PGRI dan TaGSi Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dikatai “Monyet” oleh Oknum Pegawai Kemenag Sikka, Sebut Ada Indikasi Rasis dan Bullying

- Reporter

Thursday, 6 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto:Pengurus PGRI Kab.Sikka dan TaGSi Kab.Sikkaa dalam konfrensi pers, Kamis (6/8/2026) pagi.

Keterangan foto:Pengurus PGRI Kab.Sikka dan TaGSi Kab.Sikkaa dalam konfrensi pers, Kamis (6/8/2026) pagi.

MAUMERE-Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sikka bersama Ikatan Guru Sertifikasi Indonesia (TaGSi) Kabupaten Sikka mengecam keras dugaan penghinaan terhadap seorang guru agama Katolik SMPN Kewapante, Marselinus Atapuken, yang mengaku dikatai “monyet” oleh seorang oknum pegawai di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka.

Sikap tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang dihadiri Ketua Pelaksana PGRI Cabang Sikka, Fransesko Losi, Wakil Ketua TaGSi Kabupaten Sikka, Benediktus Bensi, pengurus TaGSi Sikka Ritwan Bas Putra dan Yohanes Lidi di SDN Wairotang, Kamis (6/8/2026) pagi.

Ketua TaGSi Sikka sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Sikka, Fransesko Losi, mengatakan organisasi guru telah berkoordinasi setelah menerima laporan langsung dari korban setelah insiden tersebut terjadi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Beliau menelepon kami dan bertanya bagaimana sikap PGRI maupun TaGSi. Saat itu saya sampaikan bahwa organisasi harus berkoordinasi terlebih dahulu sebelum menyatakan sikap. Hari ini kami sepakat memberikan pernyataan sikap,” katanya.

https://tajukntt.id/2026/08/04/diduga-dihina-monyet-saat-mengurus-berkas-simpatika-guru-agama-laporkan-oknum-staf-kantor-kemenag-sikka-ke-polisi/

Ia menegaskan, PGRI dan TaGSi mengecam keras perlakuan yang dialami guru Marselinus Atapuken tersebut.

“Kami mengecam keras atas perlakuan tidak senonoh terhadap salah satu teman guru kami. Satu guru tersakiti, itu menjadi sakit semua guru di Kabupaten Sikka ini. Oleh karena itu kami tidak menerima perlakuan tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, dugaan tindakan tersebut sangat mengecewakan karena terjadi di lingkungan lembaga yang seharusnya menjadi teladan dalam menjunjung etika dan moral.

“Kami sangat kecewa terhadap lembaga yang sebenarnya menjadi garda terdepan untuk menjadi contoh etika dan moral. Ternyata mereka keliru menerapkannya,” ujarnya.

Fransesko Losi mengatakan PGRI Kabupaten Sikka telah berkoordinasi dengan PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruh dokumen dan kronologi kejadian akan dikirimkan kepada PGRI Provinsi NTT untuk diteruskan kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT.

Selain itu, PGRI Kabupaten Sikka dan TaGSi juga berencana meminta Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kabupaten Sikka.

“Kami akan meminta pertanggungjawaban melalui RDP. Kami sudah berkoordinasi dengan DPRD dan mereka menyatakan siap. Tinggal kami menyurati DPRD melalui organisasi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Koordinator TaGSi Sikka, Benediktus Bensi, mengatakan, berdasarkan kronologi yang diterima dari korban, persoalan tersebut tidak hanya melibatkan seorang pegawai. Ia mengaku mempertanyakan alasan hingga korban diduga mendapat perlakuan demikian.

“Kalau saya nilai dari cerita Pak Marcel, hampir satu seksi membenci beliau. Itu menjadi catatan bagi kami, dasarnya apa sampai seperti itu. Kalau memang ada persoalan, mestinya diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Menurut Benediktus Bensi, seluruh guru merupakan satu korps yang harus saling melindungi tanpa membedakan latar belakang mata pelajaran.

“Yang namanya guru, kami adalah satu korps. Satu guru direndahkan, maka kami harus bergerak untuk menegakkan martabat guru,” katanya.

Ia juga menyoroti dugaan adanya tindakan mendorong korban keluar dari ruangan.

“Kalau benar sampai didorong keluar, menurut saya etika sudah tidak ada di situ. Hancur,” tegasnya.

Sementara itu, pengurus TaGSi Sikka, Yohanes Lidi, menilai dari cerita korban terdapat dugaan penyerangan secara verbal yang mengarah pada praktik perundungan.

“Kami melihat ada penyerangan verbal, yaitu bullying. Bullying dan rasis. Selama ini mungkin yang muncul baru soal rasis, tetapi bullying-nya belum. Bahkan kalau benar ada dorongan terhadap korban, itu juga merupakan kekerasan fisik,” katanya.

https://tajukntt.id/2026/08/04/ikatan-guru-agama-katolik-sikka-kecam-keras-dugaan-guru-dihina-monyet-desak-kemenag-bertanggung-jawab-dan-polisi-usut-tuntas/

Menurut Yohanes Lidi, organisasi guru akan memasukkan dugaan praktik bullying dan rasisme sebagai bagian dari poin penting dalam pernyataan sikap mereka.

“Pada prinsipnya kami mengutuk keras tindakan kekerasan. Mestinya Kementerian Agama menjadi penjaga moral dan etika, tetapi kalau dugaan perlakuan itu benar, maka bertentangan dengan nilai-nilai yang seharusnya mereka pegang,” ujarnya.

Sementara itu, pengurus TaGSi Sikka lainnya, Ritwan Bas Putra mengatakan, pihaknya menilai peristiwa yang terjadi di lingkungan Seksi Pendidikan Katolik (Penkat) Kantor Kementerian Agama tersebut mengarah pada dugaan aksi bullying, ujaran rasis, hingga kekerasan fisik yang dilakukan secara terencana.

​”Dari apa yang disampaikan oleh Pa Ketua, Wakil, dan yang lain, apa yang disampaikan itu seperti yang kita sama-sama dengar dari yang disampaikan oleh Pak Marcel, yang dialami oleh Pak Marcel, sepertinya mereka di Penkat itu membuat perencanaan. ​Sehingga ini namanya kejadian yang terjadi karena perencanaan. Mereka membenci dahulu, mereka menyimpan benci, lalu mereka merencanakan untuk mereka bullying dan mereka rasis,” ungkap Ritwan Bas Putra.

Lanjutnya, itu prosesnya yang pertama adalah mereka membenci. Kebencian mereka itu terhadap apa yang dilakukan itu kita tidak tahu. Kemudian mereka ingin melampiaskan kebencian itu dengan merencanakan bullying dan juga rasis.

“​Sehingga kami secara organisasi maupun saya secara pribadi, kami menolak keras itu dan mengecam bahwa itu adalah tindakan yang kurang etis. Sementara mereka adalah lembaga yang harus mengedepankan etika dan moral,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kementerian Agama Kabupaten Sikka belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan sikap Ikatan Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka, PGRI Kabupaten Sikka dan TaGSi Kabupaten Sikka tersebut. Media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Kemenag Kabupaten Sikka.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

442 Pendaftar Beasiswa “Satu KK Miskin, Satu Sarjana” Diseleksi Ketat, Kabag Kesra Setda Sikka: Hanya 327 yang Akan Ditetapkan
BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Peserta Kini Bisa Menabung untuk Bayar Iuran
Kelas Ibu Hamil di Kelurahan Kota Uneng, Edukasi Manfaat Buah Bit untuk Cegah Anemia
16 Sekolah di Sikka Terima Bantuan Revitalisasi Tahap I 2026, Ini Daftar Penerima dan Besaran Anggarannya
Membuka Jalan Masa Depan: Yoseph Karmianto Eri Prakarsai Beasiswa Pelatihan Komputer untuk Pemuda Sikka
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 6 August 2026 - 23:52 WITA

PGRI dan TaGSi Sikka Kecam Keras Dugaan Guru Dikatai “Monyet” oleh Oknum Pegawai Kemenag Sikka, Sebut Ada Indikasi Rasis dan Bullying

Thursday, 6 August 2026 - 13:08 WITA

442 Pendaftar Beasiswa “Satu KK Miskin, Satu Sarjana” Diseleksi Ketat, Kabag Kesra Setda Sikka: Hanya 327 yang Akan Ditetapkan

Wednesday, 5 August 2026 - 02:40 WITA

BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Peserta Kini Bisa Menabung untuk Bayar Iuran

Saturday, 18 July 2026 - 06:15 WITA

Kelas Ibu Hamil di Kelurahan Kota Uneng, Edukasi Manfaat Buah Bit untuk Cegah Anemia

Friday, 17 July 2026 - 08:29 WITA

16 Sekolah di Sikka Terima Bantuan Revitalisasi Tahap I 2026, Ini Daftar Penerima dan Besaran Anggarannya

Berita Terbaru