dan kurangnya solidaritas di antara pekerja.

“Pembentukan serikat pekerja internal belum terlalu kuat, saya rasa ini yang mesti dibangun, karena kadang di antara mereka juga saling sikut, katakanlah seperti itu, kita mau mereka ada kebersamaan rasa, sehingga ketika ada satu yang disakiti, mereka bisa bersama untuk membantu menyelesaikan,” ungkapnya.

Selain itu, faktor ketakutan juga menjadi hambatan besar bagi pekerja untuk bersuara. Banyak buruh enggan melaporkan pelanggaran yang mereka alami karena khawatir kehilangan pekerjaan.

“Ada kondisi buruh di Sikka di mana dia mau melaporkan masalah ketenagakerjaan yang dia alami, namun dia dibayangi ketakutan ‘jangan sampai saya terdepak dari tempat itu’. Alasannya memang karena lahan pekerjaan di Sikka masih kurang sekali, sehingga untuk menuntut itu, mereka tidak berani,” katanya.

Menurutnya, realitas sempitnya lapangan kerja membuat posisi tawar buruh menjadi lemah.

“Dari pada saya menuntut dan saya dikeluarkan, yang nganggur, yang antri di belakang itu masih banyak,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap peringatan Hari Buruh Internasional tahun 2026 di Kabupaten Sikka tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif pekerja.

“Salah satu harapan peringatan Hari Buruh Internasional ini, setiap pekerja membangun diri dalam komunitas dan serikat pekerja bila perlu,” pungkasnya.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hingga April 2026, Ada 15 Kasus Hubungan Industrial di Sikka, Didominasi PHK
Lonjakan Kasus Bunuh Diri di Sikka, Psikiater Soroti Lemahnya Penanganan Kesehatan Jiwa
Hari Buruh 2026: Upah Rendah Masih Marak di Sikka, Buruh Takut Lapor karena Ancaman PHK
Kapolres Sikka Minta Maaf Usai Bantuan Sembako Ditolak Keluarga Korban STN dan 10 Suku Romanduru
Keluarga Korban STN dan 10 Suku Romanduru Tolak Bantuan Sembako dari Kapolres Sikka, Dianggap “Pire” dalam Adat
Seorang PPPK di Sikka Ditemukan Meninggal Gantung Diri, Tinggalkan Sepucuk Surat Permohonan Maaf untuk Istri dan Anak
Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Dorong Perda Disabilitas di Sikka saat Penyerahan Bantuan Kursi Roda
PDI Perjuangan Sikka Siapkan Kader Tangguh, Yunus Takandewa: Harus Adaptif di Era Digital
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 05:34 WITA

Hingga April 2026, Ada 15 Kasus Hubungan Industrial di Sikka, Didominasi PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 04:21 WITA

Lonjakan Kasus Bunuh Diri di Sikka, Psikiater Soroti Lemahnya Penanganan Kesehatan Jiwa

Jumat, 1 Mei 2026 - 04:09 WITA

Hari Buruh 2026: Tedi Woga Dorong Buruh di Sikka Bersatu dalam Serikat, Lawan Ketakutan dan Perjuangkan Hak

Jumat, 1 Mei 2026 - 04:06 WITA

Hari Buruh 2026: Upah Rendah Masih Marak di Sikka, Buruh Takut Lapor karena Ancaman PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 02:26 WITA

Kapolres Sikka Minta Maaf Usai Bantuan Sembako Ditolak Keluarga Korban STN dan 10 Suku Romanduru

Berita Terbaru