
Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) bekerjasama dengan The Samdhana Institute menyalurkan sejumlah bantuan bagi masyarakat terdampak erupsi gunung berapi Lewotobi Laki-laki di wilayah Kabupaten Sikka.
Bantuan berupa telur ayam, pampers, selimut, handuk, air mineral dan peralatan mandi diberikan kepada 114 balita di Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Senin (14/7/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Emil Soge, salah satu staf Yayasan PAPHA yang terlibat langsung dalam penyerahan bantuan tersebut mengungkapkan Desa Kringa merupakan salah satu dari lima desa di wilayah Timur Kabupaten Sikka yang terdampak langsung dari erupsi gunung berapi Lewotobi Laki-laki.
“Di Desa Kringa semua warga terdampak parah erupsi. Warga kesulitan mendapatkan air bersih, bahan makanan ikut tercemar material gunung berapi,” kata Emil kepada TajukNTT, Rabu (16/7/2025).
Hal itu menurutnya menyebabkan ekonomi masyarakat ikut terhambat akibat gagal panen.
“Tanaman seperti mete, kakao dan kelapa enggan berbuah lantaran terkena abu vulkanis. Orang tua terkendala keuangan untuk membeli kebutuhan anak. Sehingga kami bekerjasama dengan The Samdhana memberikan bantuan khusus kepada bayi balita yang ada di desa ini,” ujarnya.
Kata Emil, selain kebutuhan bayi balita, Yayasan PAPHA juga menyalurkan bantuan 17 tangki air bersih untuk masyarakat Desa Hikong dan Kringa.
“Melihat kondisi air di wilayah ini yang sudah tercemar material gunung berapi dan tidak layak dikonsumsi, kami dengan cepat mengupayakan air bersih bagi masyarakat. Dari sana kami juga mendengar keluhan mereka secara langsung mengenai kondisi kesehatan mereka pasca mengkonsumsi air yang tercampur abu vulkanis,” ujar Emil.
Cristina Yeni, warga Dusun Boganatar mengatakan bantuan berupa kebutuhan bayi sangat membantu ibu-ibu yang memiliki bayi. Keterbatasan ekonomi pasca erupsi membuat mereka tak berdaya ketika kebutuhan anak sulit terpenuhi.
“Kami berterimakasih kepada Yayasan PAPHA dan The Samdhana Institute telah membantu kami dalam hal ini memberikan beberapa kebutuhan bayi serta telur ayam dan air mineral. Ini memudahkan kami karena memang selama erupsi berlangsung sejak tahun lalu, kami mengalami kesulitan ekonomi,” kata Yeni.
Yeni berkata, tanaman penunjang ekonomi seperti kakao, mete, kelapa dan kemiri tidak berbuah karena abu vulkanik yang panas.
“Tanaman biasanya berbunga tetapi akhirnya hangus dan gugur, sehingga memang sulit sekali kami mendapatkan uang dari hasil kebun,” ungkapnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat hingga saat ini gunung berapi Lewotobi Laki-laki saat ini masih berstatus AWAS atau berada pada level IV.
Emanuel Rofinus Bere, petugas Pos Pengamatan Gunung berapi Lewotobi Laki-laki mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dan Sektoral Barat Daya – Timur laut 7 kilometer dari pusat erupsi.
“Masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan Pemda serta tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya.”
Selain itu, kata dia, masyarakat perlu mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung Lewotobi Laki-laki jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, terutama daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng jaya, Boru, Nawakote.
“Masyarakat terdampak abu vulkanis memakai masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari bahaya abu vulkanis pada sistem pernafasan,” ujar Emanuel.
Penulis:Mia Margaretha Holo
Editor:Redaksi










