MAUMERE-TAJUKNTT-Kasus bunuh diri di Kabupaten Sikka terus menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2026, tercatat lima kasus bunuh diri. Satu kasus dilaporkan terjadi pada Januari, sementara empat lainnya terjadi sepanjang bulan April, melibatkan korban dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pekerja swasta, hingga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Psikiater RSUD Tc. Hillers Maumere, dr. Petrus Agustinus Seda Sega, MM, Sp.KJ, dalam keterangannya yang diterima Tajuk NTT, Jumat (1/5/2026), menegaskan bahwa kasus bunuh diri di Sikka tidak dapat dipandang semata sebagai fenomena sosial biasa. Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak dari sistem penanganan kesehatan jiwa yang belum berjalan optimal selama ini, sehingga memerlukan perhatian dan pembenahan serius dari berbagai pihak.
“Kalau sistemnya tidak jalan,kasus ini akan terus terjadi,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, minimnya kerjasama lintas sektor menjadikan kasus gantung diri di Sikka terus berulang.
“Terdapat empat pilar utama yang harus dijalankan secara terintegrasi oleh hingga kini belum terlihat optimal di lapangan,” kata Petrus.
Langkah pertama yang harus diambil menurutnya adalah edukasi yang masif kepada masyarakat tentang kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri mencakup upaya menghapus stigma melakukan screening, serta memberikan pemahaman luas kepada publik.
“Hal ini harus dijalankan oleh Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, puskesmas, pendamping desa, hingga LSM.”
Selain itu, pihak terkait melakukan langkah preventif yang menyasar kelompok rentan seperti pelajar, mahasiswa, korban kekerasan, hingga masyarakat dengan tekanan ekonomi.
“Langkah ini menuntut adanya screening rutin, sistem rujukan yang jelas, serta penguatan lingkungan sosial sebagai support system,” ujar Petrus.
Langkah selanjutnya adalah kuratif, dimana pihak terkait melakukan penanganan medis terhadap individu yang sudah mengalami gangguan kesehatan jiwa atau berisiko tinggi melakukan bunuh diri.
Hal ini, kata dia, menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, termasuk dokter, psikolog, dan psikiater.
“Langkah terakhir adalah rehabilitatif, yakni memastikan pasien yang telah menjalani pengobatan bisa kembali berfungsi di masyarakat secara produktif.”
Meski demikian, dr. Petrus mengatakan realitas di Sikka menunjukkan bahwa keempat sistem ini belum berjalan efektif.
“Sistem sudah ada tetapi belum jalan,” terangnya.
Pola yang Terus Berulang
Dalam waktu kurang dari 36 jam, dua kasus bunuh diri terjadi secara beruntun di wilayah ini.
Kasus terbaru terjadi pada Kamis, 30 April 2026 sekitar pukul 11.30 WITA, ketika seorang pria berinisial YF (39), buruh harian lepas, ditemukan meninggal dunia akibat dugaan gantung diri di rumahnya di Desa Wairkoja, Kecamatan Kewapante.
Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah tragedi yang menimpa seorang pelajar perempuan berinisial HKN (13), yang ditemukan tewas tergantung di pohon pala di Desa Kajowair pada Rabu dini hari, 29 April 2026 pukul 00.25 WITA.
Dunia Pendidikan Ikut Terdampak
Yang lebih memprihatinkan, kasus bunuh diri di Sikka tidak hanya menimpa masyarakat umum, tetapi juga telah menyasar dunia pendidikan.
Sebelumnya, pada Minggu, 12 April 2026, seorang guru berinisial Y.A (34) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di rumahnya di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae.
Korban diketahui baru saja tiba dari Kupang beberapa jam sebelumnya. Ia merupakan guru PPPK di SMP Nuba Arat dan tinggal seorang diri. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tubuh masih hangat, nyawanya tidak tertolong.
Peristiwa ini menambah daftar panjang tragedi yang melibatkan tenaga pendidik—pilar utama dalam pembangunan generasi muda.
Sementara itu, kasus yang menimpa pelajar berusia 13 tahun menjadi alarm keras bahwa anak-anak sekolah kini masuk dalam kategori paling rentan, sebagaimana ditegaskan oleh psikiater.
Penulis: Mia Margaretha Holo
Editor: Redaksi









