MAUMERE-TAJUKNTT-Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Kikin Purnawirawan Tarigan Sibero, mendorong Pemerintah Kabupaten Sikka segera menghadirkan Peraturan Daerah (Perda) Disabilitas sebagai bentuk perlindungan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.
Dorongan tersebut disampaikan saat menghadiri penyerahan bantuan asistensi rehabilitasi sosial dari Kementerian Sosial di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Rabu (29/4).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, keberadaan Perda Disabilitas menjadi kebutuhan mendesak agar hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi secara sistematis dan berkelanjutan.
“Yang perlu disegerakan adalah Perda Disabilitas, pendataan yang akurat, serta rumah singgah (SR) yang dapat menerima warga disabilitas,” tegasnya.
Kikin menekankan, pendataan yang akurat sangat penting agar program bantuan dan intervensi pemerintah tepat sasaran.
Selain itu, rumah singgah dinilai dapat menjadi solusi sementara bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan perlindungan.

Ia juga mengungkapkan bahwa ke depan akan hadir kebijakan pemerintah terkait konsesi atau bantuan bagi penyandang disabilitas.
Bantuan tersebut tidak hanya berupa alat bantu seperti kursi roda, tetapi juga mencakup bantuan sosial, perlindungan sosial, serta berbagai bentuk dukungan lainnya.
Selain itu, pembentukan Forum Disabilitas Sikka yang diakui oleh pemerintah daerah juga dinilai penting sebagai wadah perjuangan dan penyalur aspirasi penyandang disabilitas.
Di tengah dorongan kebijakan tersebut, kisah para penerima bantuan menjadi potret nyata kondisi di lapangan. Senyum haru tak mampu disembunyikan Odilia saat duduk di kursi roda barunya di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Sikka.
Bantuan yang diterimanya bukan sekadar alat bantu, melainkan pintu kecil menuju kemandirian yang selama ini ia rindukan.
“Saya bersyukur sekali bisa duduk di kursi roda ini. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah peduli,” ujarnya lirih, namun penuh makna.
Kisah serupa juga dirasakan Paulus Pajung. Dengan kursi roda yang kini dimilikinya, ia merasa hidupnya mulai berubah.
“Paling tidak, saya bisa lebih mandiri di rumah dan tidak terlalu bergantung pada keluarga,” tuturnya.
Namun, di balik penyerahan bantuan tersebut, tersimpan realitas yang lebih luas. Masih banyak penyandang disabilitas di Kabupaten Sikka yang belum tersentuh layanan serupa.
Odilia dan Paulus pun menyuarakan harapan yang sama, agar perhatian terhadap kelompok disabilitas semakin ditingkatkan, baik melalui bantuan langsung maupun kebijakan yang berpihak.









